Wanita Milik 5 Tuan Muda

Wanita Milik 5 Tuan Muda
Bab 194:


__ADS_3

tok tok tok


Pintu kamar diketuk saat Irene baru selesai berdandan. Ia juga telah mengoleskan body painting ke bagian tubuhnya yang tak tertutup pakaian.


"Siapa, ya? Apa itu Ares? Nggak sabaran banget dia, aku bilang kan main agak siangan," gerutunya.


Irene mengikat rambutnya sehingga menjadi seperti ekor kuda. Ia lihat bagian tengkuk leher belakang masih ada bagian yang belum tercover krim penyamarannya. Ia lantas meratakan bagian itu dengan krim pengubah warna kulit.


Irene berjalan mendekat ke arah pintu. Bukan Ares yang berdiri di sana, melainkan Alan. Pandangannya tertunduk, hal yang membuat pipinya bersemu merah kemarin kembali terngiang dalam ingatannya.


Alan mendesak masuk ke dalam kamar dan menutup kembali pintu itu. Ia menarik Irene ke dalam pelukannya.


Irene merasa heran. Sejak semalam usai pertunangan mereka dilaksanakan, Alan seolah berubah menjadi seekor kucing yang suka menempel kepadanya. Pagi-pagi lelaki itu sudah masuk ke dalam kamar dan memeluknya dengan erat.


"Apa menurutmu aneh? Kita tinggal di rumah yang sama dan setiap hari kita bertemu. Tapi, pagi ini aku merindukanmu," kata Alan.


Lelaki itu menghirup aroma yang wangi saat hidungnya berada di dekat tengkuk Irere. Ia merasa terhipnotis dengan wanginya. Sampai tak bisa menahan diri untuk mencium lehernya.


Irene memejamkan mata seraya mengepalkan jemarinya. "Kak, bisa kamu berhenti? Ini geli," pintanya.


Alan melepaskan pelukan. Dipandanginya wajah tertunduk yang tampak malu-malu di hadapannya.


"Kamu hari ini ada kuliah?" tanya Alan.


"Tidak, aku tidak ada kuliah."


"Mau ikut denganku ke kantor? Temani aku kerja?"


"Sepertinya tidak bisa, aku ada rencana dengan Ares," tolak Irene.


Raut wajah Alan langsung berubah murung. "Memangnya kalian mau kemana?" tanyanya penasaran.


"Aku tidak mau kemana-mana. Tapi, aku mau main game sama dia," jawab Irene dengan polosnya.


"Oh, jadi aku kalah dengan game?" sindir Alan.


"Kak Alan kenapa, sih?" ucap Irene heran. "Pergi sana ke kantor, kamu bisa terlambat!" usirnya.


"Makanya, ayo ikut denganku ke kantor," rayu Alan.


Irene menggeleng. "Aku bisa mati bosan di sana. Kakak pasti akan sibuk bekerja. Aku mau di rumah saja dengan Ares."

__ADS_1


Alan menarik tangan Irene dan merebahkannya di atas ranjang. Wanita itu sampai mematung dengan kelakuan agresif lelaki yang baru resmi menjadi tunangannya semalam.


"Kakek dan Nenek pasti akan sangat marah kalau tahu aku masuk kamar cucunya," ujar Alan. "Tapi, apa yang bisa aku lakukan kalau rasanya aku ingin selalu membawamu berada di sampingku?" tanyanya dengan tatapan mata yang tajam dan membuat terpaku.


"Seharusnya semalam kita langsung menikah, kenapa harus ada pertunangan segala?" protes Alan.


"Ah! Aku hampir gila, bahkan aku tidak peduli sekarang kamu sudah menyukaiku atau tidak. Irene ... Aku benar-benar menyukaimu!"


Irene sampai tak tahu harus memberikan respon apa.


"Irene ... Cepatlah kamu menyukaiku!" ucap Alan.


Lelaki itu lantas mencium bibir Irene tanpa permisi. Ia memagutnya berkali-kali seakan tak ingin melepaskannya. Irene sampai memejamkan mata merasakan keagresifan seorang Alan yang dilakukan padanya.


Alan baru berhenti saat Irene hampir tak bisa bernapas karena ulahnya. Wajah yang memerah serta tampak malu-malu itu mampu membuatnya terasa gemas.


"Bagaimana kalau kita percepat pernikahannya?" usul Alan.


Wajah Irene kembali memerah. Ia tak menyangka lelaki yang awalnya terlihat dingin itu bisa bersikap impulsif terhadapnya.


Tok tok tok


"Cepat pergi, Kak! Kalau itu Kakek dan Nenek, kita bisa dimarahi!" pinta Irene cemas.


"Tapi, kalau ini bisa membuat pernikahan kita dipercepat, biarkan saja mereka tahu," goda Alan.


"Kak Alan gila, apa?" omel Irene. Ia mencoba mendorong lelaki itu, namun Alan justru kembali menciumnya. Ia seperti dibekap oleh pagutan bibirnya yang membuat Irene tak berdaya.


Tok tok tok


Irene akhirnya memiliki tambahan kekuatan untuk menyingkirkan Alan dari atas tubuhnya. Ia bangkit menuju cermin, mengelap lipstik yang sedikit belepotan karena ulah Alan.


Alan lebih dulu membuka pintu kamar Irene.


"Kak Alan kenapa ada di dalam kamar Irene?" tanya Ares heran.


Buru-buru Irene berlari ke arah pintu menemui Ares. Ia tak ingin membuat orang lain salah paham.


"Tadi lampu kamarku rusak, aku meminta tolong Kak Alan untuk memperbaiki," kilah Irene.


Ares melirik ke arah kakaknya yang telah berdandan rapi dengan setelan kemeja kantor. "Sejak kapan Kakakku bisa jadi tukang reparasi lampu?" gumamnya.

__ADS_1


"Ah, sudahlah! Ayo kita ke bawah!" Irene menarik tangan Ares agar segera pergi dari sana. Ia juga perlu waktu untuk menenangkan diri karena Alan cukup membuatnya takut dengan ciumannya.


Alan turut membuntuti mereka berdua di bawah. Ia sekalian akan berangkat ke kantor dengan malas. Dilihatnya Ares dan Irene sudah duduk di ruang tengah memegang ponsel masing-masing.


"Jaga calon istriku baik-baik, Res. Awas kalau membuat Irene susah!" celetuk Alan saat berjalan melewati mereka.


"Apaan sih, Kak! Kita kan hanya main di rumah," sahut Ares. Ia merasa kakaknya jadi berlebihan setelah bertunangan. Padahal, ia dan Irene juga sebelumnya sudah biasa bersama.


"Pagi-pagi sudah ribut!"


Arvy baru keluar dari ruang gym melihat Ares dan Irene di ruang tengah. Ia juga sempat melihat Alan yang baru saja keluar dari rumah.


"Nggak ada jadwal syuting, Kak?" tanya Ares.


"Nanti sore ada. Kalian sedang apa?" tanya Arvy.


"Menikmati libur kuliah, Kak. Mau gabung?"


Arvy terpancing ingin tahu. Ia mendekat ke arah Ares dan melihat permainan apa yang tengah dimainkan adiknya.


"Oh, game ini," gumamnya. "Memangnya Irene juga bisa main?"


Irene hanya tersenyum dengan keraguan yang Arvy tunjukkan.


"Ah, Kakak payah! Masa bilang seperti itu kepada top player dunia? Jangan macam-macam dengan Irene," ujar Ares.


Arvy mengernyitkan dahinya. "Top Player?"


Arvy beranjak dari tempatnya. Ia mendekat ke arah Irene dan memperhatikan layar ponsel milik wanita itu. Matanya membulat saat melihat ID game yang tertera di sana.


"Kamu Xunqi?" tanyanya kaget.


"Hahaha ... Kak Arvy baru tahu, Kan?" ejek Ares.


"Kenapa, Kak? Aku nggak pantes jadi Xunqi, ya?" tanya Irene.


"Ya, bukan seperti itu. Soalnya aku hampir tidak pernah melihatmu main game. Xunqi juga lama sih tidak pernah aktif di internet," ujar Arvy.


"Kalau bukan aku yang memaksa, Irene mungkin tak akan pernah memainkan akun Xunqi lagi, Kak!" kata Ares dengan berbangga diri.


"Pantas saja akhir-akhir ini hubungan kalian terlihat dekat. Ternyata gara-gara game. Ada Dewi Game di rumah kita." Arvy rasanya masih tidak percaya jika Irene merupakan gamer yang beberapa waktu terakhir sedang kembali populer di internet.

__ADS_1


__ADS_2