Wanita Milik 5 Tuan Muda

Wanita Milik 5 Tuan Muda
Bab 284


__ADS_3

Alfa, dengan langkah panjang dan tergesa-gesa, mengejar Ares yang berjalan cepat di koridor rumah mereka. Ia meraih lengan adiknya untuk menghentikannya.


Alfa napas terengah-engah. "Ares, tunggu sebentar! Kita harus bicara tentang ini!"


Ares menghentikan langkahnya, wajah masih terlihat kesal. "Apa yang ingin Kakak bicarakan lagi? Apa Kakak juga setuju dengan keputusan Papa?" tanyanya dengan nada kesal.


Alfa menggeleng. "Tidak, aku tidak sepenuhnya setuju. Tapi marah dan emosi yang kalian rasakan sekarang hanya akan memperburuk situasi. Kita harus tetap tenang dan mencari cara terbaik untuk mengatasi ini."


Ares menggertakkan giginya. "Bagaimana aku bisa tenang, Kak? Kak Alex telah merenggut nyawa kakek kita! Itu tidak bisa dimaafkan!" katanya dengan nada tegas.


Alfa menatap Ares dengan lembut. "Aku tahu betapa sulitnya untuk memaafkan, terutama dalam situasi seperti ini. Tapi, kita tidak bisa membiarkan kemarahan kita menghancurkan hubungan keluarga kita."


"Aku akan mengadukan ini kepada Kak Alan!" kata Ares.

__ADS_1


Alfa mengernyitka dahi. "Kak Alan sekarang sedang menikmati bulan madunya, jadi kita tidak boleh mengganggu dengan masalah ini."


Ares terdiam karena kesal dilarang-larang oleh Alfa. "Tapi ini penting, Kak! Kak Alan harus tahu apa yang telah terjadi!"


Alfa menggeleng tegas. "Tidak sekarang, Ares. Biarkan mereka menikmati waktu mereka bersama dan menikmati momen bahagia mereka. Ketika mereka kembali, kita akan mencari kesempatan yang tepat untuk berbicara dengannya."


Ares menatap Alfa, mempertimbangkan kata-kata kakaknya. Meskipun masih penuh kemarahan, ia tahu Alfa benar. Tidak akan adil jika masalah keluarga mereka mengacaukan momen bahagia bagi Alan dan Irene.


Ares menghela nafas panjang. "Baiklah, aku akan menuruti apa yang kamu katakan. Tapi aku berharap Kak Alan akan mengerti betapa seriusnya masalah ini."


"Aku yakin Papa akan memasukkan Kak Alex ke perusahaan lagi, Kak," kata Ares.


Hal itu merupakan kekhawatiran utamanya. Saat Alex masuk penjara, ada banyak kejanggalan yang terjadi di perusahaan. Ia bersama Alan harus bekerja keras siang dan malam untuk mengatasi masalah tersebut.

__ADS_1


Alex tidak pantas disebut keluarga. Dia sama sekali tidak pernah berjuang agar bisa pantas menjadi salah satu anggota keluarga Narendra. Langkah yang dilakukan di awal sudah salah. Itu menurut pandangan Ares.


"Aku percaya Papa sudah punya pertimbangannya sendiri, Res. Papa sudah tahu semua masalahnya dan masih mau merangkul Kak Alex. Itu artinya jika Kak Alex punya potensi untuk berubah," ujar Alfa.


"Halah! Papa kan belum lama tinggal di sini. Mana bisa tahu watak anak-anaknya?" kilah Ares. Ia yang ditinggalkan saat masih kecil, tak merasakan kedekatan batin sama sekali dengan orang tuanya.


"Sudah, sudah! Mending kamu fokus saja mengurus skripsi supaya cepat lulus," kata Alfa.


"Aku sudah menyelesaikan semuanya, Kak. Minggu depan tinggal menunggu sidang," jawab Ares.


"Wah, adikku ternyata hebat." Alfa mengacungkan kedua jempolnya. "Jadi, kamu mau tinggal di mana?" tanyanya.


Tiba-tiba Ares terdiam. Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Belum tahu, Kak," katanya sembari nyengir kuda.

__ADS_1


Apartemen yang pernah ia tinggali sebenarnya dari Alan. Ia sudah terlanjur mengembalikan kepada kakaknya karena merasa sudah tidak butuh tempat itu. Setelah ia menentang keputusan ayahnya, ia mau tidak mau harus keluar dari sana.


"Hahaha ... Belum punya rumah sendiri kok berani menentang Papa," ledek Alfa.


__ADS_2