
"Hah ... akhirnya kenyang juga ...." Alenta merasa puas setelah keluar dari restoran dengan perut kenyang.
Alan ingin tertawa dengan kelakuan wanita itu. Sebelumnya, Alenta marah-marah ditinggal olehnya menghajar pencuri. Bukan karena merasa diabaikan, melainkan ia sudah diawasi pelayan karena terlihat tidak memiliki uang untuk membayar. Sementara, Alan pergi terlalu lama. Posisinya Alenta tidak membawa uang sama sekali. Ia sampai pura-pura ke toilet untuk mencari Alan. Setelah Alan kembali, ia jadi lega karena tidak harus keluar uang.
"Makanmu banyak tapi tubuhmu tetap kecil, ya? Jangan-jangan di dalam perutmu isinya hanya cacing," ledek Alan.
"Kata orang kalau bekerja dengan otak itu memang cepat lapar, Pak. Otak butuh banyak nutrisi untuk bisa berpikir dengan baik."
Alan hanya tersenyum mendengar jawaban Alenta. Wanita itu benar-benar semakin mirip dengan Irene yang kelakuannya suka aneh.
Saat mereka melewati gang sepi menuju hotel, sekelompok orang menghadang mereka. Salah satu yang berdiri paling depan merupakan pencuri yang sempat dipukuli oleh Alan. Sepertinya dia tidak terima dan membawa anak buahnya untuk balas dendam.
"Pak ... siapa mereka?" tanya Alenta dengan nada berbisik.
"Orang yang berdiri paling depan itu pencuri yang tadi aku hajar," jawab Alan.
"Anda memang sangat berbakat mencari masalah di negara orang ya, Pak!" gumam Alenta
"Sudah, kamu lari saja, biar aku hadapi sendiri. Kalau dalam beberapa jam aku tidak kembali, segera lapor ke KBRI," ucap Alan seraya mengambil ancang-ancang untuk menyerang enam orang di hadapannya.
"Ada orang asing berlagak jago di negara orang, hah! Jangan harap kalian bisa pulang ke negara asal dengan selamat karena telah berani mencari masalah dengan kami," ucap si pencuri.
"Dia bilang apa?" tanya Alan. Kalau mendengar percakapan dalam Bahasa Persia, ia benar-benar bingung, seperti mendengar bahasa percampuran antara Bahasa Arab dan Bahasa Rusia.
"Dia bilang Bapak ganteng, mau nggak jadi pacarnya?" jawab Alenta asal.
Alan langsung melotot ke arah Alenta. "Kamu mau bercanda di saat seperti ini?" ucapnya kesao.
"Ya, lagian kenapa Bapak pakai tanya segala? Sudah jelas itu musuh, pasti sedang memaki-maki Bapak lah!"
__ADS_1
"Sudahlah! Aku mau maju menghajar mereka. Kamu pokoknya cepat lari sejauh mungkin dari sini!" perinta Alan.
Lelaki itu langsung berlari mendekati gerombolan pencuri itu. Keributan pun dimulai. Alan mengerahkan kemampuan maksimalnya untuk menghajar mereka. Lawan yang banyak cukup membuatnya kewalahan namun ia masih bisa menangani.
Tiba-tiba ia melihat Alenta ikut bergabung dengannya menghajar mereka. Jantung Alan serasa mau copot melihat wanita itu bertarung. Ia khawatir terjadi apa-apa dengan Alenta.
Alan berusaha menghalau setiap musuh yang berusaha menyerang Alenta. Namun, ternyata wanita itu tidak bisa ia remehkan. Serangan yang dilakukan Alenta memiliki power yang baik, sangat terlihat jika wanita itu cukup terlatih.
Alan dan Alenta bekerja sama menghajar satu per satu gerombolan pencuri itu. Meskipun hanya berdua, mereka bisa menumbangkan enam orang sekaligus. Mereka yang ketakutan akhirnya lari tunggang langgang meninggalkan Alan dan Alenta.
"Awas kalian! Aku tidak akan membiarkan kalian pergi dari negara ini begitu saja!" ancam si ketua pencuri sebelum ia ikut lari mengejar anak buahnya yang lebih dulu kabur.
"Dia bicara apa?" tanya Alan lagi.
"Dia bilang sangat menantikan kunjungan kita berikutnya di sini," ucap Alenta.
Alan tertawa kecil. "Kamu pasti sedang mengerjaiku lagi, kan?" Alan sudah tidak bisa percaya dengan Alenta. Di luar urusan bisnis, Alenta tidak menerjemahkan dengan benar apa yang ia dengar.
"Alenta, berhenti!" pinta Alan.
Alenta mengurungkan niatnya membuka pintu kamar hotelnya. Ia berbalik mendekat ke arah Alan yang juga masih berdiri di depan pintu kamar Alan sendiri.
"Kenapa, Pak?" tanyanya.
"Kamu ... jago balapan, ya?" tanya Alan tiba-tiba.
Alenta membulatkan mata kebingungan dengan pertanyaan Alan yang tiba-tiba.
"Waktu itu kamu yang mengantarku pulang ke hotel, kan? Kamu ngebut membawa mobilnya."
__ADS_1
Alenta menggaruk rambutnya. "Ya, memang begitu, Pak. Tapi, bukan berarti saya jago balapan. Bapak aneh-aneh saja," kilah Alenta.
Alan tidak mempercayainya. Irene yang terlihat biasa saja juga ternyata jago membawa mobil dan motor. Bahkan Irene pernah mengantar Ares ke rumah sakit dengan motor sport mirip Ares.
"Apa menurutmu makanan yang paling enak?" tanya Alan random.
Alenta semakin bingung Alan memberikan pertanyaan tidak jelas kepadanya. "Ya, semua makanan enak pak, apalagi kalau gratis," jawab Alenta sembarang.
Tanpa berkata-kata, Alan langsung menarik tangan Alenta dan membawa wanita itu ke dalam kamar hotelnya. Sontak hal itu membuat Alenta kebingungan. "Kenapa sih, Pak? Kok saya ditarik-tarik?" tanya Alenta.
"Kamu sebenarnya Irene, kan?" tanya Alan.
Alenta sangat tercengang dengan ucapan Alan. Ia tidak ingin penyamarannya terbongkar sekarang. Ada banyak hal yang masih harus ia lakukan. "Maksud Bapak apa, sih? Siapa Irene?" Alenta berpura-pura tidak tahu.
Alan terus menarik tangan Alenta, membawanya ke arah kamar mandi. Di sana, Alenta dibawa ke bawah shower. Alan menyalakan shower hingga tubuh mereka berdua basah kuyup.
"Pak Alan, Anda sudah gila, ya!" pekik Alenta tidak percaya dengan apa yang tengah Alan lakukan kepadanya. Ia berusaha lari, namun Alan memegang erat tangannya.
Alan mengusapkan sabun ke wajah Alenta dengan merata sampai berbusa. Alenta sampai kesusahan napas karena perlakuan Alan. "Pak! Apa-apaan, sih!" protes Alenta. Ia terlihat sangat kesal.
Alan terpaku melihat Alenta. Ia kira dengan mengguyurkan wanita itu, make up tebal yang biasa Alenta gunakan akan luntur dan membongkar penyamaran Irene. Ternyata, warna kulit Alenta asli putih bukan karena make up tebalnya.
"Lihat ya, Pak! Bajuku jadi basah kuyup begini!" gerutu Alenta. Dengan kesal ia keluar dari kamar Alan.
Padahal Alan sudah sangat yakin kalau Alenta adalah Irene. Tenyata, tebakannya salah.
"Masa sih, hanya kebetulan mirip sifatnya?" gumam Alan. "Tapi ... tanpa make up juga Alenta mengingatkannya pada sosok lain, Miss A, wanita yang mengaku hantu penunggu mansionnya. "Apa benar mereka orang yang sama? Alenta yang sekarang adalah Alenta hantu itu? Apa hubungannya dengan Irene?" Semakin banyak pertanyaan yang ada di kepala Alan.
Lelaki itu menyambar selembar handuk untuk mengeringkan tubuhnya. Ia berjalan ke dalam kamar mencari ponselnya. Saking penasarannya dengan Alenta dan Irene, ia berniat menghubungi orang kepercayaannya.
__ADS_1
"Tolong cek Irene, ya! Dia ada di desa XXX. Cari tahu apakah dis masih berada di sana dengan kakek dan neneknya!" perintah Alan kepada orang yang dihubunginya lewat telepon.