
"Selamat malam, Pak Alan, Nona Irene," sapa sekuriti yang brrtugas di area parkiran.
Alan mengabaikan sapaan itu. Tatapannya hanya fokus ke arah depan. Sementara, Irene harus berjuang berjalan cepat membuntutinya.
"Selamat malam, Pak Cito. Dapat shift malam, ya," sapa Irene dengan ramah. Ia ingin menutupi kesan angkuh yang diciptakan oleh suaminya.
Pak Cito yang awalnya cemberut kembali tersenyum mendengar keramahan Irene.
"Iya, malam ini saya menggantikan tugas teman. Nona Irene baru pulang?" tanya Pak Cito.
"Iya, Pak. Kalau begitu, saya naik dulu, ya!" kata Irene sembari tersenyum.
Jaraknya dengan Alan semakin jauh. Irene terpaksa melepas sepatunya agar bisa berlari mengejar Alan. "Kak, tunggu!" teriaknya.
Alan pulang ke apartemen dengan langkah yang berat. Hatinya masih terbakar oleh rasa cemburu dan amarah yang meluap-luap. Irene tak berani berbicara. Sepanjang perjalanan ia hanya bisa diam sementara Alan mengemudi dengan kencang.
Bahkan lelaki itu terus mengabaikan Irene. Selalu mengambil langkah di depan, tidak bicara sepatah katapun saat berada di dalam lift.
Ketika mereka sampai di dalam apartemen, suasana terasa tegang dan penuh ketegangan. Alan berhenti di tengah ruang tamu, menoleh ke arah Irene dengan pandangan tajam yang penuh emosi.
"Aku tidak bisa menghadapimu sekarang. Aku butuh waktu sendiri," ucapnya.
Irene mencoba mendekati Alan dengan penuh kekhawatiran, tetapi Alan mengacuhkannya dan menuju ke kamar tidur mereka.
"Kak, tolong dengarkan aku. Ini hanya kesalahpahaman," pinta Irene.
"Aku sudah cukup mendengar. Aku takut jika aku masih berbicara denganmu, amarahku akan semakin meledak." sejak tadi Alan terus menahan emosinya. Pikirannya kalut dan tidak bisa berpikir jernih.
Irene merasa sedih dan patah hati melihat Alan seperti itu. Dia mengerti bahwa cemburu dan rasa sakit yang dirasakan Alan sangat dalam, tetapi dia juga ingin memberikan penjelasan yang sebenarnya.
__ADS_1
"Sayang, aku mencintaimu dan aku tidak pernah memiliki niat buruk terhadapmu. Aku ingin menjelaskan semuanya," rayu Irene. Ia memasang wajah memelas agar Alan sedikit bisa luluh kepadanya.
Alan menghentikan langkahnya di depan pintu kamar tidur. "Aku tidak ingin mendengar penjelasan apapun saat ini. Aku hanya ingin waktu sendiri untuk memikirkan semuanya."
Dengan kata-kata itu, Alan masuk ke dalam kamar tidur mereka dan menutup pintu dengan keras sampai membuat Irene terkejut.
Irene berdiri di tengah ruang tamu dengan perasaan yang kalut. Mereka baru saja menikah dan sudah terjadi pertengkaran di antara mereka. Rasanya sakit melihat Alan yang begitu marah padanya.
"Kenapa dia tidak mau mendengarkanku dulu? Ini gara-gara Ares!" keluhnya.
Beberapa saat kemudian, Irene memutuskan untuk menghormati permintaan Alan. Dia duduk di sofa sendirian, merenungkan situasi yang rumit ini. Hatinya penuh dengan penyesalan dan keinginan untuk memperbaiki hubungan mereka.
"Hah, aku harus bagaimana?" tanyanya pada diri sendiri sembari menghela napas panjang.
Irene tahu bahwa dia harus memberikan Alan waktu dan ruang yang dia butuhkan untuk menenangkan diri dan memikirkan semuanya. Dia berharap bahwa nantinya mereka dapat duduk bersama dan berbicara dengan tenang.
"Ya sudahlah," pasrah Irene. Ia merebahkan diri di atas sofa sembari memandangi langit-langit.
***
Saat malam tiba, suasana di apartemen itu tetap hening. Keduanya merasa terpisah, meskipun berada dalam unit apartemen yang sama. Irene berbaring di sofa dengan hati yang berat, memikirkan hubungan mereka dan keputusan yang akan diambil ke depan.
Alan terjaga di tengah malam, pikirannya masih dipenuhi dengan pertengkaran mereka sebelumnya. Meskipun dia merasa marah dan kecewa, rasa kasih sayangnya terhadap Irene tidak bisa ia tahan.Dia merasa kehilangan dan bingung, tidak tahu apa yang harus dilakukan selanjutnya. Malam ini ia merasa begitu kesepian.
"Ah! Ada apa denganku!" keluh Alan sembari mengacak-acak rambutnya sendiri dengan kesal.
Diam-diam, Alan bangkit dari tempat tidurnya dan dengan hati-hati mengintip ke luar pintu kamar tidur. Dia melihat Irene tertidur pulas di atas sofa, tampak rapuh dan lelah. Wajahnya yang tenang membuat hati Alan bergetar.
Tanpa berpikir panjang, Alan menghampiri Irene dengan langkah perlahan. Hatinya penuh dengan rasa cinta dan belas kasihan. Dia tahu bahwa, di dalam keheningan malam, saat-saat seperti ini adalah saat yang paling intim dan paling rentan.
__ADS_1
"Aku ingin mempercayaimu. Tapi, melihatmu seperti itu membuatku marah," lirihnya sembari memandangi Irene.
Alan mengangkat tubuh Irene dengan lembut dan memeluknya dalam pelukannya. Ia merasa kehangatan dan kelembutan Irene di dalam dekapannya. Dalam ketulusan hati, Alan memutuskan untuk memindahkan Irene ke kamar tidur mereka.
"Eugh ...." terdengar suara lengkuhan Irene. Istrinya masih lelap tertidur. Wanita itu sepertinya sangat kelelahan.
Dengan langkah lembut, Alan membawa Irene dalam pelukannya dan melintasi ruang tamu yang remang-remang. Dia berusaha keras agar Irene tetap terlelap dalam tidurnya. Setelah melangkah perlahan, mereka akhirnya sampai di depan pintu kamar tidur.
Alan membuka pintu dengan hati-hati dan memasuki kamar tidur. Dia meletakkan Irene dengan lembut di tempat tidur mereka, memastikan agar dia tetap nyaman. Irene bergerak sedikit dalam tidurnya, namun tetap terlelap.
Alan duduk di tepi tempat tidur, memandangi Irene dengan penuh perhatian. Dia merasakan gelombang emosi yang rumit di dalam dirinya. Kecemburuan, kekecewaan, dan kerinduan bergelut dalam hatinya.
"Mungkin aku terlalu mencintaimu sampai aku sangat takut kehilanganmu," ucapnya dengan nada setengah berbisik.
Perlahan-lahan, Alan meraih tangan Irene yang terbuka. Dia merasakan kelembutan kulitnya di ujung jari-jarinya. Ia merasakan ketenangan yang datang dari sentuhan mereka yang saling menyentuh.
Dalam redupnya cahaya kamar tidur, Alan memandangi wajah Irene dengan perasaan campur aduk. Dia mengingat momen-momen indah mereka bersama, kebahagiaan dan cinta yang pernah mereka bagikan.
Alan tahu bahwa mereka berdua harus berbicara dan menyelesaikan masalah mereka. Namun, di saat itu, ia merasa tidak ingin mengganggu ketenangan Irene yang sedang tertidur.
Dengan penuh cinta dan kelembutan, Alan membisikkan kata-kata pengharapan pada Irene.
"Aku mencintaimu, Sayang. Aku berharap kita bisa mengatasi semua ini dan memulihkan hubungan kita. Mari kita berbicara besok dan memperbaiki segalanya," katanya.
Setelah itu, Alan mencium lembut kening Irene sebelum beranjak meninggalkan kamar tidur mereka. Dia berharap untuk tidur dengan pikiran yang lebih tenang dan hati yang lebih terbuka pada keesokan harinya.
Alan menutup perlahan pintu kamar. Sementara, ia beralih ke arah ruang kerjanya. Ia merebahkan diri di atas ranjang yang ada di ruangan itu. Pikirannya masih menerawang membayangkan momen Irene tengah berpelukan dengan Ares.
"Kalau sampai terulang lagi, mungkin aku akan menghajarnya," gumam Alan.
__ADS_1
Ia tahu bahwa adik bungsunya sangat tertarik dengan Irene. Namun, menurutnya tidak seharusnya Ares masih mendekati Irene yang sudah menjadi istrinya.