
Irene telah kembali dari Iran bersama Alan. Ia sengaja memisahkan diri di bandara dengan alasan ada urusan sendiri. Padahal, ia hanya masuk ke dalam toilet untuk berganti identitas menjadi Irene yang kampungan. Hari ini juga waktunya ia kembali dari kampung ke kediaman keluarga Narendra. Ia melepaskan identitasnya sebagai Alenta untuk sementara.
Setelah lama puas menjadi dirinya sendiri, ia akan kembali pada rutinitas memoleskan krim khusus yang membuat warna kulitnya lebih gelap. Berkat racikan dokter kepercayaannya, kini krim yang ia pakai lebih nyaman dari pada sebelumnya. Efek yang ditimbulkan dari pemakaian krim tersebut juga bisa dikatakan hampir tidak ada, karena krim tersebut seperti pengganti tabir surya.
Irene menaiki taksi menuju kediaman Narendra. Alan tentu saja belum pulang karena sudah bilang akan mampir ke perusahaan terlebih dahulu. Ia jadi rindu dengan rumah itu.
"Kakek ...." Irene langsung berlari menghampiri sang kakek yang sedang duduk di ruang tengah sembari membaca buku. Tanpa sungkan, Irene langsung memeluk Kakek Narendra dengan perasaan bahagia.
"Bagaimana liburanmu di kampung? Sudah puas menghabiskan waktu lama di sana?" tanya kakek.
Irene meringis hingga gigi-giginya yang tertata rapi itu terlihat. Ia sebenarnya hanya menghabiskan waktu selama tiga hari di kampung kakeknya, karena setelah itu ia langsung pergi ke Iran mendampingi Alan selama 10 hari.
"Aku suka suasananya yang sejuk, Kek. Tapi, kalau masalah komunikasi, aku menyerah di sana. Pokoknya seperti orang primitif, tidak tahu kabar tentang dunia luar."
"Bagaimana kondisi kakek dan nenekmu?"
"Mereka kelihatan sehat dan bahagia kalau aku lihat-lihat."
"Hah ... Aku jadi iri membayangkan kehidupan mereka. Seandainya aku bisa tinggal di desa. Sayangnya, masih ada lima lelaki bodoh yang harus aku urus!" gumam kakek.
"Siapa lelaki bodoh itu, kek?" sahut Alex yang baru keluar dari lift. Ia tampak senang melihat kehadiran Irene di sana. "Akhirnya pulang juga. Sepi rumah tidak ada kamu. Dua minggu rasanya sangat lama." Alex menepuk kepala Irene seraya duduk di sebelahnya.
"Kak Alex tidak pergi bekerja?" tanya Irene.
"Tidak. Aku sudah cukup jarang juga mengurusi kantor. Sekarang sudah ada Kak Alan yang lebih kompeten mengurus perusahaan," jawab Alex dengan mengulaskan senyum.
Sejenak Irene menatap wajah Alex dalam-dalam. Sepertinya lelaki itu tengah memendam luka di hatinya yang ditutupi oleh senyuman. Sejak dulu, ia tidak pernah memperlihatkan sikap kesal atau marahnya. Menurut Irene, Alex merupakan manusia tersabar yang pernah ditemuinya. Meskipun perlakuan kakek agak berbeda kepadanya, Alex terlihat santai menyikapi. Sepertinya ia sudah tahu jika kakek hanya mengandalkan Alan sebagai cucu kesayangannya.
"Oh, iya! Aku ada hadiah untuk Kakek, oleh-oleh khas dari kampung. Ini buatan Kakek dan Nenek di sana."
__ADS_1
Irene meletakkan kantong berwarna coklat dan meletakkan di atas meja. Ia mengeluarkan isi di dalamnya, ada beraneka ragam kue kering yang biasa dibuat oleh masyarakat di kampung halaman kakek nenek Irene. Ada kue sagon, grubi, kue jahe, dan rengginang. Sebelum pergi ke Iran, ia meminta sang nenek menyiapkan jajanan tersebut untuk di kirim ke alamat rahasianya. Seolah-olah Irene memang baru pulang dari kampung.
Kakek tampak kegirangan dengan oleh-oleh yang Irene bawa. Ia serasa bernostalgia pada masa zaman muda dulu. Makanan seperti itu selalu mengingatkannya pada kampung halaman.
"Kamu hanya memberikan oleh-oleh untuk Kakek? Buat Kak Alex mana?" protes Alex.
"Jangan khawatir, Kak. Aku juga membawwkan sesuatu yang pasti akan Kakak suka." Irene merogoh tasnya untuk mengambil sesuatu. "Tada ... Ini album Hyena dan tanda tangannya serta ucapan untuk Kak Alex!" seru Irene dengan semangatnya sembari memamerkan album di tangannya.
Alex langsung merebut benda itu dari tangan Irene. Di sana benar-benar ada ucapan untuk Alan dan tanda tangan Hyena. Alex merupakan penggemar berat Hyena. Lagu-lagunya selalu ia putar untuk mengiringi dirinya saat bekerja.
"Kenapa kamu tidak bilang-bilang bisa bertemu Hyena? Aku juga mau bertemu langsung dengannya. Apa kamu mengajak dia foto?" Alex bertanya dengan antusias.
Irene menggeleng. "Hyena paling tidak suka difoto. Dia juga tidak suka wajahnya dikenali orang lain. Aku saja tidak tahu seperti apa wajah aslinya, Kak! Dia selalu pakai masker."
"Tapi, tidak apa-apa, deh! Ini juga sudah sangat cukup membuatku senang. Sebagai ucapan terima kasih, kapan-kapan aku akan mentraktirmu," ucapnya.
"Siap!" Irene senang mendengar kata traktir diucapkan oleh Alex.
"Terima kasih ya, Kak, sudah mengantarku ke kampus," ucap Irene.
"Tunggu sebentar!" Alex menghentikan Irene yang hendak masuk ke kelasnya.
"Kenapa, Kak?" tanyanya.
"Jangan lupa nanti malam aku akan mentraktirmu," ucap Alex.
Irene membulatkan mata. Ia kira traktirannya kapan-kapan, ternyata nanti malam. "Tapi, aku belum tahu nanti malam bisa atau tidak, Kak," jawabnya ragu.
"Pokoknya, kamu harus datang. Aku akan menunggu!" Tanpa berbicara lebih lanjut, Alex segera menjalankan mobilnya meninggalkan Irene.
__ADS_1
Terpaksa Irene akan memikirkan acara nanti malam dengan Alex. Padahal, ini hari perdananya kuliah, pasti akan ada banyak teman yang mengajak main ke luar. Ia juga belum bertemu dengan teman baiknya, Bian.
"Irene!" seru seseorang dari kejauhan sembari berlari menghampiri Irene.
Irene sampai menyipitkan matanya demi mengetahui siapa mahasiswa yang memanggil namanya. Saat sosok lelaki itu sudah tepat berada di hadapannya, ia sampai ternganga melihat siapa yang datang.
"Bian!" serunya. Lelaki itu telah berubah drastis menjadi lebih keren. Bian yang sekarang sudah tidak mengenakan kacamatanya. Irene hampir tak mengenalinya. Padahal, ia juga niatnya ingin membantu merubah penampilan Bian agar lebih keren. Karena ia terlalu sibuk, ia hanya memberi beberapa saran agar Bian melepas kacamata dan mengganti dengan softlense serta menggunakan produk perawatan wajah.
"Cie, temanku jadi ganteng ...," ledek Irene.
"Apaan, sih! Lama nggak ketemu, dihubungi juga tidak bisa. Kamu kemana?" tanya Bian.
"Aku pulang kampung. Ini juga baru pulang kemarin."
"Ck! Awal semester sudah bolos," gumam Bian.
"Demi ini tentunya ...." Irene mengeluarkan album milik Hyena dan memamerkannya pada Bian.
"Weh ... Gila! Kamu bisa dapat ini?" Bian langsung merebut benda itu dari Irene. Lelaki itu tampak terpukau dengan album milik Hyena yang didamba-dambakannya. Bahkan ada tanda tangan dan ucapan untuk dirinya. Ia rasanya ingin pingsan saking bahagianya.
"Kalau mau bertemu dengan Hyena lagi, ajak aku, Irene! Aku fans beratnya," ucap Bian bersemangat.
"Aku akan pikirkan itu kalau kamu mau mentraktirku selama satu bulan," pinta Irene.
"Ck! Dasar manusia pengejar gratisan!" Bian mendorong kepala Irene.
"Oh, iya. Apa di kelas kita ada mahasiswa baru yang namanya Jeha dan Winda?" tanya Irene. Dulu, keduanya sempat bilang ingin pindah ke kampusnya.
Bian mengerutkan dahi merasa heran. "Iya, benar. Kamu kenal mereka?" tanyanya.
__ADS_1
"Mereka temanku waktu lomba."