
"Tunggu sebentar, coba bagian sebelah sini ikut dibelah juga," pinta Alan.
Pegawai tersebut menuruti perintah Alan. Ketika batu terbelah, muncullah semburat warna merah yang indah. Semua orang yang melihat terkejut, termasuk Alenta. Batu itu ternyata batu giok darah yang sangat mahal.
"Wah, Alan, kamu memang benar-benar bermata dewa. Keberuntunganmu sangat besar, selamat, Alan! Ini menakjubkan!" puji Pak Hartawan.
"Pak, buat saya ya, Pak! Bapak hebat ternyata," ucap Alenta.
"Hahaha ... Ini yang dinamakan hobi membawa hoki, Alenta."
"Bagi saya hokinya, Pak!" ucap Alenta.
"Maaf, aku tidak bisa. Aku hanya memberikanmu ilmu, bukan hasilnya," kata Alan.
Alenta memasang wajah kesal.
Alan memandangi batu giok itu dengan kagum dan berniat menjadikannya sebagai bahan promosi untuk ulang tahun perusahaan bulan depan.
***
"Kak Arvy nggak bisa menjemputku hari ini," keluh Irene.
Ia duduk di area taman belakang kampus bersama Ares.
__ADS_1
"Heh! Kamu mendengarkanku apa tidak?" tanya Irene kesal. Sejak tadi Ares terus asyik sendiri dengan ponselnya.
"Jangan berisik! Kalau mau ngobrol, tunggu sebentar! Aku masih sibuk main game!" ucap Ares sembari memainkan jarinya di atas layar dengan lincah.
"Apa sih, cuma game! Kalau kalah juga tidak akan rugi apa-apa!" kata Irene.
"Aduh! Jangan!"
Ares protes. Irene menggunakan jarinya untuk mengganggu permainannya. Ares berusaha menghindar namun Irene terus mengganggunya hingga akhirnya Ares kalah dalam permainan tersebut.
"Hah! Irene!" bentaknya kesal.
Irene hanya tersenyum lebar.
Ingin rasanya Ares mengajak Irene berkelahi, namun ia sadar kalau Irene hanya seorang wanita. Terpaksa ia menyudahi permainan dan menyimpan ponselnya.
"Kak Arvy tidak datang menjemputku."
"Itu urusan kamu. Pulang sendiri sana! Kerjaannya ganggu aku terus!" jawab Ares ketuh.
"Oh, jadi begini ya sifat aslinya ... Kalau butuh saja baik-baik sama aku. Kalau nggak butuh sok tidak kenal." Irene geram dan kesal.
"Kemarin saja mohon-mohon minta tutor. Setelah merasa pintar di kelas, aku dibuang," sindir Irene.
__ADS_1
Ares terdiam tidak bisa bicara. "Kalau kamu tidak membuatku kesal, aku tidak akan marah-marah. Aku sedang bermain game dengan teman, tiba-tiba kamu ganggu di tengah jalan. Bagaimana kalau timku kalah? Aku saja ini tidak berani buka pesan masuk. Pasti mereka banyak yang tanya kenapa permainku di akhir kacau!"
Ares menghela napas. Ia akan kehilangan nama baiknya di tim game yang dimainkannya. Ia sudah dikenal sebagai pengatur strategi dan penyerang handal dalam permainan.
"Memangnya itu turnamen?" tanya Irene.
"Ya ... Bukan juga, sih! Tapi kami sedang rajin berlatih supaya bisa menang kalau ada turnamen."
"Gampang itu! Kalau kamu bisa masuk peringkat lima besar terbaik ujian semester ini, aku akan menemanimu main game seharian. Kamu bisa berlatih strategi denganku."
"Hahaha ...." Ares tertawa meremehkan Irene. "Memangnya kamu bisa main game? Ini bukan game masak-masakan atau rumah-rumahan, Irene! Aku yakin kamu tidak akan paham."
Irene terdiam. Ingin rasanya ia memamerkan kepiawaiannya bermain game yang sudah lama tidak ia gunakan. Irene sudah pernah memenangkan turnamen game bersama timnya.
"Kita lihat saja nanti. Kamu buktikan kalau kamu pintar dalam ujian, baru aku perlihatkan kemampuanku bermain game nanti," tantang Irene.
"Oke. Siapa takut? Kalau kamu payah, kamu harus jadi pembantuku!"
"Oke! Kalau kamu yang kalah, kamu harus mentraktirku di kampus sebulan penuh!"
"Deal?" Ares mengulurkan tangannya mengajak salaman.
"Deal!" kata Irene.
__ADS_1
"Pulang sana!" usir Ares.
"Antar aku pulang!"