
Suasana malam yang tenang menyelimuti perusahaan ketika Alex melintasi lobi. Di tengah langkahnya, dia disapa oleh Pak Jono, satpam perusahaan yang telah lama mengenalnya.
"Selamat malam, Pak Alex. Kerja lembur lagi hari ini?" tanya satpam perusahaan saat Alex berjalan melewati lobi.
Alex menyunggingkan senyum. "Iya, Pak Jono. Dapat shift malam lagi?" tanyanya balik.
"Iya, Pak. Kok tumben ya, perusahaan banyak yang lembur akhir-akhir ini? Apa ada masalah lagi?" tanya Pak Jono khawatir. Ia pernah sempat terancam PHK saat kondisi perusahaan kurang baik.
"Tidak apa-apa, Pak. Biasa, kalau ada pergantian kepemimpinan memang perlu penyesuaian jadi banyak yang lembur supaya data-datanya sinkron," kata Alex.
"Jangan seperti dulu lagi, ya, Pak. Saya lebih suka Pak Alex seperti ini," kata Pak Jono.
Alex mengulaskan senyum. Satpam itu memang sudah lama bekerja di sana sehingga pasti tahu bagaimana kinerjanya selama ini.
"Nah, itu Ibu Erika juga baru keluar," kata Jono.
Alex menoleh ke belakang. Tampak Erika berjalan ke arahnya.
"Selamat malam, Bu Erika. Baru mau pulang, ya?" tanya Pak Jono.
Erika tersenyum. "Iya, Pak. Saya duluan, ya."
Alex tertegun. Erika sama sekali tidak menyapanya. Bahkan tatapan Erika seolah tidak melihat ia ada di sana. Erika berlalu begitu saja melewati mereka.
"Calon suami Bu Erika ganteng, Pak. Wajahnya sangat bule. Saya beberapa kali lihat dia menjemput Bu Erika," kata Pak Jono.
Kata-kata Pak Jono membuat perasaan Alex semakin penasaran. Ia mengikuti dengan pandangannya arah pergerakan Erika. Melalui jendela, dia melihat Erika menghampiri sebuah mobil berwarna kuning. Seorang lelaki keluar dari mobil itu sambil memberikan bunga kepada Erika, dan mereka berpelukan. Perasaan panas menjalar dalam tubuh Alex.
Meskipun dia tahu lelaki itu adalah calon suami Erika, namun melihat kedekatan mereka membuatnya merasa tidak enak. Alex merasa bahwa lelaki itu telah memberikan pengaruh yang tidak baik terhadap Erika, seorang sahabatnya. Pikiran Alex melayang ke potensi Erika dalam dunia bisnis, namun sekarang dia akan menyerahkannya kepada lelaki itu.
Namun, keputusan yang lebih berat menanti Alex. Erika akan meninggalkan perusahaan dan mengikuti suaminya. Alex harus merelakan Erika, orang yang berharga baginya, pergi dan menempuh jalannya sendiri. Dia juga akan kehilangan seorang sahabat sejati.
Erika menghampiri sebuah mobil berwarna kuning. Seorang lelaki turun dari sana memberikan bunga lalu berpelukan. Ada rasa panas yang menjalar dalam tubuh Alex.
***
(Pov Erika)
__ADS_1
Suasana lobi perusahaan terasa begitu hening ketika Erika melintasinya. Langkahnya yang ragu terdengar samar-samar di tengah gemuruh kehidupan korporat yang berjalan di sekelilingnya. Mata Erika tertuju pada satpam perusahaan, Pak Jono, yang berdiri tegak dengan senyum hangat di wajahnya.
"Selamat malam, Bu Erika. Kerja lembur lagi?"
Erika menyusun senyuman palsu di wajahnya, seolah-olah tak merasakan getaran hatinya yang tak menentu.
"Selamat malam, Pak Jono. Iya, sedang ada urusan penting."
Erika berusaha meyakinkan dirinya bahwa pertemuan ini hanya kebetulan dan tidak ada yang mencurigakan. Tetapi hatinya bergemuruh, berharap agar Alex tidak melihat ketidaknyamanannya. Namun, dalam sekejap mata, tatapannya berpindah ke arah Alex yang berdiri di dekat Pak Jono.
Dalam detik itu, Erika merasa darahnya membeku. Seolah-olah waktu berhenti sejenak, dia terpaku di tempat. Erika berusaha menyingkirkan kehadiran Alex dalam pikirannya, mencoba untuk mengabaikannya dengan sekuat tenaga. Dia pura-pura tidak melihat Alex, seolah-olah dia adalah sosok tak terlihat di lobi yang penuh tekanan.
"Calon suami Bu Erika tampan sekali, Bu. Wajahnya sangat berkulit putih. Saya beberapa kali melihat dia menjemput Bu Erika."
Kata-kata Pak Jono melukai hati Erika yang terluka. Dia mencoba menahan rasa cemburu yang meluap di dalam dirinya. Seolah-olah tidak peduli, Erika melanjutkan langkahnya menuju pintu keluar lobi, meninggalkan Alex dalam kehampaan yang tak terucapkan.
Di dalam mobil berwarna kuning yang mewah, Erika duduk di samping Edward, calon suaminya. Udara terasa tegang, tetapi senyuman dipaksakan untuk menghiasi wajah mereka. Mereka terlihat seperti pasangan yang harmonis dan penuh cinta.
"Bagaimana hari kerjamu? Apakah semuanya berjalan lancar?" tanya Edward.
"Ya, lumayan. Proyek baru sedang berjalan dan cukup menantang," jawab Erika.
Edward menggenggam erat tangan Erika, mencoba memberikan dukungan dan rasa aman yang dia butuhkan.
"Kamu luar biasa dalam pekerjaanmu. Setelah menikah nanti, kita akan berbisnis bersama," ucap Edward seraya mencium punggung tangan Erika.
Perlakuan lelaki itu begitu romantis, sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Erika seakan menghabiskan hidup yang sia-sia dengan mencintai Alex tanpa perasaan yang sama. Bahkan ada lelaki sebaik itu masih belum bisa meluluhkan hatinya.
"Kita pergi ke toko perhiasan dulu, ya?" ajak Edwar.
Erika menyunggingkan senyum. "Boleh."
Edward segera melajukan mobilnya meninggalkan parkiran perusahaan Erika. Mereka hendak pergi ke salah satu pusat perbelanjaan membeli perhiasan untuk keperluan pernikahan.
Edward terus menggandeng tangan Erika ketika mereka sampai di tempat tujuan. Ia berusaha mengajak wanita itu bicara dan membuatnya nyaman.
Mereka belum lama saling kenal. Rencana pernikahan juga dari hasil perjodohan kedua keluarga.
__ADS_1
"Kamu suka yang mana?" tanya Edward ketika mereka berada di gerai perhiasan mewah. Edward memberikan beberapa pilihan kalung berlian yang berharga fantastis.
"Semuanya bagus, pilihkan satu untukku," pinta Erika.
Edward tersenyum. "Aku coba pasangkan dulu ke lehermu," katanya.
Erika mengangguk. Ia meraih rambutnya dan mengarahkan ke satu sisi agar Edward mudah memasangkannya. Usai kalung itu terpasang, Edward secara tiba-tiba menciumnya.
"Kamu kelihatan cantik memakai itu," ucapnya.
Erika tersenyum kikuk.
"Jadi, mana yang akan Anda pipih?" tanya sang pelayan toko.
"Ah, aku ambil semua yang ini," kata Edward dengan entengnya menunjuk perhiasan-perhiasan yang tadi minta dilihat.
Erika melebarkan matanya. "Kenapa dibeli semua? Satu ini saja sudah cukup, Edward," ucapnya.
"Tidak apa-apa. Aku ingin membelikannya untuk calon istriku," ucap Edward.
"Tolong langsung dibungkus dan totalkan berapa semuanya. Kalung yang dipakai calon istriku sekalian dihitung, tidak perlu dikemas," pinta Edwar kepada pelayan toko.
"Baik, Pak."
"Erika!"
Terdengar suara panggilan yang cukup kencang hingga Erika mengalihkan pandangan ke arah suara. Ternyata Alex ada di sana.
"Siapa dia?" tanya Edward.
"Teman sekantorku," jawab Erika.
Terlihat Alex berjalan mendekat ke arah Erika. Tanpa apa-apa, ia menarik tangan Erika dan membawa Erika berlari dengan kencang.
"Alex, kamu apa-apaan?" tanya Erika kaget.
Ia terpaksa ikut mengimbangi langkah Alex yang cepat. Ia menoleh ke belakang, Edward terlihat mengejarnya. Namun, Alex tetap membawanya berlari lebih cepat.
__ADS_1