Wanita Milik 5 Tuan Muda

Wanita Milik 5 Tuan Muda
Bab 282


__ADS_3

Alan dan Irene berjalan beriringan melintasi koridor-koridor megah di Istana Topkapi sembari saling bergandengan tangan. Langit biru cerah bersinar di atas mereka, memancarkan sinar matahari yang hangat.


Istana ini memiliki keindahan yang memukau, dengan arsitektur klasik yang indah dan detail ornamen yang rumit.


Mereka melangkah menuju ke ruangan utama istana, dihiasi dengan permadani yang indah, lukisan-lukisan bersejarah, dan hiasan-hiasan emas yang menghiasi dinding-dindingnya. Suasana tenang dan misterius terasa di udara, seolah-olah menyimpan cerita rahasia dari masa lalu yang terpancar dari setiap sudut.


"Apa kamu ingin aku bangunkan istana seperti ini?" tanya Alan.


Irene tersenyum. "Untuk apa aku dibuatkan tempat sebesar ini? Memangnya mau membuatku jadi patung seperti Roro Jongrang lalu menjadikannya sebagai tempat wisata?"


"Hahaha ... Mana mungkin aku melakukan itu pada istri tercintaku? Aku ingin seperti Shah Jahan yang sangat mencintai istrinya sampai membangun istana Taj Mahal."


"Apa Kak Alan ingin aku cepat mati?" canda Irene.


Alan sedikit gemas dengan Irene yang tidak bisa serius menanggapinya. Ia mencubit kecil pipi wanita itu.

__ADS_1


"Aduh!" pekik Irene.


"Makanya jangan bicara ngawur terus! Aku sedang berusaha serius," keluh Alan.


Irene hanya tersenyum-senyum melihat ekspresi wajah kesal yang Alan tunjukkan. "Aku tidak perlu tempat sebesar ini. Sejak kecil soal materi aku tidak pernah kekurangan. Jadi, aku merasa bosan dengan hidupku. Kalau bisa tinggal di tempat yang sederhana bersama Kak Alan, aku rasa itu sudah cukup. Aku tidak mengharapkan apa-apa lagi."


Ucapan Irene membuat Alan terpana. Ia tidak menyangka Irene akan mengatakan hal seperti itu. "Apa kamu tidak ada ambisi yang lebih besar?" tanya Alan.


Irene menggeleng. "Aku sudah lelah melakukan banyak hal. Aku hanya ingin menikmati hidupku dengan Kak Alan di tempat yang damai."


Alan menarik pinggang Irene hingga menempel di sebelahnya. "Aku akan mewujudkan keinginanmu, Sayang," katanya.


"Arsitektur bangunan tempat ini bagus, ya? Padahal sudah dibangun ratusan tahun lalu tapi masih terlihat bagus," gumam Alan.


Irene mengangguk setuju. "Ya, Kak. Istana Topkapi memang memiliki daya tarik yang tak tertandingi. Setiap elemen arsitektur dan hiasan di sini menunjukkan kemewahan dan kejayaan masa lalu."

__ADS_1


Mereka melanjutkan perjalanan mereka melintasi aula-aula besar, mengamati artefak-artefak bersejarah yang dipamerkan dengan bangga di setiap sudut ruangan. Di sela-sela obrolan mereka, suara langkah kaki mereka bergema di dinding-dinding yang kokoh.


Mereka melanjutkan perjalanan mereka, menelusuri lorong-lorong yang berliku dan ruang-ruang yang penuh keajaiban. Setiap langkah yang mereka ambil membawa mereka lebih dekat pada kekayaan sejarah dan budaya yang ada di dalam istana ini.


Suasana di Istana Topkapi begitu magis, seakan membawa mereka kembali ke masa lalu. Mereka merasakan energi dari tempat yang penuh dengan cerita dan peristiwa bersejarah. Tidak ada kata-kata yang bisa menggambarkan keindahan dan keajaiban yang mereka temui di setiap sudut Istana Topkapi.


Alan dan Irene terus menjelajahi setiap ruangan dengan rasa ingin tahu yang tak terpuaskan, menyerap keindahan dan keagungan yang ada di sekitar mereka. Dalam setiap langkah mereka, mereka merasakan sentuhan magis Turki yang mengalir di dalam diri mereka, membuat pengalaman ini menjadi sangat berarti dan tak terlupakan bagi keduanya.


"Sayang," panggil Alan.


"Hm, kenapa?" tanya Irene.


"Kita kembali ke hotel sekarang, aku mau menagih janji," kata Alan.


Irene mengernyitkan dahi. "Janji? Janji apa?" tanyanya.

__ADS_1


"Waktu di Blue Lagoon, kamu sudah lupa? Siapa itu yang sudah berani berjanji," goda Alan.


Irene tidak menyangka jika Alan masih ingat dan menagihnya. "Kak, kalau seperti itu aku tidak mau. Itu ide gila," protesnya.


__ADS_2