Wanita Milik 5 Tuan Muda

Wanita Milik 5 Tuan Muda
Bab 264: Mengunjungi Alex


__ADS_3

Vito Narendra memasuki ruang kunjungan di penjara menaiki kursi rodanya dengan bantuan sang sopir. Dia memandang sekeliling ruangan, mencari keberadaan putranya, Alex. Vito merasa gugup karena setelah belasan tahun ini akan menjadi pertama kalinya bertemu dengan putranya itu.


Ia sengaja datang sendiri tanpa memberitahukan rencananya baik kepada putra-putranya yang lain maupun istrinya.


Sebelum datang, ia meminta bantuan kepada salah seorang polisi kenalannya untuk mengatur pertemuan tersebut.


Saat tiba di ruang jenguk tahanan, akhirnya, Vito melihat Alex yang duduk di sudut ruangan, di antara para narapidana lainnya. Alex mengangkat kepalanya dan menatap ayahnya, terlihat canggung dan keheranan.


Alex masih mengenali wajah ayahnya meskipun kini sudah terlihat lebih tua dari pada dulu. Rasanya masih tidak percaya jika ayahnya masih hidup.


Vito menarik napas dalam-dalam dan mendekati putranya yang telah lama tidak bertemu. "Alex, bagaimana kabarmu?" tanya Vito dengan suara lembut.


Alex hanya mengangguk, dia tidak berbicara. Suasana menjadi canggung karena Vito tidak tahu harus berkata apa. Mereka berdua saling menatap, saling merenungkan kata-kata untuk mengisi keheningan.


Vito tersenyum. "Kamu pasti masih kaget, ya, melihat papamu ini ternyata masih hidup," kata Vito. "Aku juga tidak menyangka masih diberi kesempatan untuk bertemu dengan putra-putraku. Meskipun papamu ini sekarang tak lagi bisa berjalan seperti dulu."


Alex melihat kondisi papanya yang ada di atas kursi roda. "Mama apa kabar?" tanya Alex.


"Mama baik-baik saja. Kapan-kapan Papa akan ajak dia ke sini untuk menjemputmu," jawab Vito.


"Jangan, tidak perlu," kata Alex.


Dalam ingatan Alex, Indira merupakan wanita yang baik, lembut, dan penyayang. Meskipun bukan anak kandung, ia tetap diperlakukan sama dengan saudara-saudaranya yang lain. Bagi Alex, Indira sudah seperti ibu kandungnya sendiri. Ia akan malu jika orang yang disayangi melihat dirinya dalam kondisi seperti itu.


"Orang rumah belum ada yang memberitahukan keberadaanmu pada Mama. Tapi, aku yakin dia akan senang jika bertemu denganmu," kata Vito meyakinkan.


"Tidak usah, Pa. Biarkan saja Mama tidak tahu selamanya," pinta Alex.


Vito menatap putranya dengan tatapan sendu. Alex merupakan putra kedua yang dilahirkan oleh wanita lain yang tidak sengaja ia tiduri saat mabuk. Ibu kandung Alex seorang pelayan di klab malam dan telah meninggal satu tahun setelah Alex dilahirkan.

__ADS_1


Alex dikirim ke kediaman keluarga Narendra saat itu. Indira dan kakek sangat syok mengetahui Vito telah memiliki putra dari wanita lain. Kakek sebenarnya sudah melarang Alex tinggal di sana. Namun, dengan hati yang lapang, Indira mau menerima dan merawat Alex seperti anaknya sendiri.


Vito sangat mencintai istrinya, Indira. Ia juga bersyukur atas kebesaran hati wanita itu untuk memaafkan kekhilafan yang pernah dilakukannya.


"Alex, aku tidak pernah mengira bahwa kamu akan melakukan sesuatu seperti ini. Kenapa kamu sampai membunuh kakekmu?" tanya Vito menyayangkan perbuatan Alex.


Alex terlihat tergugah oleh pertanyaan ayahnya. Dia menarik napas dalam-dalam sebelum memulai menjelaskan. "Pa, kakek memperlakukan aku tidak adil. Dia selalu menganggapku sebagai anak harammu. Dia bahkan tidak pernah memandang wajahku saat kami berbicara," jawabnya.


Vito terlihat terkejut mendengar penjelasan Alex. "Apa maksudmu dengan tidak adil? Bagaimana dia memperlakukanmu?"


Alex terlihat sedih saat mengingat kembali kenangan masa kecilnya. "Kakek selalu meremehkan aku, membandingkanku dengan saudaraku yang lain. Kakek tidak pernah memberiku kesempatan yang sama, bahkan ketika aku meminta bantuan kepadanya."


Vito merasa sedih dan bersalah atas perlakuan yang Alex terima. "Aku tidak pernah menyadari bahwa kamu menderita seperti itu, Alex. Maafkan papa."


Vito menyesal dengan apa yang telah terjadi. Ia bisa memahami bagaimana sulitnya kehidupan yang Alex jalani tanpa dirinya. Ia memang tahu jika ayahnya tak menghendaki keberadaan Alex di rumah itu. Kakek selalu mengatakan bahwa cucunya hanya ada empat.


"Tidak apa-apa, Pa. Itu juga sudah lama berlalu. Yang terpenting adalah masa sekarang," kata Alex dengan suara gemetar.


Vito menatap putranya dengan tatapan tajam. "Lalu apa yang sebenarnya terjadi, Alex?"


Alex menelan ludah dan mencoba menjelaskan. "Saat itu aku kesal pada Kak Alan. Kakek selalu mengunggulkan dia dan meremehkan aku karena aku anak haram. Aku tidak tahan lagi dan menyuruh orang untuk mencelakai Kak Alan. Tapi ternyata kakek ada dalam mobil bersama Kak Alan saat itu. Kejadiannya tidak seperti yang kusangka, kakek terluka parah dalam kecelakaan akibat ulah orang yang kukirim. Dan akhirnya kakek meninggal."


Vito terdiam beberapa saat, mencerna semua yang telah dikatakan oleh putranya. "Kamu tahu, Alex, perbuatanmu itu sangat salah," ucapnya.


Rasanya ia ingin menangis mengetahui ada permasalahan yang terjadi di antara putra-putranya. Padahal dulu ia mengasuh mereka agar saling menyayangi satu sama lain.


"Tidak ada alasan untuk menyakiti orang lain, bahkan jika mereka membuatmu kesal. Kakek itu masih keluarga kita dan harus dihormati," kata Vito. "Kamu juga kenapa sampai berpikir sejauh itu pada Alan? Dia kakakmu sendiri!" ujarnya dengan nada kecewa.


Alex menundukkan kepalanya. "Aku tahu, Pa. Aku sangat menyesal atas apa yang terjadi. Aku tidak pernah menyangka akan jadi seperti ini pada akhirnya."

__ADS_1


Vito menghela nafas panjang. "Kita tidak bisa mengubah apa yang telah terjadi, Alex. Yang bisa kita lakukan sekarang adalah menerima konsekuensi dari perbuatanmu dan mencoba memperbaiki kesalahanmu."


Alex mengangguk mengerti. "Aku siap untuk menerima hukuman yang pantas, Pa. Aku tidak akan melarikan diri dari tanggung jawabku."


Selama berada di penjara, Alex menjadi semakin sering merenung. Ia berkali-kali menyesali perbuatannya. Ia seharusnya lebih bersabar menghadapi kakek.


Vito mengelus pundak putranya. "Itu yang harus kamu lakukan, Alex. Itu namanya lelaki yang bertanggung jawab," ucapnya dengan binar kebanggaan. "Tapi ingat, meskipun kamu melakukan kesalahan, kamu tetap anakku dan aku akan selalu mencintaimu."


Alex mengembangkan senyum. Ia bahagia bisa bertemu dengan ayah kandungnya.


Setelah beberapa saat terdiam, Vito menarik napas dalam-dalam dan menatap putranya dengan serius. "Alex, selama kamu di sini, apa saudara-saudaramu rutin menjengukmu?" tanyanya.


Alex menggelengkan kepalanya sedih. "Tidak, Pa. Aku tidak pernah melihat mereka di sini. Tapi, itu wajar saja. Aku yang telah membunuh kakek," katanya.


Vito terlihat kesal dan sedih dengan sikap putra-putranya yang terkesan acuh tak acuh. Sesalah apapun Alex, mereka masih saudara. "Aku tidak percaya mereka bisa bersikap seperti ini terhadapmu,"


Alex menarik napas dalam-dalam. "Tidak apa-apa, Pa. Itu bukan hal besar. Lagipula, ada Irene yang beberapa kali menjengukku," jawab Alex.


"Irene?" ulang Vito, sedikit terkejut. "Apakah itu calon istri Alan?"


Alex mengangguk. "Benar, Pa. Dia wanita yang baik. Padahal aku sering berbuat buruk padanya, tapi Irene masih peduli padaku. Dia selalu membawa makanan dan buku-buku untukku. Dia juga suka mengingatkanku untuk bertaubat," ucapnya sembari terkekeh.


Saat mengingat momen-momen pertemuannya di penjara bersama Irene, wanita itu selalu mengatakan agar dirinya bertaubat agar bisa mendapatkan pengampunan. Meskipun menyebalkan, tapi Alan bisa merasakan perhatian Irene kepadanya.


Vito tersenyum kecil mendengar hal itu. "Aku lihat dia memang wanita yang baik."


Alex mengangguk setuju. "Kak Alan sangat beruntung bisa mendapatkan istri seperti Irene. Aku harap mereka bisa hidup dengan bahagia."


Percakapan mereka berlanjut selama satu jam, membahas tentang masa depan Alex. Vito menenangkan putranya dan memberinya harapan. Alex akhirnya bisa tersenyum kembali, merasa ada harapan untuk masa depannya.

__ADS_1


Setelah kunjungan selesai, Vito meninggalkan ruang kunjungan dengan perasaan lega dan bahagia. Dia percaya bahwa dia akan membantu putranya untuk memperbaiki keadaannya.


__ADS_2