
Brak!
Terdengar suara pintu kamar ditendang dengan keras. Dua insan yang masih bergumul di atas ranjang merasa terkejut. Dengan posisi tubuh yang masih saling menyatu, mereka menyaksikan kehadiran Alan tepat berada di depan pintu kamar.
Sovia panik. Secepat kilat ia langsung mendorong tubuh Ryuki dari atasnya. Penyatuan yang begitu menyenangkan harus diakhiri dengan terpaksa.
Sovia menyelimuti dirinya dengan selimut. Tubuhnya gemetaran melihat tatapan kemarahan di wajah Alan. Apalagi lelaki itu membawa sebilah pisau dapur di tangannya.
"Alan, aku bisa jelaskan semuanya. Ini hanya salah paham," ucap Sovia dengan nada gemetar. Ia takut Alan akan nekad dan membunuh mereka berdua.
Sementara, Ryuki merasa frustasi hasratnya yang sudah mencapai puncak justru belum sempat dilampiaskan. Mood-nya seketika hancur karena kehadiran Alan di sana.
"Kenapa? Sudah tahu kan sekarang kalau aku dan Sovia punya hubungan? Apa kamu masih mau bersama dia? Sovia hanya menyukai aku!" Ryuki mengatakannya dengan penuh percaya diri.
"Itu tidak benar!" bantah Sovia. "Alan, percayalah ... Ryuki selalu menggodaku. Aku hanya mencintaimu." Sovia memasang wajah memelas agar Alan iba dan memaafkannya seperti biasa.
Ryuki justru kesal mendengar pengakuan Sovia. Ia merasa sebagai kekasih yang tak diakui. Ryuki sudah jengah dan ingin mengakhiri hubungan rahasia mereka. Ia sudah sangat cinta dengan Sovia bahkan berniat menikahinya. Ia tak akan menyerah untuk Sovia.
"Alan, bawa aku pergi ... Ryuki selalu memaksaku untuk melayaninya ... aku sudah lelah" Sovia merengek. Tangisan buayanya keluar demi mendapatkan pengampunan.
Alan merasa ingin tertawa. Selain memiliki bakat di bidang modeling, kekasihnya itu juga sangat berbakat dalam berakting. Apartemen ini merupakan milik Sovia. Tidak mungkin Ryuki bisa seenaknya masuk kalau tuan rumahnya tidak mengizinkan. Ternyata selama ini mereka menertawakannya sebagai orang bodoh.
Alan berjalan mendekat membawa pisaunya. Amarahnya sudah sampai pada titik batasnya dan ingin diluapkan. Dalam pikirannya, ia ingin menusuk kedua manusia terkutuk itu dengan membabi buta. Ia ingin memotong-motong tubuh mereka hingga menjadi potongan yang kecil lalu ia masak dengan bumbu asam manis dan memberikannya kepada anjing-anjing kelaparan.
"Kalian sudah menipu orang yang salah," ucap Alan.
"Sayang, aku dijebak ... Ryuki yang jahat!" Sovia masih berkilah dan tak mau disalahkan.
__ADS_1
"Jangan menjadi lelaki cengeng kalau memang wanitamu berpaling pada lelaki lain. Mungkin kamu memang punya banyak kekurangan dariku. Hahaha ...."
Syut! Jleb!
Alan melemparkan pisaunya tepat menancap di kepala ranjang. Sovia dan Ryuki langsung mematung tidak menyangla Alan akan melakukan hal tersebut.
"Nama kalian berdua sudah aku blacklist dalam hidupku. Jangan sekalipun berusaha menampakkan diri di hadapanku jika tidak ingin mendapatkan kesialan." Alan memberikan ancamannya. Ia melirik ke arah Sovia yang gemetaran.
"Sayang ...." Sovia masih berusaha meluluhkan Alan.
"Kalau kamu masih punya rasa malu, segera tinggalkan apartemen yang bukan hakmu. Aku memberikan ini untuk calon istriku, bukan untuk wanita penipu sepertimu."
"Alan, Please ...."
"Jangan pernah merasa mengenalku lagi, Sovia. Aku menyesal pernah berteman baik denganmu."
Alan merasa tidak ada yang perlu lagi dibahas. Malam ini, ia tidak jadi menginap di tempat yang sudah ternosa oleh kekasih dan mantan temannya sendiri. Ia memilih pergi dari sana. Baik Sovia dan Ryuki tidak ada yang berani menghentikan Alan.
Secara tidak langsung Sovia telah mengakui bahwa ia hanya mengarang cerita bahwa Alan yang telah menidurinya dulu. Entah mengapa Sovia tega menodai hubungan pertemanan mereka dengan kebohongan. Seandainya dia tidak melakukan hal itu, mungkin mereka masih berteman baik. Bisa juga Alan menyukai Sovia, karena dia wanita yang baik. Sovia berubah menjadi matrealistik setelah masuk ke dunia hiburan.
Kini, Alan kebingungan harus kemana. Padahal ia ingin membuat rasa suntuk dan kegalauannya malah ditambah dengan masalah memergoki perbuatan Sovia dan Ryuki.
"Ke tempat manajer Arvy," gumamnya.
***
Sejak tadi Irene sudah berusaha untuk memejamkan mata, namun belum juga bisa tertidur. Ia gelisah, terus memikirkan hal-hal yang belum tentu terjadi. Sepertinya ia butuh jalan-jalan sebentar untuk mendinginkan kepala.
__ADS_1
Irene beranjak dari tidurnya menuju ke arah jendela. Ia menyibakkan tirai yang menutupi seraya mengintip ke arah halaman depan. Matanya terus mencari ke sana kemari, berharap Alan masih ada di sana. Namun, lelaki itu sepertinya telah pergi dari tempat duduknya semula. Irene cukup kecewa. Biasanya berbicara dengan Alan juga cukup membosankan untuk mengusir kebosanan.
"Yah ... kenapa Kak Alan malah sudah pergi ... aku kan masih harus merayunya supaya mau menjauhi wanita ular itu," Irene menyandarkan kepalanya di jendela. Ia jadi lemas mengetahui Alan tidak ada di sana. "Enaknya aku merayu pakai mode yang mana, ya? Hantu Miss A atau Irene Kampungan?"
"Tapi, kalau bisa merayu dengan dua kepribadian bukankah lebih baik? Aku rasa Kak Alan juga sudah mulai menyukai Irene Kampungan. Waktu itu dia bilang suka dengan rambut yang tergerai, kan? Mulai sekarang aku akan menggerai terus rambutku. Hahaha ...." Irene berbicara dengan dirinya sendiri.
Sekarang, ia bingung akan melakukan apa. Membangunkan tetangga kamar atau pelayan hanya untuk menemaninya rasanya mustahil. Apalagi ia harus menyamar lagi sebagai versi kampungannya. Akhirnya, ia memutuskan untuk pergi diam-diam saja ke luar.
Sebelum pergi Irene memesan layanan taksi online terlebih dahulu. Ia juga mengganti pakaiannya dengan pakaian yang lebih casual. Tidak lupa Irene membawa tas kecil untuk menaruh benda-benda yang akan diperlukannya di luar sana.
Irene keluar dari rumah dengan cara mengendap-endam. Setahu Irene, di rumah hanya ada Alan, Alfa, dan Ares. Alex sepertinya menginap lagi di kantor dan Arvy seperti biasa, tinggal di tempat manajernya. Pelayan tinggal terpisah di bagian belakang. Satu-satunya tempat penjagaan yang harus dia waspadai adalah gerbang depan. Akan ada beberapa satpam yang berjaga. Irene memilih keluar dengan cara memanjat pagar samping rumah yang cukup rendah.
Setelah perjuangan yang cukup menegangkan, Irene akhirnya bisa keluar dengan selamat. Taksi yang dipesannya tiba tak lama berselang. Hatinya riang gembira bisa kembali berjalan-jalan di kota dengan versi dirinya sendiri.
Irene meminta diturunkan di area alun-alun dan pusat jajanan. Meskipun sudah larut malam, tempat itu tidak sepi. Masih banyak pengunjung yang memadati. Suasana hati Irene ikut bahagia.
Irene membeli satu es krim cone yang ia makan sembari menelusuri keramaian malam. Senyum di wajahnya tak memudar memandangi orang-orang yang tingkahnya ia anggap lucu. Saking terpananya melihat sekeliling, ia sampai tidak hati-hati hingga menabrak seseorang. Es krim yang sedang dimakannya mengotori baju orang lain.
"Ah, maaf ya ... aku tidak sengaja," ucapnya.
❤❤❤❤❤
Halo semua ...
Terima kasih sudah terus mengikuti cerita ini. Banyak sekali yang meminta author untuk up lebih dari satu bab seperti biasa. Mohon maaf, karena aturan, jadi author belum bisa memenuhi permintaan kalian. Tapi, jangan berkecil hati. Bulan depan akan ada karya baru yang semoga bisa up banyak bab seperti biasa.
Love you all 😘
__ADS_1
❤❤❤❤ Spoiler Project 1 Juli 2022 ❤❤❤❤