
"Kamu ini kenapa, Arvy? Kenapa bisa menabrak orang?"
Marco yang baru tiba di rumah sakit terlihat khawatir sampai ia marah-marah kepada Arvy.
"Aku tidak sengaja, Kak. Tiba-tiba saja mobilku menabrak orang." Arvy menggigit kukunya sendiri.
Sejak tadi ia berdiri di depan ruangan UGD menunggu dokter memberikan pertolongan kepada Bian. Ia sangat takut jika terjadi hal yang buruk pada teman Jessy itu.
"Kamu sebaiknya cepat datang ke kantor, banyak orang yang sudah menunggumu!" perintah Marco.
"Tapi, Kak ...."
"Jangan bantah ucapanku! Kamu pergi dan aku yang akan menjaga dia di sini. Oke?"
Arvy mengangguk. Ia buru-buru mengambil mobilnya dan bergegas kembali ke kantor.
Jantungnya masih berdebar dengan kencang. Ia benar-benar menyesal telah mencelakai seseorang. Marco pasti telah menutupi apa yang menimpanya, namun rasa bersalah dalam dirinya tidak bisa hilang.
Dalam waktu yang cukup singkat akhirnya ia bisa sampai di perusahaan tepat waktu.
"Hai, Arvy," sapa Jonathan.
Arvy tak ada waktu untuk berbasa-basi. Ia mengabaikan sapaan dari Jonathan dan berlalu begitu saja. Sikapnya itu membuat Jonathan merasa tidak dihargai.
"Kenapa dia?" gumam Jonathan kesal.
Ponselnya berbunyi. Tampak nama kontak seseorang yang ia mintai tolong untuk menyelidiki Hyena waktu itu. Ia berharap kali ini ada informasi yang berguna baginya.
"Halo, Tobi, bagaimana hasilnya." tanya Jonathan dalam telepon.
"Maaf, Jo. Aku tidak menemukan informasi apapun tentang Hyena."
"Mungkin usahamu belum maksimal. Cari lagi sampai dapat!"
Jonathan kesal dan langsung mematikan ponselnya. Ia benar-benar heran mengapa tidak seorangpun bisa mengungkap identitas Hyena yang misterius.
__ADS_1
Tiba-tiba ia teringat dengan Arvy. Hyena pernah membantu Arvy membuat lagu. Ia rasa Arvy tahu sesuatu tentang Hyena. Namun, meskipun Arvy tau, dia tidak mungkin mau membrritahukannya.
Ia melakukan panggilan dengan ponselnya, menghubungi orang yang baru saja menghubunginya.
"Tobi, tolong kamu selidiki tentang Arvy. Dia pernah dibantu Hyena membuat lagu. Siapa tahu kamu bisa mendapatkan informasi tentang Hyena," pinta Jonathan.
"Oke, Jo. Akan aku lakukan."
***
Irene celingukan mencari keberadaan Bian di kelas. Seharusnya hari ini mereka satu kelas, namun batang hidung Bian sama sekali tidak terlihat. Biasanya Bian akan memilih duduk di sampingnya.
"Kenapa anak itu?" gumam Irene.
Ia mengambil ponselnya dan mengirimkan beberapa pesan kepada Bian berharap lelaki itu membalas pesannya. Ponselnya bergetar. Masuk satu panggilan dari Ron.
"Kenapa, Ron?" tanya Irene.
"Nona, hacker yang kemarin kembali mencoba mengusik sistem kita lagi."
"Tunggu aku datang. Perkuat sistem keamanannya!" pinta Irene.
Segera Irene kembali menemui Bonbon dan Ron. Ia mengecek sistem keamanan yang berusaha dibobol hacker. Ia berusaha memperbaiki sistem yang berhasil diretas agar sistem keamanannya tidak bisa dikuasai hacker lawan.
"Apa kamu kira-kira tahu siapa orang ini, Ron?" tanya Irene.
"Tidak, Nona. Dia selalu menggunakan alamat IP yang berbeda-beda sehingga sangat sulit dilacak."
Tiba-tiba Irene menemukan sebuah pesan rahasia yang hendak disampaikan padanya dengan bahasa sandi dari hacker tersebut.
"Jika penasaran denganku, temui aku di XXX pada hari XXX."
Irene menyembunyikan pesan itu dari kedua anak buahnya. Ia tidak terlalu terbebani denhan pesan dari hacker itu karena sepertinya sang hacker tidak berniat buruk padanya.
***
__ADS_1
Irene mengunjungi sebuah villa terpencil di pinggiran kota. Tampak dari luar, pagar yang mengelilingi bangunan itu tampak berlumut dan ditumbuhi tanaman merambat.
Ketika Irene membuka gerbang villa, dua ekor anjing Collin hitam berlari menghampirinya. Mereka seakan telah hafal dengan Irene sehingga kegirangan dengan kehadiran Irene.
"Tobi, Vivi, kalian apa kabar?" Irene mengelus kedua anjing itu dengan penuh rasa sayang.
"Irene?" sapa seseorang.
Irene melihat ke arah depan pintu villa. Lelaki yang menunggunya adalah ayah angkatnya yang kebetulan tengah berkunjung ke sana.
"Ayah Angkat," seru Irene seraya berlari memeluk lelaki paruh baya itu.
Ayah Angkat mengerutkan dahi melihat penampilan Irene yang sangat jelek. Ia bahkan hampir tak mengenalinya.
"Kamu kenapa jadi begini?" tanyanya.
Irene menunjukkan senyuman lebar. "Tidak apa-apa. Aku hanya merasa ini seru berpenampilan seperti ini," kilahnya.
"Bagaimana menurutmu kemampuan orang yang kamu hadapi? Apa kamu terkejut?" tanya ayah angkat.
Irene tersenyum. Ia masih belum menyangka keisengan ayah angkatnya sampai mengirimkan hacker untuk mengusiknya. "Ayah Angkat sungguh keterlaluan, aku sampai kesusahan karena hal itu," protesnya.
"Hahaha ... Mengganggumu memang cukup menyenangkan. Apalagi kamu hampir tidak pernah menemui ayah lagi."
Ayah angkat Irene seakan sedang balas dendam karena Irene tidak pernah menghubunginya sejak kembali ke tanah air.
"Oh, iya. Ayah ingin mengenalkan seseorang padamu," katanya.
Irene mengerutkan dahi. "Siapa?" tanyanya penasaran.
"Nanti kamu akan tahu."
Ayah angkat mengajak Irene masuk ke dalam rumah. "Bryan, kemari!" ia memanggil seorang lelaki yang tengah makan di ruang makan.
Lelaki itu terlihat tampan dan seumuran dengan Irene. Melihat penampilan jelek Irene, lelaki itu memandanginya dari atas hingga bawah. Sepertinya dia heran kenapa Irene bisa ada di sana.
__ADS_1
"Irene, kenalkan, ini Bryan," kata ayah angkat.