Wanita Milik 5 Tuan Muda

Wanita Milik 5 Tuan Muda
Bab 119:


__ADS_3

"Mana mungkin aku melakukan hal itu? Kalian yang telah menjebakku! Kalian ingin membuatku malu di pesta paman! Kalian se enarnya iri kan, kalau selama ini aku cantik dan banyak yang tertarik padaku daripada kepada kalian!"


Sovia mengelak. Ia sudah sangat malu menjadi bahan tontonan di sana.


Ketiganya terlibat pertengkaran hebat. Mereka saling jambak dan pukul seperti orang bar-bar. Orang yang melihat justru senyum-senyum melihat kelakuan kekanak-kanakkan mereka.


"Nona-Nona, tolong hentikan keributan ini!" beberapa petugas keamanan akhirnya datang mengamankan kekacauan tersebut.


Plak!


Brata datang dan langsung menampar Sovia. Suasana seketika berubah hening. Ia kira Sovia akan merenungi kesalahannya dan menyesal telah membuat keributan di pestanya. Akan tetapi, keponakannya itu justru kembali membuat kekacauan.


"Tidak ada kapok-kapoknya kamu membuat paman malu!" bentak Brata dengan nada lirih.


Sovia menunduk. Ia tidak berani menatap wajah pamannya sendiri.


Saat itu, Brata melihat Alan lewat di sana. "Alan!" panggilnya.


Alan dan Irene berhenti sejenak dan menunggu Brata yang berjalan mendekat ke arah mereka.


"Ah, Alan ... Maafkan atas kekacauan ini," kata Brata dengan nada tidak enak hati.


"Kebetulan bertemu dengan Anda di sini. Kami ingin pamit pulang. Terima kasih atas undangannya," kata Alan yang menyiratkan bahwa ia tidak peduli dengan apa yang terjadi.


"Tunggu, Alan!" Brata memegangi lengan Alan untuk mencegahnya pergi.


"Sovia hanya tidak sengaja saja berbuat seperti itu. Pasti ada orang yang ingin menjebaknya." Brata mencoba menjelaskan tentang Sovia.

__ADS_1


Alan mengangkat tangannya memberi isyarat agar Brata tak banyak bicara. "Saya tidak peduli dengan hal itu dan bukan urusan saya juga, Pak Brata. Kami akan pulang karena memang kami ingin pulang," kata Alan.


"Padahal Anda seorang pejabat pemerintah, Pak Brata. Apakah Anda akan memaklumi kejadian seperti ini? Apa tanggapan orang nanti terhadap wakil rakyat seperti Anda," sindir Irene.


Raut wajah Brata berubah muram. Ia semakin malu karena ada yang mengingatkan posisinya dalam jajaran pemerintahan negara. Ia memang perlu menjaga imej agar selalu dipandang baik oleh masyarakat.


"Aku ... Minta maaf pasti telah membuat kalian tidak nyaman," kata Brata. "Keponakanku memang bersalah. Ini tidak ada kaitannya denganku. Jadi, terserah kalian mau melakukan apa kepada Sovia. Aku tidak akan turut campur lagi." Brata seakan sudah tidak bisa membela diri lagi.


"Tentu saja. Kami pasti akan membuat perhitungan dengan Sovia," jawab Irene. Ia kembali membantu Alan berjalan meninggalkan kapal pesiar itu.


Brata memandangi langkah Alan yang sedikit pincang. Ia penasaran dengan apa yang telah keponakannya lakukan sampai Alan seperti itu. Apalagi Alan terlihat sangat tidak suka dengan Sovia. Ia rasa bukan hanya masalah Sovia tidur dengan lelaki lain, tetapi juga ada masalah lain.


"Willy ...." Brata memanggil salah seorang anak buahnya.


"Iya, Tuan."


"Baik, Tuan."


***


"Pak, apa Anda baik-baik saja?" asisten Alan kaget melihat kondisi Alan yang baru keluar dari kapal. Ia langsung membantu memapah Alan.


"Aku tidak apa-apa. Ayo kita ke kantor. Setelah itu, antar Irene pulang!" pintanya.


"Baik, Pak."


"Apa katamu tadi? Kamu mau ke kantor dalam kondisi seperti ini?" Irene mengomel.

__ADS_1


"Memangnya kenapa? Ini hanya luka kecil," kata Alan menenangkan Irene.


"Luka kecil katamu? Jalanmu pincang, Kak!" kesal Irene.


"Ya, kan hanya kaki saja yang luka sedikit. Otak dan tanganku masih bisa bekerja dengan baik. Aku bisa pakai kursi roda."


"Tidak bisa! Kakak harus ke rumah sakit dulu. Pokoknya harus diobati. Kalau tidak mau, nanti aku sumpahi struk seluruh badan!"


"Gila kamu, ya! Harusnya bersyukur aku hanya mengalami luka kecil. Malah berharap yang tidak-tidak." Alan ikut kesal dengan permintaan Irene.


"Pak, tolong antar kami ke rumah sakit sekarang!" pinta Irene.


"Jangan! Kita ke kantor saja!"


"Rumah sakit!"


"Kantor!"


"Rumah sakit!"


"Aku yang menggajimu, jangan dengarkan perkataannya. Cepat pergi ke kantor!"


Asisten Alan tampaknya bingung dengan pertengkaran yang terjadi antara dua orang itu.


Pada saat yang sama, protagonis pria mengatakan bahwa dia


hanya cedera ringan dan mau langsung kembali ke perusahaan, sedangkan protagonis

__ADS_1


wanita mau ke rumah sakit, hal ini membuat asisten protagonis pria merasa kesulitan.


__ADS_2