Wanita Milik 5 Tuan Muda

Wanita Milik 5 Tuan Muda
Bab 104: Kericuhan


__ADS_3

"Kamu sudah melakukan yang terbaik, Don! Bisa finish di urutan ke-15 itu sudah sangat baik!"


Irene bersembunyi di balik dinding mendengarkan percakapan antara Alan dan pembalap yang didukungnya. Ternyata benar, Doni merupakan pembalap yang pernah bertanding dengannya dulu.


Sebenarnya dia tidak ada rencana menguping. Kebetulan saja waktu akan ke toilet, ia mendengar suara Alan sehingga memutuskan untuk bersembunyi. Karena ada Alan di sana, ia urung untuk mencuci muka.


"Alenta?"


Saat Irene hendak pergi, Alan tiba-tiba memanggilnya. Sepertinya ia sudah ketahuan keberadaannya. Dengan tenang ia berbalik dan menunjukkan senyuman ramahnya.


"Kamu sedang apa di sini?" tanya Alan. Semakin dilihat, Alan merasa wanita itu semakin mirip dengan perpaduan antara Alenta dan Irene yang dikenalnya. Alenta yang sekarang tidak setebal dandanannya seperti Alenta yang biasa menemuinya. Sedangkan Irene, mungkin hanya beda warna kulit saja dengan Alenta yang sekarang. Penampilannya juga biasa sederhana.


"Mau lihat-lihat saja di sekitar sini. Pemandangannya bagus," jawab Irene.


Alan mendekat pada Irene, mengarahkan pandangannya ke arah yang sama dengan Irene. Dari tempat mereka berdiri, sangat jelas terlihat pemandangan gunung serta laut yang indah.


"Balapan tadi sangat seru, ya?" Irene meminta pendapat Alan.


Sebenarnya, Alan tidak menikmati balapan. Fokusnya terganggu melihat Alenta bersama lelaki lain, tampak akrab dan mesra. Alan hanya mengangguk saja.


"Pembalapmu juga lumayan performanya," puji Irene.


"Ya, itu merupakan debut awal Doni. Dia bisa mencobanya kembali di kesempatan-kesempatan berikutnya. Anak itu agak kecewa saja karena targetnya masuk 10 besar."


"Nanti kalau jam terbangnya sudah tinggi, pasti kemampuannya akan meningkat lebih baik lagi."


"Alan!" seru seseorang dari arah pintu masuk. Ia tampak melambaikan tangan menyuruh Alan mendekat ke arahnya.


"Alenta, aku kembali ke dalam dulu, ya!" pamit Alan.


Alenta mengangguk.


"Kamu besok menonton balapan lagi di sini?" tanya Alan.


"Kemungkinan iya."


Alan tersenyum. "Kalau begitu, sampai jumpa besok!"

__ADS_1


Alan berlari mendekati orang yang memanggilnya. Irene hanya bisa melihat punggung Alan yang semakin menjauh darinya.


Terkadang Irene bingung. Baik menjadi Alenta maupun Irene, ia bisa merasakan kehangatan hati Alan. Padahal, ia memiliki karakter yang berbeda saat memerankan karakternya tersebut.


Duar!


Irene tersentak kaget. Segala lamunannya seketika hilang saat terdengar sebuah ledakan besar. Ia lihat asap tebal membumbung dari dalam sirkuit balapan.


Duar!


Sekali lagi terdengar ledakan dengan suara yang keras. Asap membumbung di sisi yang lain dari dalam stadion. Suara teriakan dan jeritan mulai terdengar dari arah dalam.


Irene bertanya-tanya sekiranya apa yang sedang terjadi di dalam. Orang-orang berlarian tunggang langgang keluar dari dalam stadion dengan kepanikan. Mereka menjerit-jerit melampiaskan ketakutan mereka.


Dor! Dor! Dor!


Suara tembakan di dalam sana terdengar bersahutan. Irene yakin di dalam ada masalah yang sangat besar. Mengingat Alan ada di dalam, perasaannya tidak tenang. Apalagi ia tidak melihat Alan sebagai salah satu orang yang keluar dari pintu tersebut.


Irene berlari ke arah pintu masuk berlawanan dengan orang-orang yang mencoba keluar.


"Irene! Kamu mau kemana? Aku di sini!" Hamish menahan tangan Irene dan menariknya dari kerumunan.


Hamish mengernyitkan dahi keheranan. "Pak Alan? Maksudmu lelaki yang tadi? Apa urusannya denganmu?" tanya Hamish penasaran.


Irene sampai lupa kalau ia harus merahasiakan tentang Alan di hadapan Hamish. Namun, ia tetap tidak tenang sebelum melihat kondisi Alan.


"Kak, Pak Alan pernah jadi atasanku. Aku kasihan kalau dia kenapa-napa!" Irene berusaha mencari alasan.


"Dia pasti bisa menyelamatkan diri, Irene! Kamu tidak perlu peduli padanya. Kita sebaiknya pergi dari sini. Di dalam sangat berbabaya!"


Hamish kembali berusaha menarik tangan Irene agar ikut dengannya. Namun, wanita itu seakan berusaha melawan tarikannya.


"Aku tidak bisa, Kak. Aku harus masuk ke dalam!" tegas Irene.


Dengan nekadnya wanita itu menghempaskan tangan Hamish dan berlari menerobos kerumunan orang-orang yang keluar dari stadion.


Hamish begitu kesal dengan kelakuan Irene. Wanita itu membuatnya kerepotan di tengah situasi serius dan genting. Terpaksa ia ikut membali masuk ke dalam mengejar Irene yang nekad.

__ADS_1


Irene berhasil masuk kembali kedalam area sirkuit yang sudah sangat kacau dengan kobaran api di mana-mana. Asap membumbung menyebar luas ke seluruh penjuru. Suara tembakan masih terdengar. Orang-orang masih sibuk berlarian dan saling berdesakan di pintu-pintu keluar.


Irene kebingungan mencari keberadaan Alan di sana. Ia memutuskan untuk berlari menuju tempat pembalap yang Alan sponsori.


Sembari berhati-hati dengan tembakan yang arahnya tidak diketahui, Irene memfokuskan pandangan ke sekeliling berharap bisa segera menemukan Alan.


"Pak Alan ... Pak Alan ...." serunya.


Tempat yang ia datangi sekarang semakin sepi. Hanya ada satu dua orang yang tampak berlarian berusaha menyelamatkan diri. Irene sempat dibuat syok saat melihat satu mayat lelaki yang tergeletak begitu saja karena terkena tembakan.


Irene sampai heran, baru kali ini ada balapan berujung kerusuhan luar biasa. Apalagi peristiwa yang terjadi seperti sebuah teror. Suara tembakan belum juga mereda.


Di tengah deru suara tembakan, Irene terus berjalan sembari menunduk melindungi kepalanya.


Dor! Prang!


Sebuah tembahkan menyasar kaca jendela hampir saja mengenai Irene. Untung saja ia lebih dulu ditarik oleh Alan dan membawanya bersembunyi di balik tembok.


Posisi mereka begitu dekat. Alan mendekapnya erat sembari mengintip kondisi di luar.


Irene menatap penuh haru akhirnya ia bisa menemukan lelaki itu. Rasa khawatir yang menguasainya telah sirna saat bertemu dengan Alan. Alam bawah sadarnya menuntun dirinya untuk memeluk lelaki itu dengan penuh perasaan. Sejauh ini akhirnya ia tahu jika dirinya tak rela kehilangan Alan. Ia mencintai lelaki itu secara tulus.


Alan sedikit terkejut merasakan pelukan yang Alenta berikan padanya. Ketika deru tembakan mereda, ia melepaskan pelukannya.


"Apa kamu sudah gila? Kenapa ada di dalam sini? Bukannya tadi kamu sudah di luar?" Alan memarahi Irene.


Ternyata apa yang Alan katakan sama dengan yang Hamish ucapkan. Mungkin Irene memang sudah bodoh dan gila hingga berani masuk ke dalam tempat berbahaya.


"Sekarang bagaimana? Aku semakin khawatir untuk bis keluar dari sini. Bagaimana kalau kamu jadi sasaran mereka, Alenta!" kesal Alan.


Irene memang tidak berpikir apa-apa ia hanya mengkhawatirkan Alan. Sedangkan Alan justru mengkhawatirkan dirinya.


"Sebenarnya apa yang terjadi di sini?" tanya Irene penasaran.


"Sepertinya ada dua kelompok mafia sedang bertikai karena salah satu merasa dirugikan dengan balapan ini. Makanya mereka membuat kekacauan."


Alan menggenggam erat tangan Alenta. "Jangan lepaskan tanganmu. Kita akan keluar dari sini bersama dalam keadaan selamat," ucapnya.

__ADS_1


Irene mengangguk. Ia membalas genggaman tangan Alan dengan erat. Ia tidak akan melepaskan genggaman tangan itu.


__ADS_2