Wanita Milik 5 Tuan Muda

Wanita Milik 5 Tuan Muda
Bab 121:


__ADS_3

"Aduh! Aduh! Pelan-pelan ...," protes Alan saat tubuhnya terasa sempoyongan karena Irene kurang kuat memapahnya.


"Apa sih! Dari tadi protes terus. Kak Alan kan berat!" Irene cemberut. Ia sudah kelelahan memapah Alan sementara lelaki itu protes kepada bantuannya.


Setelah bersusah payah, akhirnya ia berhasil membawa Alan masuk dalam kamarnya. "Hah! Hah!" Irene menghela napas setelah membantu Alan duduk di atas ranjang.


Alan terlihat menahan senyum memandangi wanita yang baru saja kerepotan karenanya. Ia merasa cukup senang dengan perhatian yang Irene berikan meskipun harus mendengar omelan.


"Nih! Minum dulu!" Irene menyodorkan segelas minuman kepada Alan.


"Terima kasih." Alan menerima minuman itu dan langsung meminumnya.


"Aku pergi dulu ya, Kak. Selamat istirahat. Jangan kemana-mana!" kata Irene mengingatkan.


Sebelum Alan berhasil mencegah Irene pergi, wanita itu telah menghilang keluar dari kamarnya.


Alan merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Entah mengapa pikirannya melayang memikirkan Irene.


***


Alan menghela napas untuk mengatasi kegugupannya. Mengenakan kemeja putih yang dilapisi jas hitam senada dengan celananya, ia berdiri gagah di depan altar. Ketampanannya malam itu memukau seluruh tamu yang datang.


Dari arah depan, tampak seorang wanita yang wajahnya masih tertutup kerudung berjalan didampingi oleh sang kakek. Alan mengembangkan senyum.

__ADS_1


Rasanya ia sendiri tidak percaya jika hari ini akhirnya akan tiba. Hari yang bahagia dimana dirinya akan menikah dengan Irene setelah mendapatkan restu dari sang kakek.


Semakin dekat Irene berjalan ke arahnya, Alan semakin merasa gugup. Kebahagiaan yang membuncah membuatnya hampir tak bisa mengendalikan diri.


"Alan, aku serahkan Irene kepadamu," ucap sang kakek sebelum meninggalkan keduanya di depan altar.


Mereka saling berpandangan. Dari sela-sela kerudung yang menerawang, Alan bisa melihat senyuman tipis malu-malu yang Irene perlihatkan.


Alan menyibakkan kerudung yang membatasi pandangannya dengan perlahan sehingga ia bisa melihat kecantikan Irene yang paripurna dalam balutan busana pengantin berwarna putih.


"Kamu cantik sekali," puji Alan yang tidak bisa memalingkan pandangannya dari sosok wanita di hadapannya.


Irene tersenyum malu-malu.


"Loh, kok sudah ciuman? Kalian kan belum mengucapkan janji suci pernikahan."


Perkataan pendeta seketika menghentikan perbuatan yang Alan lakukan. Ia sampai lupa kalau mereka sedang berada di depan orang banyak.


"Aduh-aduh, sepertinya ada yang sudah tidak sabar masuk kamar!" seloroh salah seorang tamu undangan.


Suara tawa dan guyonan yang mereka utarakan membuat Alan malu bukan kepalang. Ingin rasanya ia menghilang dari saja dalam sekejap mata.


"Ah! Tidak!" teriak Alan.

__ADS_1


Napasnya terengah-engah. Alan menyadari dirinya berada di dalam kamarnya sendiri. Ternyata pernikahan itu hanya mimpi. Ia merasa sedikit lega. Sungguh memalukan ia bisa bermimpi semacam itu.


Alan berusaha bangkit dari ranjangnya meskipun dengan langkah yang sedikit pincang. Jam masih menunjukkan pukul lima pagi. Ia terbangun cukup pagi namun sudah tidak bisa tidur lagi setelah memimpikan hal yang tidak masuk akal itu.


"Hai, Kak!"


Alan tersentak kaget saat Irene datang menyapanya di ruang tengah. Ternyata wanita itu bangun lebih pagi darinya. Alan tidak bisa bertatapan muka dengan Irene setelah mimpi aneh itu.


"Kak Alan sudah baikan? Tumben bangun pagi-pagi," kata Irene.


"Memangnya tidak boleh?" jawab Alan ketus.


"Ya ... Tidak juga." Irene merasa serba salah sudah bertanya. "Ah, iya! Nanti antar aku ke kampus ya, Kak!" katanya.


"Tidak mau!" jawab Alan tegas.


Irene memanyunkan bibirnya. Alan seolah kembali berubah galak kepadanya. "Orang ini kenapa, sih?" gumamnya lirih.


"Ya sudah kalau tidak mau! Nanti aku berangkat dengan Ares saja!" seru Irene.


Alan terlihat tidak peduli. Ia kembali ke dalam kamar meninggalkan Irene.


"Benar-benar ya, om-om itu!" kesal Irene.

__ADS_1


__ADS_2