Wanita Milik 5 Tuan Muda

Wanita Milik 5 Tuan Muda
Bab 240: Di Bandara


__ADS_3

Irene duduk termenung di halaman samping rumah sembari melemparkan makanan ikan ke dalam kolam. Perbincangan yang ia dengar dari kakek dan neneknya masih ia pikirkan sampai ia kembali lagi ke rumah Keluarga Narendra.


Ia tidak percaya jika dirinya bukan cucu kandung kakek dan neneknya. Ia punya koleksi foto bayi bersama ayah dan ibunya yang telah meninggal. Memang, ia hanya tak mengingat kalau ia punya seorang adik yang usianya terpaut dua tahun darinya.


Kakek dan nenek membesarkannya dengan penuh kasih sayang. Ia juga tidak percaya jika mereka hanya memanfaatkannya untuk mencari Zayn. Menurutnya hal itu sama sekali tidak ada hubungannya sama sekali. Bahkan ia tak mengingat untuk mencari adiknya.


"Ren!"


Irene menoleh ke arah suara yang memanggilnya. Ares tampak berjalan dari arah dapur menghampirinya.


"Ikut aku sekarang!" pintanya.


Irene tertegun. "Ikut kemana?" tanyanya heran.


"Menjemput Kak Alan di bandara. Orangtuaku sudah ditemukan," ucap Ares.


"Benarkah?" Irene turut senang mendengarnya.


"Mau ikut nggak?" tanya Ares lagi.


Irene mengangguk. Ia menerima uluran tangan Ares yang membantunya berdiri.


"Aku ganti baju dulu, ya!" kat Irene. Setidaknya ia ingin tampil rapi saat bertemu dengan calon mertuanya. Saat ini ia hanya mengenakan kaos putih polos dan celana jeans biru yang belum sempat diganti dari kampus.


"Tidak usah, ngapain ganti, memangnya kita mau datang ke pesta?" ujar Ares. "Seperti itu juga sudah bagus biar samaan denganku."


Ares menarik tangan Irene dan membawanya melangkah cepat menuju halaman depan. Di sana sudah ada dua orang sopir yang akan mengantar mereka ke bandara.


"Tuan Muda dan Nona mau naik yang mana?" tanya salah seorang sopir.


Ares membawa Irene masuk ke dalam mobil alphard warna putih dan duduk nyaman di kursi belakang. Mobil yang membawa mereka melaju lebih dulu disusul kemudian mobil alphard satunya.


"Bagaimana kondisi mereka?" tanya Irene ingin tahu.


Ia merasa sedih karena selama satu minggu Alan pergi tak sekalipun mengabarinya. Srmua informasi ia tahu hanya dari Ares, bukan langsung dari mulut Alan.

__ADS_1


"Aku juga belum bisa memastikannya. Kata Kak Alan mereka baik-baik saja."


"Syukurlah kalau begitu," ucap Irene.


Sepanjang perjalanan ia membayangkan bagaimana respon orang tua Alan nantinya ketika mereka bertemu.


"Kira-kira mereka seperti apa, ya?" gumam Irene.


"Kamu bisa lihat sendiri kan dari anak-anak yang mereka lahirkan? Tentu saja papa mamaku pasangan yang cantik dan tampan," celetuk Ares.


Irene melirik sinis dengan kesombongan lelaki di sebelahnya.


"Ini foto mereka waktu dulu."


Ares menyerahkan selembar foto kepada Irene. Di foto tersebut ada sepasang suami istri yang masih tampak muda bersama lima orang anak.


"Bayi ini kamu, ya?" tanya Irene.


"Iya. Aku anak yang paling kecil." jawab Ares.


"Paling kecil tapi juga paling tengil," tambah Irene.


Setibanya di bandara, Ares dan Irene segera menuju ke area kedatangan internasional. Menurut jadwal, pesawat yang Alan naiki seharusnya tak lama lagi akan tiba di bandara.


"Oh, kalian sudah sampai juga di sini," sapa Arvy yang ternyata telah lebih dulu berada di sana.


Ia mengenakan topi serta masker wajah untuk menutupi identitasnya di tempat umum. Kalau ketahuan dia ada di sana, biasanya akan ada penggemar yang meminta foto bersama.


"Kak Arvy datang sendiri?" tanya Ares heran.


"Ya, aku kabur dari kantor. Kalau aku ijin juga paling tidak akan dikabulkan oleh Marco."


"Loh, itu Hyena, ya?"


Beberapa orang yang lewat di depan mereka ternyata mengenali Irene. Ketiganya langsung merasa panik.

__ADS_1


"Kenapa tidak pakai masker dari rumah, bodoh! Atau lebih baik kamu menyamar jadi Irene jelek supaya tidak ketahuan!"


Arvy memarahi Irene dengan nada lirih. Ia khawatir penyamarannya juga akan terbongkar jika berada di dekat Irene.


"Hyena, bisa kami minta foto sebentar?" pinta salah satu dari mereka.


"Aku tunggu kalian di ruangan khusus! Jangan menunggu Kak Alan di sini!" kata Arvy. Ia segera melangkah pergi ke tempat yang dirasa lebih aman.


"Ares, tolong fotokan sebentar, ya!" pinta Irene.


Ia sebenarnya merasa canggung dikenal oleh banyak orang sebagai Hyena. Ini kali pertamanya dimintai berfoto dengan penggemar.


Irene hanya menyanggupi untuk berfoto dengan beberapa orang. Sebelum kerumunan semakin banyak, ia memutuskan untuk pergi. Ares meminjamkan topinya kepada Irene dan mengajak wanita itu berlari menyusul Arvy.


Setibanya di ruangan khusus yang telah disewa untuk menyambut kedatangan Indira da Vito, ternyata kedua orang tua Ares itu sudah ada di sana. Tampak Alan dan Arvy tengah bersama dengan ayah dan ibu mereka.


"Apa itu Ares?" tanya Indira dengan mata berkaca-kaca.


"Iya, Ma. Itu Ares," kata Alan.


Indira tak kuasa menahan air matanya yang menetes. "Ares, kemarilah! Ini Mama," panggilnya.


Ares masih tertegun melihat kedua orang tuanya. Mereka terlihat lebih tua jika dibandingkan dengan foto yang biasa dilihatnya.


Ares berusaha untuk mendekat. Indira langsung mendekapnya sembari menangis tersedu-sedu. Butuh beberapa saat sampai tangisan Indira akhirnya bisa mereda.


"Kamu, kemarilah!" panggil Vito.


Irene merasa keheranan karena merasa dirinya dipanggil oleh lelaki yang tengah duduk di atas kursi roda itu.


Tampak Indira memandang tak suka ke arah Irene. Ia sudah tahu siapa wanita itu dan sangat berharap tak akan mendapatkan menantu semacam itu.


Irene berjalan mendekat ke arah mereka dengan perasaan canggung. Meskipun ia calon istri Alan, tapi sepertinya lelaki itu sengaja berpura-pura tak mengenalnya.


"Selamat datang, Om Vito dan Tante Indira. Perkenalkan nama saya Irene," kata Irene dengan nada yang sopan.

__ADS_1


"Dia calon istri Kak Alan," celetuk Arvy.


"Oh, jadi kamu Irene yang Alan ceritakan waktu itu?"ujar Vito.


__ADS_2