Wanita Milik 5 Tuan Muda

Wanita Milik 5 Tuan Muda
Bab 107:


__ADS_3

"Ayo, Ren! Bukannya kamu juga dapat tiket untuk fan sign?" ajak Bian.


Usai menyaksikan mini konser Arvy atas peluncuran album barunya, Bian masih bertahan di sana menarik-narik tangan Irene agar ikut dengannya ke ruangan untuk melakukan fan sign atau penandatanganan album yang mereka beli.


"Aku malas. Kamu sendirian saja ke sana." Irene merasa malas meminta tanda tangan Arvy. Di rumah juga ia sering bertemu dengan Arvy, untuk apa juga ia minta tanda tangan segala. Ia memintakan tiket spesial demi Bian yang menjadi fan boy garis keras Arvy.


Bian melepaskan tangan Irene. Ia sedikit kesal Irene tidak mau mengikuti fan sign. "Baiklah, aku pergi sendiri. Tapi tunggu aku ya, jangan pulang duluan!"


"Ya!" jawab Irene.


Bian segera berlari menuju ke barisan para fans yang mengharapkan tanda tangan dari Arvy. Sementara, Irene tetap duduk di sana sembari membuka-buka akun media sosial di ponselnya.


Matanya melebar saat melihat topik berita trending yang ada di dunia maya. Sangat jelas di sana tertera banyak artikel yang membahas tentang Narendra Group, perusahaan yang kini dipimpin oleh Alan.


"Terjadi perpecahan internal di tubuh perusahaan PT Narendra Group yang sebabnya belum pasti. Diketahui sejumlah petinggi perusahaan dan karyawan berencana keluar dari perusahaan."


Irene membaca cuplikan salah satu artikel dengan perasaan yang masih tidak peecaya. Ia sudah lama tidak ikut mengurusi perusahaan sehingga tidak mengetahui perkembangan yang terjadi selama ini. Baik Alan, Alex, dan Ares yang terlibag langsung dalam pengelolaan perusahaan juga tidak pernah membahas masalah apa-apa di rumah.


Irene buru-buru keluar dari sana. Ia melupakan janjinya pada Bian agar tidak meninggalkannya.


Irene berlari keluar ruang konser menuju lobi hotel yang dijadikan tempat Arvy meluncurkan album barunya. Benar saja, berita tentang Narendra Group telah beredar di televisi. Orang-orang menjadi riuh menyaksikan siaran langsung yang ditampilkan.


Kondisi di depan perusahaan terlihat cukup ramai dari hasil syuting video yang ditampilkan secara live. Banyak karyawan membawa kertas berisi protes dan menuntut perusahaan agar bertindam adil.

__ADS_1


Irene lebih kaget saat sorotan kamera mengarah pada Alex. Dengan penampilan rapinya, Alex berdiri di tengah-tengah karyawan yang sedang melakukan protes. Bukan hanya karyawan biasa yang berkumpul di depan perusahaan, tetapi juga beberapa petinggi ikut bergabung bersama Alex melakukan protes.


"Lakukan perombakan atau kami akan keluar dari perusahaan ini! Ganti pimpinan-pimpinan yang tidak kompeten dan mengandalkan KKN!"


Alex tampak mengutarakan orasinya. Para pendukungnya memberikan sorakan semangat kepada Alex. Mereka memiliki pemikiran yang sama untuk mendapatkan perubahan besar-besaran di tubuh perusahaan.


Alex bersama para pendukungnya mengancam akan memisahkan diri dari kepemimpinan yang ada sekarang.


Sementara itu, kondisi di perusahaan Narendra Group tidak terlalu baik. Karyawan yang masih setia dan berpegang teguh pada tampuk kepemimpinan yang berlaku, terlihat cemas dan gelisah. Mereka tidak bisa fokus bekerja akibat keributan yang terjadi di luar sana. Apalagi karyawan yang terlibat protes tidak bisa dikatakan sedikit. Hampir sebagian besar memihak Alex yang dirasa lebih baik dari pada Alan.


Memang, selama Alex menjadi pimpinan sementara di perusahaan, ada banyak perkembangan positif yang terjadi. Alex bisa dikatakan sebagai pemimpin yang bertanggung jawab, penuh dedikasi, dan pandai mengatur anak buahnya. Jauh berbeda dengan Alan yang memang baru tertarik untuk mengurus perusahaan karena keterpaksaan.


"Bagaimana ini, Pak?" tanya asisten pribadi Alan yang sejak tadi berdiri di samping Alan sembari memperhatikan siaran televisi bersama karyawan yang lain.


"Bagaimana apanya?" Alan berkata dengan nada santai seolah tidak peduli dengan gelombang protes yang sedang ia hadapi.


"Aku sudah tahu. Tidak apa-apa, kita fokus saja dengan agenda-agenda yang telah dibuat sebelumnya."


Sang asisten merasa heran Alan tetap bersikap tenang di tengah kegemparan yang terjadi. Ia lihat para karyawan juga hanya sibuk menonton berita karena pekerjaan mereka terkendala sumber daya yang banyak hilang. Lebih dari setengah karyawan mogok kerja hari itu.


"Bagaimana kita bisa meneruskan pekerjaan jika banyak karyawan kita yang tidak mau bekerja, Pak? Apa perlu kita liburkan saja mereka?"


"Jangan!" perintah Alan. "Tidak usah pedulikan mereka. Kita kerjakan saja apa yang urgen semampu kita. Buktikan kalau kita bisa tanpa mereka. Mungkin memang sudah waktunya dilakukan pembersihan. Dengan begini kita bisa tahu siapa saja yang pantas dipecat dari perusahaan. Biarkan saja mereka mau membangun perusahaan mereka sendiri, aku tidak peduli. Sampai kapanpun, aku akan tetap mempertahankan perusahaan yang sudah dipercayakan padaku!"

__ADS_1


Alan memiliki keyakinan yang tinggi bisa melewati masa sulit ini. Rasanya ia ingin marah saat melihat pengkhianatan yang dilakukan Alex kepada perusahaan.


Ia tidak habis pikir Alex yang biasanya bersikap baik bisa berbalik menyerangnya. Meskipun mereka berbeda ibu, Alan tetap menyayangi Alex seperti adik-adiknya yang lain. Bahkan ia selalu membelanya saat kakek memarahi Alex.


Alan tidak memungkiri kerja keras Alex selama ini demi perusahaan. Ia juga sudah mempertahankan posisi Alex sebagai wakilnya meskipun sang kakek berniat mengganti posisi Alex untuk Ares. Menurutnya, setiap anak dari ayahnya berhak ikut mengurus perusahaan. Ia ingin kebersaamaan mereka sebagai lima bersaudara tetap terjaga selama-lamanya.


"Pak Alan, Tuan Narendra menunggu Anda di ruangan."


Suara asisten kepercayaan kakeknya membuat perhatian Alan teralih. "Kakek sudah ada di sini?" tanya Alan memastikan.


"Benar, Pak. Mari ikut saya!" ajak lelaki itu.


"Vin, tolong tenangkan karyawan agar tidak terpengaruh dengan situasi di luar. Aku akan menemui kakek dulu," pamit Alan kepada asistennya.


"Baik, Pak!" ucap Alvin.


Saat Alan berada di ruangan kakeknya, ternyata di sana juga sudah ada Alfa dan Ares. Raut wajah kakek terlihat tidak senang.


"Lihat sekarang apa yang terjadi, Alan! Semua karena keputusan bodohmu!" bentak kakek.


Alan hanya terdiam tak berani bersuara. Ia bersama kedua saudaranya seperti anak-anak yang baru saja membuat keonaran dan sedang dimarahi.


"Kakek sudah bilang kalau Alex tidak seharusnya ada di sini. Begini jadinya kalau kita membesarkan rumput liar di tengah ladang padi. Kacau! Kacau! Kacau!" kakek kembali menggerutu. Sebelum Alan datang, Alfa dan Ares sudah lebih dulu kena marah.

__ADS_1


"Percayakan saja padaku, Kakek! Aku pasti bisa mengatasinya," ucap Alan penuh percaya diri.


"Hah! Percaya pada orang baru sepertimu?" kakek terkekeh. "Aku tidak mau membuat kesalahan lagi. Aku tahu kamu selama ini menyembunyikan penyelewengan yang telah lama Alex lakukan terhadap perusahaan. Aku tidak bisa membiarkannya lagi."


__ADS_2