
"Kak Alan tidak menjemputmu juga hari ini?" tanya Ares yang heran saat mereka pulang Alan tak kunjung datang.
"Sepertinya dia sangat sibuk. Aku pulang naik taksi saja," kata Irene.
Ares menahan tangan Irene. "Sudah, pulang denganku saja!" tegasnya. "Heran dengan Kak Alan. Tumben nggak menempel padamu. Awas saja kalau dia marah-marah lagi karena aku yang antar jemput kamu."
Ares menarik tangan Irene dan membawa wanita itu berjalan ke arah parkiran. Ia membukakan pintu dan menyuruh Irene masuk.
"Aku yakin ada yang tidak beres dengan kalian. Cerita dong, Ren!" desak Ares.
"Kenapa kamu ingin tahu? Nanti bisa menyesal ikut campur dengan urusan kami."
Irene memijit kepalanya sendiri yang terasa hampir pecah. Ia ingin menyelesaikan masalah dengan Alan namun lelaki itu terkesan ingin kabur darinya.
"Aku sebenarnya paling benci basa-basi. Katakan saja apa masalahmu dan aku akan berusaha membantu!" gerutu Ares. Ia jadi kesal karena Irene tak kunjung mengatakan yang sebenarnya kepada dirinya.
"Oh, iya. Kamu bilang mau memberikan hadiah ulang tahun padaku, kan?" Irene menagih janji Ares.
"Ya, itu benar. Tapi nggak sekarang juga, aku belum beli apa-apa."
"Bagaimana kalau aku minta hadiahnya dalam bentuk lain saja?" tanya Irene.
Ares mengernyitkan dahi. "Jangan minta yang aneh-aneh, ya! Aku masih mahasiswa, belum punya banyak uang seperti kakak-kakakku," katanya dengan raut curiga.
"Aku tidak mau apa-apa darimu. Uangku lebih banyak."
Ares berdecih dengan kesombongan Irene.
"Aku mau jujur. Tapi kamu janji tidak boleh marah," kata Irene.
Dari kelima tuan muda Narendra yang ia kenal, hanya Ares yang paling nyaman ia ajak bicara. Mereka seumuran dan Irene berharap Ares bisa memahaminya.
"Kalau kamu bicara begitu, aku malah jadi curiga," kata Ares.
"Ya sudah, kalau memang kamu tidak siap, aku tidak akan bicara. Lupakan saja!" tegas Irene.
"Ah! Terserah deh! Katakan saja apa yang mau kamu katakan! Aku janji tidak akan marah. Cepat katakan!" desak Ares. Kesabarannya memang hanya setebal tisu. Ia tidak sabaran menunggu Irene bicara.
"Sebentar," kata Irene.
__ADS_1
Ia mencari sesuatu dari dalam tasnya. Ia mengeluarkan cairan pembersih khusus wajah dan spons bulat dari dalam tasnya.
Ares menatap heran ke arah Irene. Wanita itu memang aneh mengeluarkan alat make up dari dalam tas.
Irene memalingkan wajah sembari membersihkan penyamaran yang ada di wajahnya dengan perlengkapan khusus itu.
"Kamu ngapain sih? Mau dandan?" tanya Ares ingin tahu. Ia sampai memiringkan kepala saking penasaran dengan apa yang tengah Irene lakukan membelakanginya.
"Janji kamu nggak bakalan marah, ya! Awas kalau marah!" kata Irene memastikan.
"Aneh banget sih kamu. Iya, iya ... Aku nggak bakalan marah!" ujar Ares.
Ia masih menunggu Irene melakukan hal aneh dengan alat make up di mobilnya. Ia penasaran dengan apa maksud perkataan wanita itu.
"Astaga!"
Ares terlonjak kaget sampai punggungnya membentur pintu di belakangnya saat Irene berbalik badan. Ia memegangi dadanya yang berdebar kencang. Jantungnya terasa hampir copot seakan baru saja melihat hantu di siang bolong.
Wajah Irene terlihat putih bersih. Warna kulit yang selama ini ia kenali sebagai sosok Irene dekil terangkat semua oleh cairan yang dioleskan ke wajah Irene.
"Kkkamu benar-benar Irene?" tanyanya dengan nada bergetar.
"Kamu harus menepati janjimu," tagih Irene.
Ia memberanikan diri jujur kepada Ares karena mereka memang cukup dekat. Ia harap Ares tak membencinya setelah ini.
"Oh, Ya Tuhan ... Kamu selama ini menyamar? Kamu pura-pura jadi Irene dekil?" tanya Ares yang masih tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Irene mengangguk.
Ares terkekeh. "Luar biasa kamu, Ren! Kita sudah saling kenal selama 1 tahun lebih dan baru sekarang kamu mengatakannya? Gila gila ... Ini gila!"
Ares merasa tertipu. Bisa-bisanya ia ditipu selama itu oleh seorang wanita. "Apa Kak Alan juga sudah tahu tetang hal ini?" tanyanya.
"Sudah. Semalam aku sudah mengatakan padanya," kata Irene dengan nada lemas.
"Ya, ya, ya ... Pantas saja Kak Alan bersikap seperti itu padaku. Aku yakin kamu akan diacuhkannya setiap hari. Kamu memang gila, Ren, sudah membohongi keluarga kami selama ini." Ares menyampaikan rasa kecewanya.
"Aku tahu. Aku juga tidak bermaksud seperti itu," kata Irene dengan nada penyesalan.
__ADS_1
"Sudah sampai sejauh ini kamu membohongi semua orang kenapa harus dibuka sekarang?" tanya Ares.
"Karena aku benar-benar menyukai Kak Alan."
Jawaban Irene membuat Ares terdiam.
"Dulu aku hanya iseng agar ditolak keluarga kalian. Aku tidak mau dijodohkan. Aku yakin kamu juga punya pemikiran yang sama setahun yang lalu," ujar Irene.
Ares mengingat kembali pertemuan pertama mereka. Ia tak memungkiri jika dulu ia sangat jijik dengan penampilan Irene yang terlihat sangat kampungan.
"Aku hanya terpaksa datang ke rumah kalian atas permintaan kakekku. Katanya aku diberi waktu satu tahun bersama kalian. Kalau sampai tidak ada satupun dari kalian yang aku sukai, kakek akan membiarkan aku pergi dan memilih jalan kehidupanku sendiri. Aku tidak tahu kalau dalam setahun ini akan jatuh cinta sungguhan pada kakakmu."
"Kakek pasti sangat kecewa sudah membiarkanmu datang ke rumah. Sayangnya kakek sekarang sudah meninggal," ujar Ares.
"Kakek Narendra sudah tahu semuanya," kilah Irene.
"Apa?" tanya Ares tak percaya.
"Kakek Narendra sudah tahu wajah asliku sejak lama. Kakek sudah beberapa kali main ke rumahku di Kota J. Kakek juga kaget waktu melihatku di kediaman Narendra. Tapi, aku meminta kakek agar tidak mengatakannya."
"Oh, ini semakin tidak masuk akal. Kamu dan kakekku bersekongkol membohongi aku dan kakak-kakakku?" tanya Ares.
"Kak Alex juga sudah tahu," kata Irene.
Ares menghela napas. "Ren, kamu benar-benar keterlaluan ternyata," ujarnya.
"Kamu sudah janji tidak akan marah, kan? Aku mengatakan ini karena kita sudah lama berteman."
Ares merasa kecewa. Mereka terbilang sangat dekat namun Irene tak pernah menceritakan hal itu sebelumnya. Bahkan ia harus tahu setelah kakek, Alex, dan Alan tahu. Disisi lain, Ares ingin jadi orang yang pertama tahu dibandingkan dengan yang lain.
"Bagaimana dengan kedua kakakku yang lain?" tanya Ares.
"Aku belum memberi tahu mereka. Kak Alfa pasti sibuk di butik sementara Kak Arvy pasti sibuk dengan syuting dan Adila. Mereka mungkin juga akan marah kalau aku berbicara jujur."
"Bukan mungkin lagi, sudah pasti mereka marah. Aku saja emosi mendengarnya. Aku ingin sekali berkelahi denganmu, Ren!" seru Ares emosi.
"Ini hari ulang tahunku, loh ... Tadi kamu sudah janji tidak akan marah sebagai kado ulang tahun, kan?" Irene kembali mengingatkan.
Ares sampai mengacak-acak rambutnya sendiri saking kesalnya tapi tak mau marah.
__ADS_1