
"Kenapa Kakekmu tidak datang sendiri ke sini?" tanya Tuan Damian.
"Kondisi kesehatan kakek saya kurang baik. Sehingga Beliau meminta saya menggantikannya."
Tuan Damian tersenyum. "Aku kira dulu kamu tidak akan tertarik melanjutkan bisnis keluarga. Ternyata kamu pantas dan kompeten mengurusi bisnis kakekmu." ia memberikan tatapan bangganya kepada Alan.
Ini pertama kalinya Alan datang ke tempat Tuan Damian. Kakeknya belum pernah menyebut nama itu sebelumnya. Apalagi di rumah itu ada Alenta yang semakin membuatnya penasaran.
'Aku yakin wanita yang tadi pasti Alenta. Meskipun dandanannya tidak seperti biasanya, dia pasti Alenta. Apa dia punya kembaran?' pikiran Alan dipenuhi rasa penasaran kepada wanita yang ia temui di jalan depan mansion tadi.
"Monsieur, le dîner est prêt." seorang pelayan datang memberitahukan bahwa makan malam telah mereka persiapkan.
"Alan, ayo kita makan malam bersama," ajak Tuan Damian.
"Ah, tapi, sepertinya saya sudah terlalu lama bertamu di rumah Anda," ucap Alan. Ia sebenarnya ingin menolak karena tidak nyaman menikmati makan malam di rumah orang asing.
"Tidak perlu sungkan, anggap saja rumah sendiri. Nanti akan aku perkenalkan kepada keponakanku yang cantik."
Mendengar Damian mengatakan hal tersebut, Alan bersedia makan malam di sana. Ia yakin wanita yang dimaksud untuk dikenalkan padanya adalah Alenta.
Saat makan malam tiba, pandangan Alan tak bisa teralihkan dari sosok Alenta yang menuruni tangga menggunakan gaun anggun serta riasan yang membuat wanita itu tampak semakin cantik. Mau diperhatikan berapa kalipun, ia tetap yakin jika itu adalah Alenta.
"Bonsoir, mon oncle," sapa Alenta saat tiba di ruang makan. Ia duduk di sebelah pamannya sembari menghindari tatapan Alan kepadanya.
"Sudah, jangan pakai Bahasa Perancis terus!" tegur sang paman. "Kenalkan, ini Tuan Alan dari Indonesia yang menggantikan kakeknya untuk mengunjungi paman."
__ADS_1
Alenta tersenyum kaku pada Alan, "Bonsoir, Monsieur Alan," ucapnya.
"Alan, ini keponakanku yang tadi aku ceritakan. Dia bisa Bahasa Indonesia kok. Namanya ...."
"Alenta Miguel, panggil saja Alenta!" Ia lebih dulu menjawab sebelum pamannya lupa menyebutkan nama aslinya.
Alan hanya mengangguk-angguk saja. Akhirnya wanita itu mau juga mengaku sebagai Alenta. "Dia pasti mau pura-pura tidak kenal denganku," guman Alan lirih.
Makan malam berlangsung dengan canggung, terlebih antara Alan dan Alenta. Alenta tidak berani menatap Alan. Ia biarkan Alan asyik mengobrol dengan pamannya hingga akhirnya acara makan malam itu berakhir.
"Mon oncle, je veux me promener un peu dehors," (Paman, aku mau jalan-jalan ke luar sebentar), ucap Alenta.
"Oh, kebetulan sekali. Ajak Alan sekalian untuk jalan-jalan bersamamu. Dia juga harus tahu kalau lingkungan tempat tinggal kita sangat indah," ucap Paman Damian.
Alenta tersenyum kaku. Niat hati ingin kabur dari meja makan malah disuruh pergi bersama Alan. Ia tak ada alasan untuk menolaknya. Terpaksa, Alenta memenuhi kemauan sang paman untuk membawa Alan jalan-jalan.
"Que veux-tu dire?" (apa maksudmu?) tanya Alenta.
Alan ingin tertawa. Sampai akhir, wanita itu masih berpura-pura sebagai orang Perancis. "Apa kamu tidak lelah memakai bahasa asing terus? Tidak usah berpura-pura lagi kalau kamu tidak mengenalku."
Alenta menghela napas. Akhirnya Alan tidak bisa lagi dikelabuhi. 'Asal jangan identitas asli Irene saja yang ketahuan,' batinnya.
"Bosan bertemu Bapak lagi di sini! Niat saya mau liburan kenapa harus bertemu Bapak lagi, Bapak lagi ...," protes Alenta.
"Kamu pikir aku membuntutimu atau tahu kalau kamu bakal pergi ke tempat ini?"
__ADS_1
"Siapa tahu kan begitu," ucap Alenta.
"Aku jadi curiga kalau kamu bakat menipu orang. Pintar juga berpura-pura jadi orang lain. Awalnya aku juga hampir tertipu. Aku kira kamu memang benar-benar wanita asli sini, hanya mirip saja dengan Alenta."
"Hahaha ... Mana bisa aku menipu Bapak Alan ...." Alenta jadi gugup sendiri. Akan gawat kalau Alan tahu selama ini ia adalah Irene. "Bapak kapan mau pulang?" tanya Alenta.
Alan mengernyitkan dahi. "Kenapa? Apa kamus sedang berusaha untuk mengusirku?" tanyanya. "Apa ada yang kamu sembunyikan? Sepertinya sangat mencurigakan?"
Alan mendekatkan wajahnya kepada Alenta, ia mencermati betul-betul wajah wanita yang ada di hadapannya.
Alenta berusaha mengalihkan pandangannya dan menghindari Alan. "Bukan itu alasannya, tapi keberadaan Anda sangat mengganggu ketenangan liburan saya. Bahkan tadi Paman Damian sampai menyuruh untuk menemani Anda jalan-jalan. Memangnya saya di sini untuk bekerja menemani Anda?" gerutunya. Tiba-tiba ia teringat momen terakhir bekerja bersama Alan. Saat itu ada Amina, ia sangat kesal dengan perlakuan Alan yang kurang peduli padanya.
Tujuan Alenta ikut Hamish ke Perancis untuk menenangkan diri agar tidak bertemu dengan Alan. Lagi-lagi ia harus bertemu dengan wajah menyebalkan lelaki itu.
"Kenapa jadi kamu yang marah-marah? Seharusnya aku yang marah!" Alan balik menggerutu kepada Alenta.
"Kenapa Bapak marah? Memangnya saya salah apa?" tanya Alenta keheranan.
"Kamu tiba-tiba hilang waktu kita di penginapan. Kenapa pulang tanpa bilang-bilang?" protes Alan.
"Saya kan sudah bilang ke pegawai penginapan, Pak!"
"Memangnya kamu dibayar pegawai penginapan itu? Aku yang membayarmu untuk ada di sana. Enak saja kamu main pergi seenaknya!"
Alenta tercengang. "Memang apa pengaruhnya keberadaan saya di sana, Pak? Jadi obat nyamuk?" bantahnya.
__ADS_1
"Kamu saya bayar untuk jadi penerjemah saya."
Alenta tertawa kecil. "Sepertinya Bapak sudah tidak memerlukan saya. Anda sudah lumayan bisa Bahasa Persia. Lagipula, agenda malam itu hanya makan malam, kan? Saya takut mengganggu kalian."