Wanita Milik 5 Tuan Muda

Wanita Milik 5 Tuan Muda
Bab 171: Kematian Kakek


__ADS_3

Irene dan Ares segera keluar dari mobil dan berlari memasuki rumah sakit. Ia sudah disambut oleh seorang perawat yang akan mengantarkan mereka ke ruang perawatan Alan dan kakek.


"Kak Alan!" seru Irene.


Ia menghampiri Alan yang tengah terbaring di ranjang perawatan dengan kepala yang diikat perban. Pada tangannya juga telah terpasang selang infus.


Irene menangis sembari memegangi tangan Alan. Ia sudah sangat khawatir saat kecelakaan di balapan waktu itu dan kejadian ini kembali terulang.


"Apa kamu baik-baik saja, Kak?" tanya Ares dengan raut wajah yang tak kalah cemasnya.


Alan mengangguk.


"Kakek bagaimana?" tanya Ares lagi.


Kali ini Alan berubah muram. Ia terlihat berat untuk mengatakannya. "Kakek masih ditangani dokter, kondisinya cukup parah," ucapnya.


Ares sedih mendengarnya.


Alan mulai menitihkan air mata mengingat kejadian sesaat sebelum terjadinya kecelakaan. Ia dan kakek masih bersenda gurau di dalam mobil. Kakek sempat membahas agar ia bisa terus memimpin perusahaan dengan baik serta menjaga adik-adiknya. Kakek juga merasa menyesal telah membedakan perlakuan Alex dari suadaranya yang lain. Ia meminta Alan untuk memperbaiki hubungan mereka.


Tidak disangka suasana pagi yang hangat itu akan berubah menjadi malapetaka yang datang secara tiba-tiba. Mobil Alan ditabrak sebuah truk hingga terbalik di jalan raya.


Kakeknya menderita luka yang cukup parah akibat kecelakaan itu. Sementara, Alan hanya mengalami luka di kepala karena benturan dan terkena serpihan kaca.


"Permisi, apa ini keluarga Tuan Narendra?" seorang dokter yang ditemani dua orang perawat masuk menemui mereka di sana.


"Iya, Dokter. Kami keluarganya. Bagaimana kondisi kakek?" tanya Alan cemas.

__ADS_1


Sang dokter terlihat menghela napas panjang. "Tuan Narendra masih dalam kondisi yang kritis. Beliau meminta kalian untuk datang menemuinya."


Mendengar ucapan dokter, rasanya sudah tidak ada harapan lagi untuk Irene, Alan, dan Ares.


Alan memaksa turun dari ranjangnya.


"Kak, kamu masih sakit," cegah Ares.


"Aku ungin menemui Kakek," kata Alan.


Mengetahui sifat kakaknya yang keras kepala, Ares mengambilkan tiang infus portabel untuk mengaitkan cairan infus milik Alan. Ia membantu mendorong dan memegangi tiang itu. Sementara, Irene turut menuntun tangan Alan. Ketiganya mengikuti sang dokter menuju ke ruangan tempat kakek dirawat.


"Kakek!"


Alan tak bisa menahan tangisannya saat melihat kakek yang terbaring lemah di ranjangnya. Berbagai peralatan medis tersambung dengan tubuh kakeknya. Ia menangis sesenggukan sembari memeluk kakeknya.


Dengan sisa tenaga, kakek mengelus punggung Alan. Ia melihat Irene dan Ares juga ada di sana ikut menangis. Ia tak pernah ingin menyaksikan cucu-cucunya menangis dan bersedih. Ia selalu berharap mereka bisa hidup dengan bahagia.


"Kakek tidak usah bicara seperti itu!" bentak Alan. Ia paling tidak suka jika kakek mengatakan sesuatu seolah-olah kakeknya akan pergi meninggalkan dia untuk selamanya.


Suara monitor pendeteksi detak jantung terus berbunyi mengiringi kesedihan yang mereka rasakan. Tim dokter yang masih berada di sana hanya bisa tertunduk sembari mendengarkan permintaan terakhir pasien mereka untuk beebicara kepada cucu-cucunya.


"Dengarkan baik-baik ucapan kakek, Alan. Aku serahkan perusahaan kepadamu, jangan kamu biarkan perusahaan keluarga kita hancur," kata kakek.


Alan tak mau mendengarkan ucapan kakek. Ia hanya terus menangis sembari berharap ada keajaiban yang membuat kakeknya bisa bertahan hidup lebih lama.


"Ares, kemari!" pinta Kakek.

__ADS_1


Ares mengusap air matanya. Ia mendekat ke arah kakeknya.


"Ares, kamu harus membantu kakakmu memajukan perusahaan. Kamu tidak boleh main-main lagi," ucap kakek.


Ares kembali menitihkan air mata. Meskipun ia sering kesal karena dilarang-larang, melihat kondisi kakeknya membuat dia sedih.


"Iya, Kek. Aku akan membantu Kak Alan," jawab Ares.


"Kakek ...." Irene turut mendekat mencium tangan kakek dengan penuh cinta. Ia menangis sesenggukkan tak berhenti-berhenti. Kakek selama ini sangat baik padanya.


Kakek mengembangkan senyum pada Irene. Selama ini ia sangat menginginkan seorang cucu perempuan. Kehadiran Irene di rumah memberikannya kesan bahagia di sisa hidupnya. Suasana rumah menjadi sangat hidup ketika Irene berada di sana.


"Satu hal lagi yang sering kakek pikirkan ... Kakek ingin Irene tetap tinggal bersama keluarga kita. Dia anak yang sangat baik dan kakek menyukainya."


Perkataan kakek semakin menambah Irene sedih. Ia merasa kakek tengah mengatakan salam perpisahannya.


"Alan ... Kamu mau kan, menikah dengan Irene?" tanya Kakek.


Mereka terkejut mendengar permintaan kakek.


"Kakek ini bicara apa?" Alan merasa semakin sedih. Ia rasa pembahasan itu tak layak dibahas saat itu.


"Irene, kamu mau kan, menikah dengan Alan?" kali ini kakek bertanya pada Irene.


Keduanya masih terdiam.


"Apa permintaan kakek sangat berlebihan? Kakek sangat ingin melihat kalian menikah," kata Kakek.

__ADS_1


"Cukup, Kek! Aku dan Irene akan menikah. Makanya, Kakek harus sembuh agar bisa melihat pernikahan kami!" ucap Alan. Ia tidak tahan lagi mendengar kakek terus merengek.


Kakek tersenyum. Tak lama setelah itu kakek menghembuskan napas terakhirnya. Alat pendeteksi detak jantung telah menunjukkan garis lurus. Kakek meninggal dunia.


__ADS_2