Wanita Milik 5 Tuan Muda

Wanita Milik 5 Tuan Muda
Bab 158


__ADS_3

Irene bangun tidur dengan perasaan yang lebih baik. Tidurnya semalam terasa nyenyak setelah melakukan sedikit kenakalannya sebagai hadiah untuk Jonathan. Ia juga menjadi bersemangat untuk berangkat kuliah.


"Yuk, berangkat!" ajak Irene.


Ares tertegun sejenak saat melihat Irene telah siap dengan penampilannya ke kampus. Biasanya ia harus menggedor-gedor pintu agar wanita itu cepat keluar.


"Tumben cepat," kata Ares.


"Biar tidak membuatmu marah terus tiap pagi," jawab Irene.


Keduanya menaiki mobil milik Ares dan bersiap berangkat ke kampus.


"Semalam kamu sudah tidur? Tidak baca isi grup chat?" tanya Ares.


"Ah, iya. Aku langsung tidur. Memangnya kenapa?"


Irene sebenarnya belum tidur. Semalam ia sibuk mengulik berita tentang Ares dan Jonathan.


"Semalam Xunqi online," kata Ares.


Irene melirik ke tempat lain. Ia tidak menyangka akan ada yang menyadari kalau dirinya mengaktifkan kembali akun game Xunqi.


"Terus, kamu main dengannya?" tanya Irene.


"Tidak, dia hanya sebentar online. Kalau ada kesempatan, siapa coba yang menolak bermain dengannya?"


Irene hanya tersenyum. "Aku rasa kalau kamu mampu menyelesaikan ujian dengan baik, keinginanmu bisa terwujud," kata Irene.


"Hahaha ... Maksudmu bermain denganmu? Kamu tetap bukan tandingan Xunqi." ledek Ares.


***


"Mau pulang sekarang nggak?" tanya Ares yang baru keluar dari ruang perkuliahannya dan menghampiri Irene di kelas lain.


"Ya, kita pulang saja sekarang." Irene bergegas membereskan barang-barangnya dan memasukkan ke dalam tas.


"Ren, ini ada paket datang untukmu. Tadi dititipkan ke satpam depan. Aku mau ke kelas dulu, ya!"


Bian masuk menemui Irene hanya untuk menyerahkan sebuah paket berbentuk kotak. Ia langsung berlari pergi karena kelasnya akan segera dimulai.

__ADS_1


"Apa tuh?" tanya Ares penasaran.


"Aku juga tidak tahu."


Irene mengamati kotak tersebut. Ia menemukan selembar kertas yang bertuliskan bahasa sandi yang hanya diketahui oleh dia dan Ron. Ia tersenyum saat mengetahui hadiah itu diberikan oleh Hamish untuknya.


Ia membuka pembungkus yang menutupi kotak tersebut. Saat mengetahui isinya, ia mengerutkan dahi. Ternyata miniatur mobil balap keluaran terbaru dari brand L.


"Wah, ini bagus sekali," kata Ares. Ia mengambil miniatur mobil itu dari dalam kotal dengan perasaan terkagum-kagum.


Irene menemukan surat undangan di dalamnya. Ternyata isinya merupakan surat undangan untuk mengikuti balapan.


"Ares, tunggu sebentar di sini, ya. Aku mau ke toilet," kata Irene.


"Ah, oke." Ares masih sibuk meneliti mobil-mobilan milik Irene. Warna merahnya sangat bagus persis dengan mobil aslinya.


Di toilet, Irene memastikan keadaan kosong. Ia mengambil telepon untuk menghubungi Hamish.


"Sudah sampai kiriman dariku?" tanya Hamish. Ia sepertinya sudah tahu jika Irene akan langsung menghubunginya setelah mendapatkan bingkisan darinya.


"Sudah, Kak. Terima kasih," kata Irene.


"Kak Hamish apa kabar?"


"Datanglah sendiri supaya kamu tahu bagaimana keadaanku. Aku sangat merindukanmu."


Irene terdiam sesaat. "Sepertinya aku tidak bisa ikut balapan itu. Aku tidak akan pergi ke sana."


"Kenapa? Bukankah kamu sangat menyukainya?"


"Ya ... Dulu memang begitu. Sekarang aku sedikit sibuk di sini untuk bersekolah. Maaf ya, Kak!"


"Ah, ayolah ... Kalau kamu memang tidak bisa datang, aku yang akan mengunjungimu."


Irene menelan ludah. Ia tidak bisa membiarkan sepupunya kembali datang ke sana. "Aku akan mengunjungi Kakak kalau liburan. Tapi, untuk balapan sepertinya aku sudah tidak tertarik."


"Oh, baiklah. Kalau kamu tak kunjung datang, aku yang akan menemuimu."


Irene mematikan sambungan telepon. Ia kembali menemui Ares di ruang kelasnya. "Kita pulang sekarang!" pinta Irene.

__ADS_1


"Oke!"


Ares membantu membawakan kotak miniatur mobil milik Irene. Sepertinya ia lebih antusias dari pemiliknya.


"Kenapa kamu bisa mendapatkan ini? Bukankah barang ini setahuku tidak dijual bebas?" tanya Ares.


"Entahlah, aku juga tidak tahu. Mungkin salah alamat."


"Bagaimana kalau ini untukku saja? Kamu kan tidak suka mainan seperti ini."


"Tidak boleh!" Irene langsung merebut kembali kotak mobil tersebut dari Ares.


Sesampainya di rumah, Irene langsung masuk ke dalam kamarnya. Ares sampai bingung karena kelakuan Irene menjadi aneh.


"Res, kamu sudah pulang?" sapa Alan yang juga kebetulan sedang ada di rumah.


"Kakak tidak ke kantor?" tanya Ares.


"Tadi ke kantor, tapi aku sudah pulang."


"Oh ...."


"Nih!" Alan menyodorkan sebuah kotak pada Ares. "Kamu biasanya suka miniatur mobil-mobilan, kan? Bulakalah! Siapa tahu kamu suka."


Ares penasaran dengan benda yang Alan berikan. "Waouw, keren ...," gumamnya melihat miniatur mobil balap yang diberikan Alan padanya.


"Kalau suka ambil saja. Aku mendapatkannya dari event balapan yang akan diadakan di Inggris."


"Irene juga mendapatkan yang sama persis dengan ini, Kak. Warna miniaturnya merah. Tadi aku minta tidak boleh. Langsung masuk kamar dia."


Alan mengernyitkan dahi. "Irene juga dapat yang seperti ini?" tanyanya memastikan.


"Iya. Dobrak saja pintunya. Dia menyembunyikannya di dalam takut aku ambil." Ares masih kegirangan mendapat hadiah baru dari kakaknya.


"Kakak sama Irene ikut event apa sampai dapat hadiah seperti ini? Aku juga mau!"


"Kamu kan sudah Kakak kasih, itu untukmu. Ini bukan event, hanya beruntung saja kalau bisa mendapatkannya."


Alan masih berpikir kenapa Irene bisa mendapatkan benda itu. Artinya, Irene juga mendapatkan undangan dari pihak penyelenggara. Sedangkan Irene, sepertinya dia tidak pernah tertarik dengan event seperti balapan.

__ADS_1


"Apa dia mendapatkan dari orang lain?" gumamnya.


__ADS_2