
"Irene, ini untukmu!"
"Ini juga untukmu, Ren. Terima kasih atas bantuannya selama ini."
"Aku juga mau memberikan ini untukmu, terima kasih, Ren."
"Ren, terima kasih sudah menjadi temanku, ya."
Irene heran sendiri. Usai perkuliahan, beberapa teman sekelasnya memberikan buah apel kepadanya. Kata mereka, itu tradisi yang biasa dilakukan sebelum malam natal. Apel yang diberikan sebagai tanda terima kasih kepada seseorang yang dianggap baik atau berjasa bagi mereka. Ternyata Irene cukup disukai oleh teman-teman kampusnya.
"Ini juga dariku, Ren," kata Bian seraya memberikan huah apel kepada Irene.
Irene sampai kebingungan bagaimana cara membawa apel-apel yang memenuhi mejanya. "Iya, terima kasih, Bian. Seharusnya aku juga memberikan apel untukmu. Aku tidak tahu kalau ada tradisi seperti ini," katanya.
Bian tersenyum. "Aku pergi dulu, ya. Ada janji dengan Nina."
"Oh, iya, hati-hati."
Selepas Bian pergi, Ares masuk menghampiri Irene yang masih ada di kelas.
"Kamu cukup populer juga ternyata, ya!" ucap Ares. Ia turut meletakkan sebuah apel di meja Irene. Tak lupa ia juga memberikan paper bag miliknya untuk Irene. "Gunakan itu supaya tidak kesusahan membawanya!" pintanya.
"Terima kasih," ucap Irene seraya memasukkan satu per satu buah apel miliknya. "Kamu sendiri bagaimana? Pasti lebih banyak buah apel yang kamu dapatkan."
Ares tertawa. "Tentu saja. Aku mendapatkan apel satu kardus besar. Sudah aku suruh orang untuk membawanya dan memberikan ke panti asuhan."
Sudah Irene duga si populer tapi songong seperti Ares pasti tetap ada yang menyukai.
"Sebentar lagi ujian tiba. Jangan lupa janjimu, ya!" kata Ares mengingatkan.
"Iya, tenang saja. Aku bukan orang yang mudah pikun. Kamu tunjukkan dulu hasilnya baru menagihku lagi."
Ares menyunggingkan senyum. "Aku pasti berhasil!" katanya dengan bangga.
Irene tak bisa berkomentar dengan tingkat percaya diri yang sangat tinggi dari lelaki itu. "Aku pergi dulu, ya! Sepertinya Kak Alan sudah menungguku," kata Irene sembari menjinjing kantong berisi apel.
__ADS_1
Sesampainya di tempat parkir, Alan telah menunggunya di dalam mobil. Lelaki itu langsung melajukan mobilnya ketika Irene telah masuk ke dalam. Irene mencuri pandang ke arah Alan yang tubuhnya kini terlihat tirus.
"Loh, kita mau apa kesini, Kak?" tanya Irene heran.
Alan menghentikan mobilnya di depan sebyah restoran klasik.
"Kita sekalian makan malam di sini saja," ajak Alan.
Irene memang pulang kuluah sudah sangat sore. Tapi, ia kira mereka akan makan malam di rumahm ternyata Alan mengajaknya makan di suatu tempat.
"Selamat sore, Nona. Selamat natal dan tahun baru," ucap seorang pegawai restoran yang berkostum rusa di depan pintu masuk.
"Terima kasih," ucap Irene seraya menerima buah apel tersebut.
Alan terkejut. "Ah, apa ini memang malam natal?" tanyanya memastikan.
"Iya, Kak. Ini malam natal."
Alan memijit keningnya sendiri. Kesibukan kerja benar-benar membuatnya lupa jika saat ini adalah malam natal. "Maafkan aku, Irene. Aku tidak punya apel untukmu," katanya penuh penyesalan.
Irene tersenyum. "Tidak apa-apa, Kak. Aku sudah banyak mendapatkan apel hari ini. Lagi pula, Kakak juga sudah mengajakku makan malam di sini."
Satu persatu pelayan datang menyajikan makanan di meja mereka. Keduanya makan dengan lahap menyantap hidangan yang terasa nikmat.
"Aku ingin berbicara serius denganmu," kata Alan di tengah-tengah acara makan malam mereka.
Irene menghentikan sejenak makannya, ia memperhatikan Alan. "Apa, Kak?" tanyanya.
"Irene ... Ayo kita menikah!"
Irene sampai tertegun sembari melebarkan matanya. Ia seakan tengah bermimpi, Alan mengajaknya untuk menikah. Itu hal yang tidak pernah dibayangkannya.
"Aduh, Kak Alan ini bicara apa? Apa Kakak mabuk?" tanyanya sembari tertawa kecil. Tidak mungkin Alan tertarik dengan penampilannya saat ini.
"Kamu dengar sendiri kan, apa permintaan kakek sebelum meninggal? Kakek ingin kita menikah. Aku ingin mengabulkan keinginannya."
__ADS_1
Irene langsung lemas. Ternyata benar Alan mau menikahinya hanya karena wasiat dari kakek. Ada rasa kecewa di dalam hatinya. Irene melanjutkan makan dengan malas. Na fsu makannya telah hilang. Ia terluhat murung.
"Kalau kamu butuh waktu untuk memantapkan diri, kita bisa bertunangan dulu," bujuk Alan.
"Kakak tidak perlu melakukannya. Kakek juga sudah meninggal dan tak akan bisa melihat pernikaha kita," kilah Irene. Ia tak mau menikah dengan orang yang banya terpaksa melakukannya.
"Aku tidak mau mengecewakan Kakek," kata Alan.
Mengingat tentang kakek membuat Irene tak sanggup menolaknya. "Baiklah, ayo kita coba," katanya.
Selesai makan, mereka pergi meninggalkan restoran itu. Irene sempat melihat Arvy masuk bersama Adila. Ia jadi khawatir kalau keduanya akan ketahuan oleh para paparazi yang gila berita.
"Irene ayo!" seru Alan menyuruh Irene segera masuk ke dalam mobilnya.
"Ah, iya, Kak." jawab Irene.
Irene masuk ke dalam mobil. Alan membantunya memasangkan sabuk pengaman. Seketika Irene merasa berdebar-debar karena terlalu dekat dengan Alan.
"Nanti, kalau ada sesuatu yang kamu inginkan dalam pertunangan, hubungi saja asistenku, oke," kata Alan.
Irene hanya tersenyum kecut. Ia merasa kecewa mengingat Alan hanya melakukannya untuk kakek.
***
"Apa? Kakak sudah melamar Irene?" Ares terkejut.
Alan sengaja mengumpulkan ketiga saudaranya untuk membahas kelanjutan hubungannya dengan Irene. Ia telah menceritakan bahwa baru saja makan malam dengan Irene dan melamarnya.
"Kak, kamu tidak perlu memaksakan diri untuk melakukannya," kata Arvy.
"Iya, aku juga tidak setuju. Kalau memang Kak Alan tidak punya perasaan pada Irene, lebih baik jangan membuang-buang waktunya untuk hal seperti ini," sambung Alfa.
"Aku juga tidak setuju! Kakak tidak boleh menyakiti hati Irene!" sahut Arvy.
"Kalian tidak boleh ikut campur, keputusanku sudah bulat. Aku akan tetap melakukannya."
__ADS_1
Alan seolah tak mau mendengarkan nasihat dari adik-adiknya.
"Al, kamu bantu buatkan gaun pernikahan yang indah, ya, untuk Irene," pintanya.