
Irene terus memandangi wajah lelaki yang kini tengah menggandeng tangannya dan membawanya berlari. Deru suara tembakan sesekali masih terdengar. Mereka merunduk saat ada serangan yang entah datang dari mana, menghindari tembakan.
Klek!
Langkah mereka terhenti. Tiba-tiba seorang lelaki muncul menodongkan senjata ke arah mereka. Dengan senyum seringainya, lelaki yang tampaknya psikopat itu kegirangan bertemu dengan orang. Dari tatapannya seolah ia ingin menghabisi kedua orang yang ada di hadapannya dengan pistol miliknya.
"Halo, senang bertemu dengan kalian," ucap lelaki itu dalam Bahasa Perancis.
Alan mengeratkan genggaman tangannya pada Irene. Ia tidak bisa gegabah menghadapi orang gila semacam itu. Di luar negeri, memang sering terjadi orang yang sengaja membuat keonaran tanpa tujuan yang jelas. Biasanya mereka mencelakai orang lain hanya untuk memuaskan dirinya sendiri.
Dor!
Belum sempat terjadi interaksi yang lebih lama, lelaki bersenjata itu telah tumbang terkena tembakan oleh seseorang.
Betapa Irene kaget mengetahui orang yang menembak lelaki itu adalah Hamish, sepupunya.
Raut wajah Hamish terlihat geram. Ia marah dengan orang yang berusaha melukai wanita yang sangat disayanginya. Dengan langkah tegasnya, ia menghampiri Irene. Lelaki itu sangat mengkhawatirkannya.
Hamish meraih tangan Irene dan menariknya ke dalam pelukan. "Dasar bodoh! Apa kamu baik-baik saja?" kesalnya.
Hamish seolah tak mempedulikan keberadaan Alan di sana. Ia hanya mengkhawatirkan Irene saja.
"Ayo kita pergi dari sini!" ajak Hamish.
"Bagaimana dengan dia?" Irene menatap tubuh lelaki yang tumbang karena tembakan Hamish.
"Biarkan saja. Paling sudah mati," ucap Hamish dengan entengnya. "Kalau dia tidak mati, kita yang akan mati," lanjutnya.
Hamish mengangkat senjata laras panjangnya. Ia mengamati keadaan sekitar sembari berjalan memandu Irene dan Alan menuju tempat keluar. Sesekali ia melepaskan tembakan saat terlihat musuh yang berusaha menyerang.
Sosok Hamish yang terlihat hangat dan penyayang berubah di mata Irene. Lelaki itu seperti manusia berhati dingin yang tanpa segan menghabisi nyawa orang dengan mudahnya. Meskipun orang-orang itu memang pantas mati, namun Irene masih syok melihat sisi lain sepupunya. Akhirnya ia bisa menyadari bahwa ucapan kakeknya bukan omong kosong belaka. Hamish seseorang yang sepertinya tidak pernah ia kenal.
Alan semakin menjaga jarak di antara mereka. Ia merasa tertekan melihat kedekatan tak biasa antara Alenta dan Hamish.
__ADS_1
Saat hampir sampai di pintu keluar, sekelompok orang berkulit putih menghadang. Mereka membawa tongkat pemukul dan benda tumpul lainnya.
Hamish kembali mengangkat senjatanya. Sayangnya, peluru di dalamnya ternyata sudah habis untuk menembaki orang-orang di dalam.
"Ah, sial!" pekiknya seraya membuang senjata yang tak lagi berguna itu. "Ayo kita hadapi dengan tangan kosong!" pinta Hamish.
Dengan gerakan agresif, Hamish maju paling depan. Ia kerahkan kemapuan terbaiknya untuk menghadapi orang-orang bersenjata tersebut. Irene dan Alan turut maju membantu menghadapi belasan berandalan yang berniat mencari ribut dengan mereka.
Meskipun mereka hanya tiga orang, namun kemampuan bela diri mereka tidak bisa diragukan. Sekalipun belasan orang dengan senjata di tangan, mampu dilibas dengan tinju dan tendangan penuh tenaga.
"Awas!"
Hamish mendorong tubuh Irene saat sebilah tongkat hampir mengenai wanita itu. Pundak kanan Hamish yang tidak luput dari pukulan benda tersebut. Rasanya cukup menyakitkan, namun ia mengabaikannya. Ia memberikan tendangan balasan yang kuat hingga orang tersebut jatuh terkapar di tanah.
"Kak Hamish tidak apa-apa?" tanya Irene khawatir.
"Tidak apa-apa. Kita harus cepat pergi dari sini!" Hamish kembali mengajak Irene melangkah. Alan mengikuti dari belakang.
Kondisi semakin tidak kondusif. Peluru masih saja bertebaran apalagi melihat gerakan ketiganya. Mereka memilih jalan keluar yang salah, di sana justru dekat dengan pusat serangan.
"Awas!"
Dor!
Hamish memeluk Irene. Peluru yang seharusnya mengenai Irene menyasar ke pundak Hamish dengan gerakan yang cepat dan tidak bisa dielakkan.
Hamish memekik menahan sakit. Darah segar langsung mengalir di pundak membasahi bajunya.
"Kak!" teriak Irene panik.
Tubuh hamish hampir limbung. Luka di pundaknya benar-benar terasa sakit. Alan sampai membantu memapahnya.
Tak lama setelah itu, anak buah Hamish datang memberi bantuan. Mereka membentuk barikade untuk mengamankan Hamish beserta Irene dan Alan. Adu tembakan terjadi semakin seru.
__ADS_1
Barikade yang dibuat bergerak secepat mungkin ke arah pintu keluar. Mereka harus secepatnya memberikan pertolongan kepada Hamish yang semakin menurun kesadarannya.
Di luar area yang lebih aman, Alan dan Irene berpisah. Irene mengikuti anak buah Hamish yang membawa sepupunya itu dengan mobil menuju rumah sakit. Alan hanya bisa terpaku di tempat melihat mobil yang membawa Irene pergi.
***
Irene kembali ke rutinitasnya seperti biasa memakai identitas Irene si hitam jelek. Liburan yang ia harapkan menyenangkan di Perancis justru berakhir membuat trauma. Akibat peristiwa yang terjadi di sana, sepupunya hampir kehilangan nyawa. Untung saja Hamish masih bisa diselamatkan.
"Orang jelek akhirnya datang juga!" sapaan Bian mengagetkan Irene. "Kamu kenapa? Kok kaget? Sedang melamun, ya?" tanya Bian.
"Nggak, masih ngantuk saja," kilah Irene.
"Kebanyakan bolos kuliah paling! Kemarin kemana lagi?" tanya Bian.
"Nggak kemana-mana, cuma semedi menenangkan diri. Capek kan, setiap hari mikir perkuliahan terus."
"Oh, iya. Arvy mau rilis album barunya. Kamu sudah tahu?"
"Oh, benarkah?" Irene terlihat tidak begitu antusias dengan topik pembahasan yang Bian angkat. Pikirannya masih terpusat pada kondisi Hamish di Perancis. Sepupunya masih mendapatkan perawatan intensif di sana.
"Kamu ajak Arvy makan bareng, dong! Kamu kan kenal dia. Banyak yang sepertinya meragukan kemampuan dia, setidaknya kita bisa menjadi orang yang bisa memberikan dukungan padanya."
Irene jadi teringat keributan yang pernah terjadi dengan teman sekelasnya yang meragukan kemampuan Arvy. Memang, Arvy kelihatannya tidak begitu bersemangat dengan projek barunya. Ia bahkan sampai membantu Arvy untuk menyelesaikan lagu barunya. Entah Arvy akan memakai lagu yang diciptakannya atau tidak.
"Aku tidak terlalu dekat dengan dia. Tapi, akan aku coba untuk mengajaknya makan bersama. Tapi, kamu yang bayar makannya, ya!" kata Irene menegaskan.
"Siap kalau untuk itu!" Bian terlihat bersemangat.
Saat mereka tiba di depan pintu ruang perkuliahan, ada Ron berdiri di sana. Tatapan mata Irene dan Ron bertemu.
"Kenapa?" tanya Bian keheranan melihat Irene tiba-tiba berhenti melangkah.
"Kamu masuk duluan saja, Bian. Aku lupa ada urusan!" Irene berbalik dan berjalan menjauh dari arah ruang kampus.
__ADS_1
Ron yang mengetahui kode Irene ikut pergi dari sana mengambil jalur lain untuk menemui Irene di luar kampus. Ia terpaksa memaksa untuk menemui Irene karena sudah lama wanita itu tidak bisa dihubungi.