Wanita Milik 5 Tuan Muda

Wanita Milik 5 Tuan Muda
Bab 190


__ADS_3

"Kamu yakin mau melakukannya?" tanya Alan yang menemani Irene di ruang kerja Alfa


"Memangnya ada cara lain untuk membuktikan selain dengan melakukannya?"


Irene mulai memilih bahan yang sekiranya cocok digunakan untuk membuat gaun pengantin yang indah. Area gudang bahan yang Alfa miliki cukup luas dan memuat ratusan jenis kain yang biasa dijadikan bahan pakaian-pakaian di galeri milik Alfa.


"Aku jadi heran Alfa bisa keras kepala juga hanya karena kamu komentari desainnya."


Irene tersenyum. "Menyenangkan juga kan sesekali membuatnya marah," ujar Irene.


Menurutnya, Alfa pasti sudah lupa bagaimana dia dulu mengubah rancangan gaun dalam pameran busana yang Alfa adakan. Atau mungkin Alfa kesal saja untuk mengakui bakatnya.


"Kak Alan ada acara kan, hari ini? Sudah, pergi saja, aku bisa melakukan ini sendiri," kata Irene.


"Tidak, aku akan menunggumu."


"Ini akan memakan waktu yang cukup lama, Kakak pergi saja dulu. Percaya saja, aku ini cukup mahir membuatnya," ucap Irene dengan penuh percaya diri.


Alan sebenarnya khawatir, namun, wanita itu adalah Irene yang sering membuatnya terkejut. "Baiklah, aku akan pergi sekarang. Kalau ada apa-apa, langsung hubungi aku. Terutama kalau nanti Alfa mengamuk, beri tahu aku!" pinta Alan.

__ADS_1


"Hahaha ... Kak Alfa juga tak mungkin memakanku kalau dia marah. Santai saja, Kak."


Alan menepuk kepala Irene sebelum pergi.


Kini, Irene sendirian di sana masih memilih bahan yang cocok untuk gaunnya. Menghabiskan waktu sendiri membuatnya bisa lebih fokus pada pekerjaan. Ia sibuk menggunting-gunting bagian pakaian yang tidak dikehendakinya dengan hati-hati dan teliti.


"Halo, aku asisten yang disuruh Pak Alfa datang ke ... si ... ni!"


Seorang karyawan wanita masuk ke ruangan dan terkejut melihat apa yang tengah Irene lakukan. Gaun rancangan Alfa dipotong-potong dengan begitu berani oleh Irene. Ia rasa atasannya bisa marah jika melihatnya.


"Kenapa kamu ke sini?" tanya Irene. Ia berharap tak ada seorangpun yang datang sebelum pekerjaannya selesai. Ia jadi malas melanjutkan saat ada orang di dekatnya.


"Saya disuruh Pak Alfa untuk mengawasi pekerjaan Anda," ucap Wanita bermama Susi itu.


"Pak Alfa menyuruh saya untuk membantu jika diperlukan."


"Itu tidak perlu. Aku bisa melakukannya sendiri," tolak Irene.


Ia melanjutkan pekerjaannya membuang bahan yang menurutnya kurang cocok dan menggantinya dengan bahaan baru sesuai pilihannya.

__ADS_1


Susi hanya bisa terdiam melihat Irene bekerja. Ia tak berkomentar sedikitpun dengan apa yang Irene lakukan. Perasaannya hanya was-was akan ikut kena marah jika atasannya nanti tidak suka dengan hasil akhirnya.


Irene bekerja dengan cepat dan cekatan. Ia menggunting tanpa berpikir ulang seolah telah terbiasa melakukannya. Satu per satu bagian yang telah diubah kembali disatukan menjadi gaun yang utuh. Ia memakaikan gaun modifikasinya di atas manekin untuk mengecek bagian-bagian yang dirasa masih kurang.


Susi tercengang saat melihat gaun tersebut dipasang. Hasil kerja Irene yang ia kira akan gagal ternyata berhasil membuat tampilan gaun rancangan Alfa menjadi lebih indah dan elegan


Susi pamit keluar menuju ruangan Alfa dengan langkah tergesa-gesa.


"Kenapa, Sus? Irene merusak gaunku, ya?" tanya Alfa heran. Ia menyuruh wanita itu menemani Irene malah berada di sana.


"Pak Alfa menemukan dia dimana? Asalnya dari mana?" tanya Susi.


Alfa mengerutkan keningnya. Ia heran, bukannya Susi menjawab pertanyaannnya malah balik bertanya. "Dia gadis biasa yang asalnya dari desa, memangnya kenapa?"


"Masa sih, Pak? Apa dia lulusan kuliah jurusan desainer?"


"Tidak, dia kuliah jurusan manajemen dan belum lulus. Dia itu orang awam soal fashion," ucap Alfa.


"Awam ya, Pak? Berarti aku tidak lebih baik dari orang awam," gumam Susi.

__ADS_1


Alfa semakin penasaran dengan ucapan Susi barusan.


"Dia kelihatan lincah selali Pak, saat mengayunkan guntingnya. Bahkan seperti tidak perlu berpikir lagi ia mengunting-gunting gaun buatan Bapak. Saya kira akan rusak, ternyata bisa jadi lebih bagus. Saya tidak percaya kalau dia tak punya pengalaman." Susi terus memberikan pujian pada Irene.


__ADS_2