Wanita Milik 5 Tuan Muda

Wanita Milik 5 Tuan Muda
Bab 242: Pengusiran


__ADS_3

"Ren, ini untukmu!" Alfa memberikan sebuah amplop coklat kepada Irene.


"Apa ini?" tanya Irene heran membolak-balik amplop yang Alfa berikan padanya.


"Buka saja!" pinta Alfa.


Irene membuka amplop coklat itu. Matanya langsung melebar saat melihat setumpuk uang di dalamnya. "Ini uang untukku?" Irene merasa senang dan tidak percaya dengan pemberian Alfa.


"Hasil kerjamu selama membantuku di butik. Cukup kan untuk beli makanan?"


Irene tersenyum lebar. "Ini sangat cukup untuk jajan satu bulan dan mentraktir teman satu kelas. Terima kasih, Kak," ucapnya.


Alfa tersenyum. "Pakailah untuk apa saja sesukamu. Kalau ada waktu, jangan lupa main ke tempatku. Aku mau pergi dulu ke butik," pamitnya.


"Iya, Kak. Hati-hati di jalan."


Alfa menepuk kepala Irene sebelum pergi. Irene kegirangan mendapatkan gaji dari Alfa. Ada tiga tumpukan uang di dalam amplop coklat itu. Nominalnya 30 juta.


"Pintar sekali kamu memeras putra-putraku."


Senyuman Irene pudar saat terdengar suara wanita di belakangnya. Ia berbalik dan mendapati Indira ada di sana. Ia bingung untuk menunjukkan ekspresi wajah yang tepat.


Sudah satu minggu ia tinggal bersama orang tua Alan. Sangat jelas terasa bahwa Indira tidak menyukainya. Selain punya masalah dengan Alan, ia juga harus menghadapi ibu Alan yang tidak menyukainya.


"Ah, Tante, ini uang dari Kak Alfa karena aku pernah membantunya di butik," ucap Irene.


Indira tersenyum sinis. "Bantuan apa yang kamu berikan sampai dapat uang sebanyak itu? Kamu pasti sangat bekerja keras untuk memeras putra-putraku. Aku dengan perusahaan keluargamu sedang tidak bagus, kan?"


Ucapan Indira sangat terasa tengah menyindir. Irene berusaha bersabar. Perusahaan keluarga Abraham memang tak lagi sejaya dulu. Apalagi kakeknya lebih memilih tinggal di desa dan menyerahkan perusahaan pada orang kepercayaan.


Namun, di luar negeri keluarga Abraham masih memiliki banyak bisnis. Apalagi Hamish juga berhasil menjadi pengusaha kelas internasional yang membuat nama keluarga Abraham semakin dikenal.


"Aku yakin kamu punya niat buruk untuk menguasai putra-putraku. Kamu ini seperti wanita murahan dengan siapa saja mau asalkan bisa dapat banyak uang."


"Maaf, Tante, tarik kembali kata-kata Anda!" Irene tersinggung dengan ucapan itu.


Indira tertawa. "Kenapa aku harus melakukannya? Alan, Alfa, Arvy, dan Ares, semuanya ingin kamu miliki, kan?"


Irene tidak habis pikir dengan tuduhan itu. Hubungan baiknya dengan putra keluarga Narendra bahkan sudah seperti keluarga. Ia tidak pernah punya niat buruk kepada mereka. Di antara keempat tuan muda, ia hanya menyukai Alan.


"Sejak dulu keluarga Abraham memang selalu bersikap licik. Sudah pasti kamu dikirim oleh mereka untuk menghancurkan keluarga ini. Aku tidak akan membiarkanmu merusak putra-putraku!" tegas Indira.


"Aku tidak paham dengan kata-kata Anda, Tante Indira."

__ADS_1


"Keluargamu yang sudah membuat aku berpisah dengan anak-anakku. Dulu keluargamu ingin membunuh kami. Sayangnya kami masih bertahan hidup."


"Aku tidak tahu apa-apa, Tante," kata Irene.


"Mana ada penjahat yang mau mengaku? Kalau memang kamu tidak terlibat, tinggalkan Alan dan pergi dari sini! Putuskan pertunangan kalian!" desak Indira. Ia tahu jika Alan tidak akan berani mengambil keputusan semacam itu. Apalagi putra sulungnya sangat menyayangi kakeknya. Satu-satunya cara adalah membuat Irene menyerah.


"Maaf, Tante. Aku tidak bisa," kata Irene.


"Berarti kamu mengakui niat busuk keluargamu, kan?"


"Aku tidak tahu apa-apa, Tante, aku berani bersumpah."


Plak!


"Dasar wanita murahan!" Indira menampar dan memaki Irene dengan kasar. "Pergi kamu dari rumah ini!" usirnya.


Irene tetap terdiam di tempat sembari menunduk. Ia tak ingin menyerah untuk Alan.


Merasa kesal, Indira menjambak rambut Irene dan memberi pukulan dan Irene sama sekali tak membalas.


"Tolong lepaskan, Tante," pinta Irene dengan baik-baik.


Namun, Indira tidak menggubrisnya. Ia terus memukul dan menjambak rambut Irene dengan kasar.


Saat Irene mencoba membela diri tidak sengaja membuat Indira terjatuh dalam posisi terlentang. Kepalanya membentur lantai.


"Tante, maaf." Irene mengulurkan tangan untuk menolong Indira.


"Ada apa ini?" tanya Alan yang baru keluar dari dalam lift.


Indira menangis. "Aduh, huhuhu ...."


"Mama!" Alan berlari membangunkan ibunya.


Indira mengaduh memeluk Alan sambil menangis. "Dia mendorong Mama, Alan," katanya.


"Kak, aku tidak sengaja." Irene menjadi panik.


"Sudah cukup, Ren. Lebih baik kamu keluar saja dari rumah ini," pinta Alan.


"Kak ...." Irene seakan tak percaya dengan apa yang Alan katakan.


Ares juga baru masuk dari depan merasa heran dengan ketegangan yang tengah terjadi.

__ADS_1


"Mama sudah lama hidup menderita. Aku tidak mau Mama lebih menderita dengan keberadaanmu di sini. Kemasi barangmu dan pergilah! Kita batalkan saja rencana pernikahannya."


Air mata Irene menetes. Alan memarahinya atas apa yang tidak ia lakukan. Bahkan pernikahan mereka ikut dibatalkan karena kesalahpahaman itu. Ia tak bisa lagi berkata-kata.


Irene berbalik badan. Perkataan Alan sudah sangat menjelaskan bahwa tidak ada gunanya lagi ia bertahan di sana. Entah apa kesalahannya sampai ia harus diperlakukan seperti itu.


"Ren,"


Ares menahan tangan Irene namun ditepis. Irene sudah tak bisa lagi mundur. Ia benar-benar akan keluar dari rumah itu.


"Ren, jangan pergi!" Ares membuntuti Irene yang terus berjalan ke arah pintu keluar.


Irene mengusap air matanya. Ia merasa bodoh kenapa harus menangis. Dia biasanya tegar dan tidak seharusnya menangis.


"Jangan menghentikanku, Res. Aku mau pergi," kata Irene.


"Masih ada aku di sini. Kalau Kak Alan tidak menerimamu, aku yang akan mempertahankan kamu."


Irene tersenyum. "Terima masih, Res. Tapi, aku tetap mau pergi."


Ares menghela napas. "Baiklah, mungkin kamu butuh menenangkan diri sejenak di luar. Setidaknya ijinkan aku mengantarmu."


Irene melambaikan tangan menghentikan sebuah taksi yang kebetulan lewat.


"Sampai jumpa, Ares," pamitnya seraya masuk ke dalam taksi.


"Ren ...." Ares masih berusaha membujuk Irene.


"Pak, jalankan taksinya!" pinta Irene.


Taksi segera melaju meninggalkan Ares dan rumah keluarga Narendra. Irene menghela napas. Kehidupannya terasa kian berat setelah mengungkapkan kejujurannya. Ia pergi dengan membawa pakaian yang melekat di tubuh dan ponsel di sakunya. Untung saja ia juga turut membawa amplop uang dari Alfa karena dompetnya juga tertinggal di kamar.


"Berantem sama pacar, ya?" tanya pak sopir.


Irene tertawa. "Tidak, Pak. Aku baru saja diusir dari sana," katanya.


"Loh, kok cantik-cantik diusir? Kenapa?" tanya pak sopir ingin tahu.


"Tidak tahu, Pak. Mungkin karena aku terlalu cantik," canda Irene.


"Hahaha ... Ada-ada saja. Jadi, sekarang mau saya antar kemana?"


"Ke apartemen XXX."

__ADS_1


"Baiklah."


__ADS_2