
"Apa kamu mau bertemu dengan adikmu? Aku sudah menemukannya lebih dulu dari pada kakek. Dia ada di Amerika Serikat sekarang," kata Hamish.
"Kak, tolong lepaskan kakek dan nenek dulu. Jangan perlakukan mereka seperti itu," pinta Irene.
Meskipun ada sebersit kekecewaan di hatinya, Irene tetap menyayangi kakek dan nenek yang telah membesarkannya.
Hamish menyunggingkan senyum. "Hatimu memang selalu lembut sampai bisa memaafkan orang yang telah memanfaatkanmu, Irene," kat Hamish. "Tapi, aku tidak akan melakukannya selama kamu menolakku," lanjutnya.
Irene menghela napas panjang. "Kak! Bagaimana bisa aku menikahi orang yang sudah aku anggap Kakak kandungku sendiri?"
Ia tidak habis pikir kenapa Hamish bisa terpikir untuk menikah dengannya. Ternyata ucapan kakek dan Ron waktu itu telah terbukti. Rasanya merinding membayangkan Hamish yang punya perasaan lain terhadapnya setiap kali mereka berjumpa. Bagi Irene, Hamish hanyalah sebatas saudara sepupunya.
"Kalau begitu, anggap aku sebagai seorang lelaki. Aku juga tak pernah menganggapmu sebagai sepupu, Irene!" Hamish mencium pipi Irene sembari tersenyum.
__ADS_1
"Ini sangat tidak masuk akal! Kak Hamish yang aku kenal tidak seperti ini!" gumam Irene dengan lemas.
"Sejak dulu aku sudah seperti ini, Irene. Aku menyayangimu sebagai seorang wanita dan sampai saat ini perasaan itu masih sama. Aku selalu menahan diri untuk memilikimu karena permintaan kakek. Dia bilang aku tak boleh mengganggu sampai kamu tumbuh dewasa," ungkap Hamish. Ia tertawa kecil mengingat kenangan di masa lalu. "Lelaki tua itu memang menyebalkan. Sengaja membiarkanmu melakukan banyak hal termasuk bela diri. Aku rasa dia ingin membuatmu berani untuk melawanku. Kamu semakin sulit dinasihati."
"Rasa sayangku kepada Kakak bukan suatu perasaan romatis. Aku tidak mungkin bisa ...."
"Itu tidak masalah!" Hamish memotong ucapan Irene. "Biarkan aku saja yang mencintaimu seumur hidup. Jika memang kamu bisa mencintai, bagiku itu hanya bonus. Aku hanya ingin kamu mau selamanya bersamaku." Hamish menatap mata Irene dan menunjukkan kesungguhannya.
Irene dalam posisi yang sulit. Meskipun tidak suka, ia juga tak bisa menolak.
"Terserah Kakak saja yang penting jangan apa-apakan kakek dan nenek," jawab Irene dengan nada lemas.
Hamish menyeringai. Sekali lagi ia mencium Irene dengan perasaan bahagia.
__ADS_1
Hamish kembali menghubungi anak buahnya untuk mengurungkan niat menghabisi kakek dan neneknya. Tapi, ia tetap memerintahkan mereka berjaga di sekitar kediaman kakek dan neneknya.
Ia tak lagi mau kecolongan sampai harus kehilangan Irene. Kakeknya benar-benar tidak bisa dipercaya.
"Besok kita akan mengambil barang-barangmu dari kediaman keluarga Narendra. Kalau sampai kamu barani pergi dariku lagi, ingat kakek dan nenek masih ada dalam pengawasanmu," ancam Hamish.
Ikatan tangan Irene akhirnya dilepaskan. Ada bekas kemerahan di pergelangan tangan akibat kekangan tali yang cukup kencang. Hamish membawakan obat dan mengoleskan pada bagian yang kemerahan pada pergelangan tangan Irene.
Wanita itu terlihat diam saja saat Hamish mengoleskan obat padanya. Pikiran Irene belum bisa menerima fakta yang baru diketahuinya. Ia merasa selama ini hanya hidup dalam kebohongan belaka. Tak ada yang benar-benar bisa dipercaya.
"Sudah, ya. Jangan terlalu memikirkannya. Aku berjanji akan selalu menjagamu dari orang-orang yang akan mengganggu kita."
Hamish memeluk Irene sembari mengelus rambutnya. Wanita itu tampak diam tak memberi respon.
__ADS_1
***
.