
"Bibi, hiasan bintangnya mana? Sini biar aku pasang," ucap Irene.
Ia sudah bersiap menaiki tangga yang diletakkan di dekat pohon natal yang dipajang di ruang tengah rumah.
"Nona, Anda jangan naik tinggi-tinggi, nanti jatuh!" kepala pelayan terlihat khawatir melihat tingkah Irene.
"Tidak apa-apa, Bi. Aku sudah biasa memanjat. Kemarikan hiasan bintangnya!" pinta Irene.
Bibi memberikan hiasan bintang di tangannya. Irene membawa naik hiasan itu untuk ia pasang di bagian puncak pohon natal. Ia memang yang paling antusias menghias pohon natal untuk menyambut perayaan keagamaannya.
Tangga yang Irene gunakan tidak cukup dekat untuk menjangkau puncak pohon. Ia sampai berjinjit untuk memasangnya.
"Nona, hati-hati!" kepala pelayan berteriak khawatir saat tangga yang Irene naiki bergoyang.
Gubrak!
"Ah!"
Irene terjatuh dari atas tangga. Beruntung ada Alfa di bawah yang menangkapnya.
"Kamu sedang apa, Irene? Itu berbahaya sekali," gumam Alfa seraya menurunkan Irene dari gendongannya.
Irene hanya bisa tersenyum lebar. "Hiasannya belum terpasang, Kak. Tanganku kurang sampai," katanya.
"Sudah, tinggalkan saja. Kamu, ayo ikut aku!" perintah Alfa.
Alfa membawanya ke satu ruangan di lantai bawah. Di sana sudah ada Tina asistennya.
"Alan memintaku untuk membuatkan gaun pernikahanmu. Sekarang, kamu mau diambil ukuran dulu oleh Tina. Aku mau ke atas," kata Alfa.
Irene hanya mengangguk. Ia tidak tahu kalau Alan sampai menyuruh Alfa untuk membuatkan gaun pengantinnya. Ia tak terlalu bersemangat karena pernikahan itu sebatas menjalankan wasiat dari kakek.
"Sini aku ukur!" kata Tina.
Irene kaget dengan nada bicara asisten Alfa yang terdengar ketus itu. Raut wajahnya juga terlihat sangat tidak menyukainya.
Wanita itu mengambil ukuran badan Irene dengan kasar dan sedikit mendorong-dorong tubuh Irene.
__ADS_1
"Ren, apa kamu ada request khusus untuk gaun pernikahannya nanti?" tanya Alfa yang baru kembali dari kamarnya.
"Kakak rancang saja dulu, kalau ada kekurangan atau tidak aku sukai, nanti aku beritahu," kata Irene.
"Memangnya kamu punya selera fashion yang bagus, ya?" celetuk Tina. "Rancangan Kak Alfa selalu bagus, tidak pernah ada yang merasa tidak puas dengan rancangannya."
Irene semakin heran kenapa wanita itu begitu kasar berbicara padanya, seolah ingin menghina.
"Kamu ada masalah denganku? Memangnya aku tidak boleh berpendapat? Kak Alfa kan bertanya padaku," kata Irene.
"Sudah, sudah ... Tina, kamu tidak sopan pada client-ku. Dia juga calon kakak iparku, kenapa kamu begitu? Pulanglah!" usir Alfa.
Irene tidak menyangka jika Alfa bisa setegas itu pada sang asisten demi membela dirinya.
Tina tak bisa berkata apa-apa. Ia hanya menunduk dan berjalan keluar meninggalkan ruangan itu.
"Apa ada yang salah denganku ya, Kak? Dia kelihatannya tidak menyukaiku." Irene berusaha menahan amarahnya.
Alfa tersenyum. Ia menepuk lembut puncak kepala Irene. "Mungkin dia hanya iri padamu. Sebentar lagi kan kamu akan menjadi istri Alan Narendra."
"Sekalipun aku jelek, apa tidak boleh kalau aku ingin mengenakan rancangan Kak Alfa?" Irene masih menggerutu dengan sikap Kasar Tina kepadanya.
"Terima kasih ya, Kak. Selama ini Kak Alfa selalu baik padaku," kata Irene.
"Kenapa harus berterima kasih?" Alfa tertawa. "Berbuat baik itu kewajiban, kamu tak perlu berterima kasih. Kamu mendapatkan kebaikan karena kamu baik."
Alfa memandangi wajah Irene. Ada rasa tidak rela jika wanita itu akan segera menikah dengan kakaknya. Bukan karena Irene yang kurang layak, tetapi Alan belum membuatnya yakin akan bisa membahagiakan Irene dengan tulus. Ia selalu berharap Irene bisa mendapatkan pendamping hidup yang benar-benar menyayangi dan menerima Irene apa adanya.
Ia masih mengingat momen mengesankan bersama Irene. Wanita itu pernah menyelamatkan acaranya yang hampir gagal. Irene bisa tampak cantik dengan menjadi dirinya sendiri. Ketulusan dan kebaikan hatinya juga turut membuat Irene terlihat istimewa.
Sebenarnya ia juga mau jika disuruh menikah dengan Irene. Namun, hal itu bukan karena dia memiliki perasaan yang romantis terhadap wanita itu. Ia merasa Irene wanita yang baik dan membuatnya ingin melindunginya.
Ia yakin Alan juga memiliki perasaan yang sama sepertinya. Mereka yang awalnya sangat tidak menyukai kehadiran Irene, kini berharap bisa menjaga dan membahagiakannya. Kebaikan Irene selama ini membuat mereka tak bisa mengabaikannya. Irene sudah melekat sebagai bagian dari keluarga Narendra.
"Kak, aku mau ke atas dulu, ya. Terima kasih untuk hari ini," pamit Irene.
"Ah, iya. Nanti kalau rancangannya sudah jadi, akan aku perlihatkan padamu. Jangan sungkan jika ingin meminta revisi."
__ADS_1
Irene tersenyum. Ia melangkah keluar dari ruangan itu. Dipandanginya pohon natal yang telah selesai dihias di ruang tamu. Terlihat begitu indah di matanya.
Irene masuk ke dalam lift naik ke lantai tiga. Di dalam kamar, ia mencari-cari buku yang sudah lama tidak dibukanya.
"Ah, ini dia!" seru Irene saat berhasil menemukan buku yang dicarinya.
Irene membuka lembaran demi lembaran buku yang bersisi gambar desain pakaian yang bernah dibuatnya. Ada sebuah rancangan gaun pernikahan yang dibuatnya sendiri. Ia telah membuatnya setahun yang lalu saat iseng. Suatu saat, ia ingin mengenakan gaun pengantin hasil rancangannya sendiri saat menikah.
Tok tok tok
Pintu kamarnya diketuk. Irene menutup kembali buku itu dan menyimpannya. Ia berjalan ke arah pintu dan membukanya.
Alan terlihat mengembangkan senyum di depan pintunya. "Kamu sudah bertemu Alfa?" tanyanya.
"Iya, Kak. Sudah. Kakak baru pulang?"
Alan mengangguk. "Ke bawah, yuk!" ajak Alan.
"Memang mau apa?" tanya Irene bingung. Ia juga baru saja naik setelah dari bawah.
"Turun saja, nanti juga tahu."
Alan menggandeng tangannya, membawa Irene kembali menaiki lift menuju area bawah. Alan mengajaknya ke area dapur, di sana sudah terhidang aneka makanan di meja. Padahal 30 menit yang lalu, ia lihat belum ada apa-apa.
"Yang lain kemana? Kak Alfa kemana?" tanya Irene. Ia lihat suasana di rumah sudah sepi padahal masih sore. Para pelayan yang tadinya tengah sibuk menghias pohon natal telah menghilang.
"Aku sudah menyuruh para pelayan untuk kembali ke paviliun. Alfa sudah pulang karena ada kerjaan lain. Aku ingin berbicara berdua saja denganmu," kata Alan.
Seketika Irene merasa canggung. Ia tidak nyaman hanya berdua saja dengan Alan.
"Apa kamu mau pergi ke Swiss bersamaku?" tanya Alan.
"Hah?" Irene sampai tercengang mendengarnya.
"Kampusmu kan ada waktu libur satu minggu, bagaimana kalau kita pergi ke Swiss? Di sana sedang musim salju. Siapa tahu kamu ingin bermain salju."
Irene masih tertegun. Ia tidak menyangka kalau dirinya akan diajak ke Swiss oleh Alan.
__ADS_1
"Kita akan berangkat beberapa hari lagi, ya! Jadi, jaga kesehatan dan jangan sampai sakit," pinta Alan.