Wanita Milik 5 Tuan Muda

Wanita Milik 5 Tuan Muda
Bab 316


__ADS_3

"Orang yang Anda cari sudah kami temukan, Tuan."


"Tetap jaga dia. Besok aku akan tiba di sana!"


Arvy baru saja mendapatkan kabar dari orang kepercayaannya. Ia meminta untuk dicarikan orang yang menemukan Adila saat mereka liburan di Swiss. Setelah sekian lama bersabar, akhirnya orang itu bisa ditemukan. Ia bersumpah akan membalaskan dendam atas apa yang telah menimpa Adila.


***


"Adila, hari ini aku akan pergi ke luar negeri. Ada sedikit urusan di sana," pamit Arvy.


Adila yang tengah menyisir rambut menghentikan kegiatannya dan berbalik menghadap Arvy. "Kok mendadak? Memangnya urusan apa?" tanyanya penasaran.


"Pokoknya. Ada. Aku tidak bisa memberitahumu sekarang," kata Arvy.


Adila langsung bangkit dan memeluk Arvy. "Seharusnya kamu bilang jauh-jauh hari, aku kan mau ikut, rengeknya." Adila tidak bisa ikut karena jadwalnya sedang padat.


Arvy membalas pelukan wanita itu. "Nanti kita akan liburan berdua setelah menikah. Biar aku selesaikan masalah ini sebelum pernikahan ini digelar," ucapnya.


"Baiklah, hati-hati di sana. Jaga diri. Ingat, kita sebentar lagi mau menikah," kata Adila.


Arvy mengusap kepala Adila. "Iya, aku akan pulang lagi akhir pekan. Kamu juga jaga diri baik-baik."


Arvy meninggalkan tempat syuting Adila. Ia bergegas masuk ke dalam mobil jemputannya. Sopir mengantar dia sampai di bandara. Ia memilih penerbangan hari itu juga agar cepat sampai di tujuan.


***


"Selamat datang, Tuan," sapa anak buah yang telah menjemputnya di bandara Swiss.


Tidak berlama-lama, mereka segera menaiki mobil menuju ke lokasi. Arvy juga sudah tidak sabar melihat lelaki bajiangan yang berani menyentuh kekasihnya.


"Apa kamu sudah mendapatkan identitasnya?" tanya Arvy.


Anak buah Arvy terdiam sesaat. "Saya yakin Anda pasti mengenalnya, Tuan. Lebih baik Anda bertemu langsung dengannya."


Arvy masih penasaran mengapa tak ada yang memberitahunya tentang orang yang ia cari-cari.


Swiss selalu menjadi negara yang indah untuk destinasi wisata. Sayangnya, bagi Arvy kini tempat itu seperti kutukan. Baik dirinya dan Adila sama-sama mengalami kesulitan setelah menapakkan kaki di negara itu. Arvy akan mencoret negara itu dari peta destinasi wisatanya.

__ADS_1


Butuh waktu sekitar tiga jam perjalanan dari bandara menuju ke tempat anak buah Arvy menyekap orang itu. Sebuah perkebunan anggur yang luas dan jauh perkampungan penduduk.


"Silakan, Tuan," kata anak buah Arvy dengan ramah.


Arvy turun dari mobil. Ia didampingi dua anak buahnya memasuki bangunan gudang di tengah perkebunan yang biasa digunakan untuk menyimpan hasil panen. Tempat itu sudah dibeli oleh Arvy. Selain dua anak buah itu, masih banyak anak buahnya yang lain di sana yang menjaga tempat itu sekaligus mengelola peekebunan.


Dua anak buah Arvy membuka pintu kayu rahasia yang ada di sudut ruangan. Ketika pintu terbuka, terlihat ruang bawah tanah rahasia. Mereka bertiga menuruni anak tangga menuju ke bawah.


Ruangan di bawah tampak sunyi sampai suara langkah kaki mereka terdengar. Di sana juga masih ada anak buah Arvy yang berjaga.


"Tuan, orangnya di sini," anak buah Arvy menunjuk pada orang yang tengah tertunduk dan terduduk di kursinya. Sepertinya tahanan mereka sedang tertidur.


Salah satu anak buah Arvy mengambil air dan mengguyukannya hingga terbangun.


"Hah! Hah!" pekik lelaki itu.


Arvy mematung saat melihat orang yang ada di hadapannya. Tangannya mengepal dan darahnya serasa mendidih. Bisa didengar juga suara gertakan giginya saking memendam amarah yang luar biasa.


"Hahaha ... Akhirnya kita bisa bertemu," lelaki itu dengan santainya seakan tak memiliki rasa bersalah.


"Kenapa? Kamu pasti tidak menyangka kalau aku orangnya, kan? Aku yang telah menyelamatkan kekasihmu ... Juga menghabiskan malam-malam yang hangat bersamanya. Hahaha ...."


"Bang sat!" pekik Arvy.


Sebuah tinju melayang dengan keras menghantam pipi lelaki itu sampai sudut bibirnya berdarah.


Arvy tidak menyangka kalau pelakunya adalah Jonathan, rival di dunia entertain.


"Kalau mau pukul, pukul saja! Lakukan sampai kamu puas. Lagi pula tidak akan mengubah apapun," kata Jonathan dengan nada meledek.


Arvy tidak menuruti apa kemauannya. Jika ia terpancing, maka ia akan kalah.


"Kenapa diam? Ayo, pukul lagi. Kalau perlu juga bunuh saja aku," tantang Jonathan.


"Adila salah apa padamu? Kenapa kamu tega melakukan itu padanya?" Arvy bertanya dengan nada pasrahnya.


Jonathan tidak menyangka Arvy akan menanyakan hal itu. "Dia tidak punya salah apa-apa kepadaku. Sejak dulu masalahku kan dengan kamu."

__ADS_1


Arvy berdecih. Ia tidak percaya lelaki picik itu melampiaskan dendamnya lewat Adila. "Benar-benar pengecut," ujarnya.


"Ya, aku akui memang sangat pengecut. Aku sudah berusaha keras tapi tetap saja sorotan mengarah padamu. Aku sangat ingin menghancurkanmu."


Jonathan telah mengorbankan semuanya demi ketenaran. Bahkan ketika harus memenuhi kemauan teman kekasihnya sendiri untuk bercinta demi menjaga karirnya tetap stabil. Ia sudah lama tak punya harga diri.


"Kebetulan sekali waktu itu aku sedang liburan dan bertemu dengan kekasihmu. Awalnya aku hanya berniat menolongnya. Tapi, dia terlalu cantik dan aku tidak bisa menahan diri."


"Bajingan!"


Sekali lagi Arvy melampiaskan kekesalannya dengan meninju wajah Jonathan.


"Hahaha ... Lakukan saja terus sesukamu. Kebetulan aku juga sudah tidak betah hidup. Lebih cepat kamu membunuhku, itu jauh lebih baik. Tapi, kamu tidak akan baik-baik saja selamanya," ejek Jonathan.


Arvy menghela napas. Membunuh lelaki itu hanyalah sebuah hukuman yang sangat ringan. Sementara, Adila sudah menderita sangat lama sejak kejadian itu.


"Ah, sayang sekali Adila tidak hamil. Padahal aku sama sekali tidak memakai pengaman. Atau jangan-jangan dia memang tidak subur? Kami sudah berkali-kali melakukannya siang dan malam. Apa kamu masih mau menerimanya?"


Jonathan terus mengoceh untuk memacing emosi Arvy. Namun, usahanya tidak berhasil. Arvy terlihat serius membahas sesuatu dengan anak buahnya dan tidak menggubris keberadaan Jonathan di sana.


"Oi, bodoh! Seharusnya kamu buang saja wanita itu! Hahaha ...."


Pandangan Arvy kembali fokus pada Jonathan. "Sudah selesai bicaranya?"


Jonathan terdiam.


"Sebentar lagi ada dokter yang akan datang ke sini. Dia akan melakukan operasi kecil padamu. Aku pastikan milikmu tidak akan bisa bangun selamanya. Kalau kamu mau mati, matilah sendiri! Aku pastikan kamu tidak akan bisa keluar dari wilayah ini dan namamu akan di-blacklist dari negara asal. Selanjutnya, lalukan apapun sesukamu!" kata Arvy dengan santai.


"Apa? Dasar psikopat!" pekik Jonathan. Ia tidak menyangka Arvy bisa sekejam itu.


Arvy menyeringai. "Kamu tidak akan tahu seberapa bahayanya mengusik singa yang tertidur. Setelah hari ini, aku pastikan kamu akan selalu ingin mati."


"Arvy, lepaskan! Kamu jangan gila! Ini tindakan kriminal! Kamu bisa masuk penjara!" Jonathan terlihat mulai panik. Ia meronta-ronta minta ikatannya di kursi itu dilepaskan.


"Kamu pikir perbuatanmu bukan tindakan kriminal?" balas Arvy.


Tak berlama-lama di sana, Arvy pergi meninggalkan tempat itu. Ia meminta tolong kepada semua anak buahnya untuk menangani Jonathan. Setelah ini, ia bisa tenang kembali ke tanah air. Jonathan tidak akan muncul lagi di hadapan Adila.

__ADS_1


__ADS_2