Wanita Milik 5 Tuan Muda

Wanita Milik 5 Tuan Muda
Bab 29: Jenius yang Tersembunyi


__ADS_3

"Pak Wibowo Budiman!" seru Irene kegirangan saat melihat dosennya muncul dari arah dalam.


Pak Wibowo membenarkan letak kacamatanya, memperhatikan secara seksama wanita muda yang mencarinya. "Kamu siapa?" tanyanya.


"Saya salah satu mahasiswa Bapak." Irene menjawabnya dengan percaya diri.


"Mahasiswa saya ada banyak, mana saya kenal."


Irene agak kesal juga dijawab ketus oleh dosennya. "Nama saya Irene Abraham, Pak ...." Ia tetap berusaha tersenyum kepada sang dosen.


"Ikut saya ke belakang. Kalau ada kamu warung saya malah jadi tidak laku."


Irene membuntuti Pak Wibowo ke belakang. Ternyata, di area belakang ada taman dan rumah tinggal sang dosen. Tampak dari depan, warungnya kelihatan sangat jelek. Berbeda dengan bagian dalamnya yang asri dan cukup nyaman untuk tempat tinggal.


"Dari mana kamu tahu kalau saya tinggal di sini?" Pak Wibowo bertanya sembari membaca sekilas tugas yang baru Irene kumpulkan. "Hanya orang-orang tertentu saja yang tahu saya tinggal di sini."


"Bapak kalau di rumah kelihatan kalem, ya ... padahal di kampus galaknya tidak ada tandingan," sindir Irene.


Pak Wibowo memberikan lirikan tajam.


"Hehehe ... maaf ya, Pak. Saya hanya berbicara jujur." Irene melebarkan senyumnya.


"Jadi, siapa yang memberi tahu kamu tempat tinggalku?"


"Ares, Pak." Irene menjawab dengan jujur.


"Oh, anak bandel itu," gumam Pak Wibowo. "Sekarang ini sudah jauh lebih baik anak itu. Biasanya bikin ulah terus kalau di kampus, apalagi kalau sudah membahas tentang klab basketnya. Herannya lagi dia mau-maunya ya, mengantar kamu ke sini. Rasanya aneh melihat kedekatan kalian."


"Hehehe ... kenapa aneh, Pak? Karena saya jelek, ya?" tanya.


"Ya, itu kamu sudah sadar diri."


Irene hanya senyum-senyum berbicara dengan Pak Wibowo. Lelaki itu cukup asyik diajak ngobrol. Benar-benar jauh berbeda dengan citra Pak Wibowo di kampus. Setiap perkuliahan, pasti mahasiswa habis dibentak-bentak. Tugas yang diberikan banyak seakan ingin menyiksa mahasiswanya.

__ADS_1


"Jawab jujur, ya ... kamu sebenarnya siapa?" Wajah Pak Wibowo tampak serius.


Irene mengerutkan dahi. "Saya Irene Abraham, Pak ...."


"Kamu sebenarnya sedang menyamar, kan? Jadi mata-mata atau bagaimana sampai harus masuk kampus dan menjadi mahasiswa saya?"


Irene terdiam. Bahkan untuk bernapas rasanya tidak berani. Matanya melirik ke sana ke sini untuk menyembunyikan kegugupannya. Penyamaran yang sudah dilakukan dengan begitu apik, apakah sangat gampang diketahui oleh dosennya?


"Tugas-tugas yang kamu berikan hampir sempurna, bahkan apa yang kamu tuliskan seakan sedang mendeskripsikan isi kepala saya. Ada bagian-bagian yang sengaja kamu buat keliru agar tugasmu tidak terlalu perfect."


Irene tertegun. Pak Wibowo memang bukan dosen yang bisa diremehkan. Pada usianya yang hampir mendekati pensiun, fisiknya masih terlihat bugar meski tanda-tanda penuaan sudah memenuhi wajah dan rambutnya. Akan tetapi, intuisinya begitu tajam sampai bisa menilai kualitas diri Irene dengan tepat.


"Sebenarnya saya dibantu oleh Bian dan Ares untuk mengerjakan tugas-tugas saya selama ini." Irene berusaha mengelak.


Pak Wibowo terkekeh. "Kamu pikir saya tidak lebih tahu tentang mereka? Sebelum kamu masuk kampus, saya sudah lebih dulu mengajar mereka. Jadi, saya bisa tahu kualitas tugas yang mereka buat."


Apa yang dikatakan Pak Wibowo ada benarnya. Irene memang anak baru di kampus. Meskipun jumlah mahasiswanya banyak dan selalu silih berganti, pasti tetap ada beberapa murid yang membekas dalam ingatan seorang guru. Terutama jika murid itu memiliki karakter atau ciri khas yang berbeda dari kebanyakan murid lainnya.


"Em, apa tugas saya masih Bapak terima? Saya harus segera pulang karena Ares masih menunggu di depan." Irene berusaha mengalihkan perhatian. Ia ingin cepat pergi dari sana agar tidak didesak terus oleh Pak Wibowo.


"Ajak sekalian Ares ke dalam. Aku juga mau menanyakan padanya apa dia mengenalmu atau tidak."


Irene membulatkan mata. "Pak ...," rengeknya.


"Makanya katakan dengan jujur kami siapa dan kenapa masuk ke kampus?"


"Saya bukan mata-mata, Pak. Saya hanya orang biasa. Bapak tidak perlu khawatir kalau saya ******* yang akan mengebom kampus. Saya ini cinta damai orangnya." Irene berbicara dengan nada cepat dan tegas.


"Kamu pasti sudah pernah kuliah sebelumnya." Pak Wibowo memotong ceritanya. "Dikampus mana dulu kamu belajar? Siapa nama dosenmu sebelumnya?"


Irene tidak bisa menghindar lagi. Sang dosen akan terus mencecarnya jika ia tak mau berkata jujur. Ia menarik napas sebelum berbicara. "Saya memang sudah pernah kuliah di luar negeri, Pak. Mengambil double major di universitas XXX jurusan IT dan manajemen."


Pak Wibowo mendengarkan perkataan Irene dengan serius. "Kamu kuliah umur berapa? Bukankah sekarang usiamu masih 21 tahun?" Ia agak kaget dengan cerita Irene.

__ADS_1


"Sekitar umur 15 atau 16 tahun."


Lak Wibowo tampak kagum, tidak menyangka salah satu mahasiswanya ada yang jenius seperti Irene. "Pantas saja pemikiranmu berbeda dengan mahasiswa lainnya," pujinya. "Lalu, kenapa kamu harus masuk kampus lagi? Bukankah membosankan mengulang kembali hal yang sama?"


Irene menggeleng. "Kuliah cukup menyenangkan untuk mengisi waktu saya, Pak."


"Hahaha ...." Pak Wijaya masih tidak percaya ada mahasiswa yang sengaja masuk kembali ke tempat yang biasanya dianggap neraka. Orang kalau sudah lulus kuliah pasti tidak akan mau lagi mengulang, berbeda dengan Irene. "Yakin, hanya itu alasannya?"


"Saya memiliki alasan lain yang tidak bisa saya katakan. Tapi, Bapak tidak perlu khawatir karena saya tidak akan membuat kerusuhan di kampus. Saya hanya ingin numpang belajar saja."


"Ya, saya tahu. Terserah padamu saja. Itu memang urusanmu. Saya tidak akan ikut campur. Tugasmu saya terima." Pak Wibowo memberikan senyumannya.


"Terima kasih, Pak." Irene bisa bernapas lega. Rahasia di tangan Pak Wibowo pasti aman. Beliau orang yang memegang ucapannya.


"Sekarang, kamu boleh pulang." Pak Wibowo mempersilakan Irene pulang.


"Em, Pak ... boleh saya menanyakan sesuatu sebelum pulang?" tanya Irene.


"Silakan, tanya saja ...."


"Saya boleh beli makanan di depan kan, Pak? Soalnya saya lapar belum sempat sarapan ...." Irene memegangi perutnya yang mulai terasa melilit.


"Hahaha ...."Pak Wibowo tidak bisa menahan tawanya. Ia kira Irene akan menanyakan hal yang serius. "Tentu saja boleh, makanlah sepuasmu. Asalkan membayar, ya. Di sini tidak menerima hutang."


"Kalau boleh tahu, dua wanita yang berjualan di depan siapa, Pak?" Sejak tadi Irene sangat ingin menanyakannya.


"Mereka istri saya."


Irene membulatkan mata saking terkejutnya. "Serius, Pak? Istri Bapak dua?" Mulut Irene sampai ternganga saking terkejutnya. Diam-diam dosen itu sudah memiliki dua istri.


"Serius ... mereka istri saya. Kamu mau juga? Kalau minat masih bisa jadi yang ketiga," gurau Pak Wibowo.


Irene memutar malas bola matanya. "Tidak, Pak. Terima kasih. Saya mau numpang makan saja. Permisi, Pak." Ia langsung buru-buru keluar meninggalkan Pak Wibowo. Horor juga kalau diminta menikahi lelaki paruh baya itu. Lima tuan muda nan ganteng saja masih belum bisa ia terima sebagai calon suami, apalagi yang sudah tua.

__ADS_1


__ADS_2