Wanita Milik 5 Tuan Muda

Wanita Milik 5 Tuan Muda
Bab 63: Rasa yang Tumbuh


__ADS_3

"Jeha, sepertinya ini jam tangan baru, ya? Bagus banget ...." Winda memagangi pergelangan sembari memperhatikan jam tangan yang melilit di pergelangan tangan wanita itu. Jam tangan berbentuk unik berwarna pink dengan hiasa berlian di sekelilingnya menambah kesan mewah.


"Ah, ini jam tangan pemberian ayahku waktu ulang tahun bulan lalu. Ini limited edition, loh! Cocok nggak buat aku?" Jeha bergaya memamerkan jam tangannya.


"Lebih cocok aku yang pakai kayaknya. Hahaha ...."


"Enak saja! Ini mahal, belinya jauh langsung ke pabriknya di Swiss, tahu!"


"Pinjam boleh, dong ...." rayu Winda.


"Nggak boleh!" tegas Jeha. "Irene, apa menurutmu jam tanganku bagus?" tanyanya.


Irene tersenyum. "Bagus," pujinya.


Irene sedang tidak tertarik mengikuti pembahasan kedua temannya tang jam tangan. Ia merasa bosan melewati waktu istirahat di kelas. Ia merebahkan kepalanya di atas meja sembari menoleh ke samping. Ujung matanya menangkap selembar kertas yang tergeletak di lantai. Saking penasarannya, ia mengambil kertas tersebut. Ternyata berisi coret-coretan materi kalkulus untuk perhitungan biaya marginal. Tulisannya terlihat cukup rapi untuk seorang lelaki, namun ada beberapa langkah pengerjaan yang salah.


Ia melihat ke seisi kelas, ternyata ada Hansen yang duduk di pojok depan selain mereka bertiga. Irene yakin kertas tersebut milik Hansen.


"Hansen!" Irene duduk di sebelah Hansen yang terlihat serius dengan buku dan alat tulisnya.


"Oh, kamu, Ren. Ada apa?" Sejenak Hansen meletakkan alat tulis dan menoleh ke arah Irene.


Irene memperlihatkan kertas coretan yang ditemukannya. "Ini punyamu, kan?" tanyanya.


"Ah, kamu menemukan ini, ya?" Hansen menggaruk rambutnya dan merasa malu. "Aku tidak bisa menyelesaikan soal tersebut sejak kemarin. Entah dimana salahnya, hasilnya tetap tidak didapatkan."


"Mau aku kasih tahu langkah yang salah dimana?" tanya Irene.


"Kamu tahu penyelesaiannya, ya?" Hansen terkesima mendengar Irene bisa menyelesaikan soal yang dianggapnya sulit.


Irene mengajak Hansen melihat kembali soal yang dikerjakannya lalu menjelaskan langkah demi langkah yang harus dilakukan untuk menemukan jawaban akhir. Sesekali keduanya tampak berdiskusi tentang cara penyesaian yang lebih efektif. Memang, dalam kompetisi tersebut juga mencakup bidang matematika bisnis yang harus dikuasai oleh peserta selain aspek manajemen, pembukuan, dan analisa.


Pandangan mata Hansen terus terpaku pada sosok wanita yang sedang berbicara panjang lebar menjelaskan di sebelahnya. Baru kali ini ia mendapatkan tutor yang mudah dipahami penjelasannya. Ia yang biasanya hanya fokus belajar tiba-tiba merasa tertarik dengan Irene. Terbersit pikiran di otaknya, kenapa ia tidak lebih lama mengenal Irene padahal mereka satu kampus. Sungguh, ia baru sadar jika Irene memiliki sisi menarik ketika diperhatikan dari dekat.


"Bagaimana, apa penjelasanku bisa kamu pahami?" tanya Irene.

__ADS_1


"Hah, apa?" karena melamun, Hansen kurang fokus mendengarkan penjelasan Irene.


Irene menghela napas. Ia sudah susah payah menjelaskan tapi sepertinya Hansen tidak paham dengan penjelasannya. "Apa aku tidak bakat menjadi seorang guru, ya?" tanyanya.


"Hahaha ... aku bercanda, Irene. Terima kasih sudah membantuku menyelesaikan soal ini. Aku sudah paham, kok," ucap Hansen dengan seulas senyum.


"Irene! Kita mau ke kantin. Kamu mau ikut?" ajak Winda.


Irene menoleh ke belakang. "Aku ikut!" Serunya. "Kamu mau ikut juga?" tanyanya pada Hansen.


Hansen tersenyum. "Tidak, aku masih mau di kelas. Kalian bertiga saja yang ke kantin," ucapnya.


"Ya sudah, kami ke kantin dulu."


***


"Ren, minta nomor teleponnya Om Alan, dong ...," rayu Winda.


"Aku juga mau, Ren!" sahut Jeha semangat.


"Maaf, ya. Aku tidak punya hak untuk memberikan nomor kontaknya. Kalau kalian mau, coba minta kepada Kak Alan sendiri," tolak Irene.


"Yah, Irene nggak asyik!" Winda terlihat kecewa.


"Astaga! Jam tanganku hilang!" Seruan Jeha mengagetkan Winda dan Irene.


"Kenapa?" tanya Irene.


"Jam tanganku hilang!" Jeha memperlihatkan pergelangan tangannya yang kosong. Ia kelihatan panik mencari di dalam tasnya sampai seluruh isinya dikeluarkan. Namun, benda yang ia cari belum juga ditemukan. Ia bertambah panik mengingat jam tersrbut merupakan barang mahal yang khusus dipesankan sang ayah untuknya. Wajahnya tampak pucat karena kebingungan.


"Terakhir kamu simpan dimana? Coba ingat-ingat lagi!" pinta Winda.


"Kayaknya tadi aku lepas waktu kita ke toilet sebentar. Apa ketinggalan di sana, ya?" Jeha sudah tidak bisa berpikir tenang saking paniknya. Ia sampai mengangkat-angkat piring di atas meja namun tetap tidak menemukannya.


"Kita cek lagi ke toilet!" ajak Irene.

__ADS_1


Ketiganya langsung bergegas mengecek seisi toilet, namun jam tangan milik Jeha tidak ditemukan. Jeha hampir menangis karena benda itu merupakan benda kesayangannya.


"Kalian sedang apa?" tanya salah seorang peserta lain yang baru keluar dari bilik toilet.


"Jam tangan Jeha warna pink hilang. Apa kamu melihatnya?" tanya Winda.


Wanita tersebut menggeleng tidak tahu. "Kita laporkan saja kepada pembimbing. Mungkin pelakunya salah satu dari peserta," usulnya.


"Ide bagus!" jawab Winda.


Mereka akhirnya menceritakan masalah tersebut kepada pembimbing. Seluruh peserta kompetisi diminta berkumpul di dalam kelas. Ada beberapa petugas yang memeriksa tas milik mereka. Satu per satu tas dan laci diperiksa tanpa ada yang terlewat. Sekua ikut cemas karena merasa sedang dituduh sebagai tersangka.


"Bu! Saya menemukannya," ucap salah satu petugas yang menggeledah barang-barang mereka. Ia menunjukkan jam tangan itu kepada semua orang.


"Jeha, apa benar itu jam tangan milikmu?" tanya sang pembimbing.


"Benar, Bu." Jeha merasa lega jam tangannya bisa kembali ditemukan.


"Dimana Bapak menemukannya?"


"Di dalam tas ini." petugas tersebut mengangkat sebuah tas yang diduga telah mencuri jam tangan milik Jeha.


"Tas milik siapa itu?" tanya ibu pembimbing dengan nada marah.


"Tas milik saya, Bu," ucap Irene seraya mengangkat tangannya.


Semua orang yang ada di sana tercengang mengetahui Irene yang telah mencuri barang milik Jeha. Rasanya mereka tidak percaya mahasiswa sepintar Irene bisa melakukan tindakan kriminal semacam itu.


"Ini pasti fitnah, bu! Tidak mungki Irene yang melakukannya." Winda buka suara membela Irene. "Seharian ini kami selalu bersama dari keluar kamar, masuk ke kelas, sampai makan bersama di kantin. Pasti ada yang mau memfitnahnya!"


"Kalau bukan Irene yang mencuri, kenapa jam tangan Jeha ada di tasnya?" ucap salah seorang dari mereka.


"Kadang pelaku memang orang terdekat dengan korban. Bisa saja Irene memang pelakunya." Ada beberapa orang lain yang ikut menuduh Irene.


Irene terdiam. Ia melirik ke arah Jeha yang tempak mrmbuang muka darinya. Sepertinya Jeha juga tidak percaya kalau bukan dia pelakunya.

__ADS_1


*****


__ADS_2