
"Tapi, bukankah investasi terbaik itu kita melakukan analisa sendiri terhadap kondisi perusahaan yang akan kita jadikan tempat investasi?" ucap Winda.
"Menurutku melakukan analisa sendiri itu terlalu repot karena kita harus mempertimbangkan dari segi analisis fundamental dan analisis teknikal. Itu butuh fokus dan konsentrasi yang lama. Lebih baik menggunakan bantuan jasa manajer investasi." Jeha sepertinya memiliki pendapat yang berbeda dengan Winda.
"Itu bisa menambah biaya, kan? Kita harus menambah pembiayaan untuk membayar jasa mereka."
"Melakukan investasi dengan pendampingan itu lebih baik, apalagi bisa meminimalisir resiko jika kita melakukan sendiri."
"Aku setuju dengan Jeha," sambung Irene. Keduanya langsung menoleh ke arah Irene untuk mendengarkan perkataannya.
"Menggunakan jasa manajer investasi juga ada resikonya kalau mereka tidak amanah," bantah Winda.
"Benar, dunia investasi memang penuh resiko. Sebanding dengan hasil yang bisa kita peroleh. Makanya kita harus selektif memilih jasa manajer investasi yang terpercaya."
"Ada tiga kriteria untuk menentukannya. Yang pertama tentu saja harus legal dan terdaftar di Otoritas Jasa Keuangan (OJK), memiliki track record yang bagus atau tidak pernah terlinat kasus penipuan dan kegiatan ileval, serta dilihat dari kinerjanya dalam prospektus reksadana apakah pergerakan grafiknya wajar atau mencurigakan."
"Intinya, kita harus mengetahui adanya faktor resiko dalam investasi yang akan kita pilih."
"Hah! Kedengarannya seperti seorang dosen yang sedang memberikan perkuliahan. Kata-kata lebih mudah dari pada praktiknya," sahut Meera yang baru keluar dari kamar mandi. Ia ingin tertawa mendengarkan penjelasan dari Irene yang hanya teori semata.
Winda menepuk pundak Irene agar tidak terpancing dengan ucapan Meera. Mereka bertiga memang sedang berlatih membahas materi seputar manajemen, bisnis, dan keuangan yang mungkin saja bisa keluar sebagai bahan materi kompetisi yang sedang mereka ikuti.
Irene sangat ingin membungkam mulut Meera yang tidak bisa berkata baik. Ia heran di setiap tempat pasti ada manusia tipe seperti itu, mengingatkannya pada sosok Sovia yang selalu membuatnya jengkel.
Tok tok tok
Terdengar suara pintu diketuk. Tak lama kemudian, seorang lelaki melongokkan kepalanya ke dalam dan tersenyum ke arah mereka. "Irene, beli jajan di luar, yuk!" ajak Febri, salah satu peserta kompetisi yang dekat dengan Irene karena sempat duduk bersama saat pelatihan.
"Ayo!" Irene langsung bangkit dari duduknya mendengar ada yang mengajaknya jajan. Ia memang suka makan, apalagi kalau gratisan.
"Bawa jajan yang banyak, Ren!" Seru Winda.
__ADS_1
Irene hanya mengacungkan jari jempolnya dan berjalan keluar mengikuti Febri. Lebih baik dia keluar sebentar untuk mendinginkan kepala. Mendengarkan ocehan teman sekamarnya yang bernama Meera membuat kepalanya mendidih. Kalau saja mereka hanya berdua, susah ia ajak duel wanita bermuka sinis itu.
Febri mengajak Irene ke mini market. Ia dibebaskan memilih apa saja yang diinginkan sebanyak mungkin. Febri sebegitu sukanya kepada Irene yang di kelas begitu menyenangkan diajak diskusi. Baru kali ini ia bertemu dengan peserta kompetisi yang menganggap saingannya sebagai teman. Bahkan Irene tidak sombong meskipun dalam tahap seleksi karyanya menjadi yang terbaik.
"Apa ini tidak terlalu banyak untukku? Aku jadi kelihatan serakah meminta traktir sebanyak ini," ucap Irene saat menenteng dua kantong besar camilan.
Febri hanya tertawa kecil. "Tenang saja, uangku tidak habis hanya untuk membelikanmu jajanan ini."
"Boleh aku bagi dengan teman-temanku, kan?" tanya Irene.
"Boleh dong. Sini aku bantu bawakan!" Febri mengambil kantong belanja dari tangan Irene. Ia tahu wanita itu sudah tidak sabar untuk menikmati es krim. Febri tak mengalihkan perhatiannya dari wanita yang tampak bahagia menikmati es krimnya.
"Irene!"
Langkah mereka terhenti saat Alan tiba-tiba muncul di depan mereka.
"Irene, aku masuk dulu, ya. Nanti ini aku antarkan ke kamarmu," ucap Febri. Sepertinya ia ingin memberi waktu kepada Irene bertemu dengan Alan.
"Siapa dia?" tanya Alan penasaran.
"Teman di kompetisi. Kak Alan kenapa datang ke sini?"
Alan menyodorkan bungkusan berisi oden kepada Irene.
"Wah ... oden ... Kak Alan memang yang terbaik!" Irene kegirangan menerima kiriman jajanan kesukaannya. Entah mengapa ia merasa nasibnya sangat beruntung, ada banyak orang yang memberikan makanan padanya.
"Bagaimana di sini? Apa kamu merasa nyaman?"
"Tentu! Di sini sangat menyenangkan." jawab Irene semangat. Ia merasa lebih bebas karena bisa keluar dari rumah Alan. Apalagi ada banyak orang-orang baik yang ditemuinya di sana. Meskipun, tetap saja ada orang menyebalkan seperti Meera.
Alan mengusap puncak kepala Irene. Seharian tidak bertemu dengan wanita yang kadang menyebalkan itu ternyata membuatnya sedikit kesepian. Ia sengaja berkunjung ke sana hanya untuk memberikan oden yang ia beli dari depan kantor.
__ADS_1
"Kak, aku masuk dulu ke dalam, ya! Sebentar lagi ada pertemuan. Aku juga mau makan oden dari Kak Alan dulu."
Alan mengangguk. "Masuklah!"
Irene melambaikan tangan seraya berlari memasuki gedung yang menjadi tempat pelatigannya. Sementara, Alan masih berdiri di sana memikirkan lelaki yang tadi bersama Irene. Ia penasaran ingin mengetahui tentang wanita itu. Diambilnya ponsel dari dalam kantong celananya untuk menghubungi seseorang.
"Tolong berikan data mahasiswa yang mengikuti pelatihan kompetisi di gedung XXX secepatnya!" Entah siapa yang Alan hubungi, sepertinya dia menginginkan data lelaki bernama Febri itu.
*
*
*
Pertemuan bimbingan segera dimulai saat seluruh peserta telah hadir di ruangan Ibu Hera membawa rumpukan lembar kerja yang kemarin dikerjakan dan telah dinilai.
"Hanya satu anak yang berhasil menyusun pencatatan, analisa, sampai pelaporan dengan baik. Yang lainnya masih ada beberapa kekurangan karena tidak teliti."
Suasana menjadi sedikit ribut karena peserta mulai membahas siapa yang kira-kira akan berhasil menyelesaikan tugas Ibu Hera dengan baik.
"Pasti Hansen! Dia sejak kemarin selalu menonjol di kelas. Argumen yang disampaikan juga tertata rapi. Aku yakin dia," ucap Meera dengan percaya diri.
"Wah, Hansen, pasti kamu, kan?" tanya Febri seraya menepuk pundaknya ikut bangga. Irene juga tersenyum ke arah Hansen. Kemarin merasa sedikit kalah saat adu argumen dengan Hansen.
"Bukan, itu bukan aku," kilah Hansen. Ia menyadari kemarin ada bagian yang terlewatkan olehnya. Tidak mungkin dia yang menjadi juaranya.
"Peserta terbaik untuk sesi kemarin adalah Irene Abraham. Tepuk tangan untuk Irene," ucap sang guru.
Febri bertepuk tangan paling kencang saat nama Irene disebut. Ia sangat senang nama wanita yang duduk di sebelahnya menjadi peserta terbaik di sesi kemarin.
Semua orang yang ada di sana bertepuk tangan seraya memberikan kekaguman kepada sosok Irene. Sementara, Irene hanya tersenyum kaku, tidak menyangka namanya akan dipanggil. Ia berdiri dari tempat duduknya dan tersenyum kepada teman-temannya sebagai ucapan terima kasih atas dukungannya. Hanya satu orang yang berwajah muram saat nama Irene disebut. Meera tidak menyangka jika Irene bisa sehebat itu menjadi yang terbaik dk kelas.
__ADS_1