Wanita Milik 5 Tuan Muda

Wanita Milik 5 Tuan Muda
Bab 299


__ADS_3

"Jadi, kalian semua tidak mau tinggal di sini lagi?" tanya Vito.


Ia mengumpulkan kelima putranya untuk duduk bersama di ruang tengah. Tampak Alan, Ares, Alfa, dan Arvy duduk bergerombol. Sementara Alex yang tersisih duduk di dekat sang ayah.


"Aku sudah menikah, Pa. Jadi aku akan tinggal di apartemen untuk seterusnya sambil menunggu rumah baruku jadi," kata Alan. "Lagi pula, Irene pasti tidak akan nyaman tinggal bersama banyak orang," sambungnya.


"Sejak dulu Irene kan sudah tinggal di sini. Nyatanya dia betah-betah saja kan tinggal bersama kita di sini," timpal Ares.


Alan langsung melirik ke arah Ares dan menatap tajam adik bungsunya itu. "Sekarang sudah berbeda, Res. Irene sudah menjadi istriku," tegasnya.


"Kak Alan takut istrinya kamu bully, Res! Hahaha ...." sahut Arvy.


Ares langsung terdiam. Sebenarnya dia tidak keberatan jika harus tinggal di rumah besar itu kalau Irene masih ada di sana.


"Bagaimana denganmu, Arvy? Kamu kan belum menikah, kenapa ikut keluar dari rumah ini?" tanya Vito.


Tawa Arvy hilang. Ia seketika terdiam. Gara-gara ikut bicara, ia juga jadi kena getahnya ditanya alasan oleh ayahnya.


"Rencananya Kak Arvy juga mau menikah, Pa. Dia sudah menyiapkan rumah untuk istrinya. Tapi, katanya dia baru putus sama pacarnya. Jadi kemungkinan tidak jadi menikah. Seharusnya sih masih bisa tinggal di sini," celetuk Ares membalas perkataan Arvy sebelumnya.


Arvy mengacungkan kepalan tangan kepada adiknya dengan tatapan mata mengancam.


"Loh. Kamu sudah putus dengan Adila?" tanya Indira kaget. Ia yang baru keluar dari dapur melangkah mendekat dan duduk di samping Arvy.


"Mama tahu kalau Arvy punya pacar?" tanya Vito penasaran.


"Apaan sih, Ma!" keluh Arvy yang malu terhadap saudaranya karena dibahas tentang mantan pacarnya.


"Iya, Pa. Arvy pernah cerita kalau ada niatan untuk menikah dengan Adila, bintang film muda yang sering tampil di iklan juga, Pa. Anaknya cantik," terang Indira.


Arvy pasrah kini menjadi pusat perhatian saudara-saudaranya. Ia lihat Ares menahan tawa karena sudah berhasil mengangkat topik tentang dirinya. Kalau pertemuan itu sudah selesai, ia berencana untuk menghajar adiknya itu.


"Kenapa tidak pernah kamu ajak main ke rumah, Ar? Papa kan belum kenal," ujar Vito.


"Sudah putus, Pa," jawab Arvy singkat.

__ADS_1


"Waktu itu Arvy buru-buru mau nikah. Tapi, Mama bilang tunggu Alan menikah dulu. Lalu, Alex dan Alfa juga harus menikah dulu baru kemudian Arvy boleh menikah," kata Indira.


"Kelamaan nunggunya, Ma. Keburu putus dia. Kalau aku tidak usah ditunggu, kalau Arvy mau menikah lebih dulu tidak apa-apa," sahut Alfa.


"Aku juga, Ma. Aku belum ada niatan menikah. Tidak apa-apa kalau Arvy atau yang lain mau menikah duluan," sambung Alex.


Saudara yang lain membuang muka saat Alex berbicara. Mereka seolah tidak mau mengakui keberadaan Alex di sana.


"Tidak boleh seperti itu, Alex. Kalau ada yang dilangkahi lebih dulu, nanti jodohnya sulit," kata Indira.


"Lagi pula aku kan sudah putus, Ma! Jangan dibahas lagi!" kata Arvy dengan ketus.


"Iya, Ma. Jangan dibahas terus. Kasihan Kak Arvy baru putus, masih sakit hati!" seru Ares.


Arvy langsung mengambil sebuah bantal sofa dan melempar kasar tepat ke muka adik bungsunya yang menyebalkan.


"Sudah, sudah, jangan bertengkar," tegur Vito. "Aku bisa memaklumi Alan yang keluar karena sudah menikah. Tapi, kalian kan masih belum menikah. Apa salahnya tetap tinggal di sini? Kalian tidak kasihan dengan orang tua seperti kami yang semakin menua?" tanyanya.


"Iya, Arvy, kamu kan masih bisa tinggal di sini. Nanti mama buatkan makanan kesukaanmu," bujuk Indira.


"Maaf ya, Ma. Aku sering sibuk syuting dan pemotretan. Jarak tempat kerja jauh dari sini. Jadi, aku pilih di apartemen saja yang dekat kantor," kata Arvy.


"Oh, Mama kecewa sekali mendengarnya," kata Indira memasang wajah sedih. "Lalu, kalau Alfa bagaimana?"


Alfa sedikit terkejut giliran namanya disebut. Ia tersenyum kikuk. "Aku sedang sibuk fashion show, Ma. Jadi, aku lebih sering tidur di tempat produksi atau butik," katanya memberi alasan.


"Ma, Kak Alfa temannya wanjta jadi-jadian semua. Mama tidak takut kalau Kak Alfa ketularan?" ujar Ares.


"Heh! Sembarangan!" Alfa melempar bantal ke arah Ares. Ia tidak menyangka adiknya akan bicara seperti di hadapan mereka.


"Jangan dengarkan ucapan Ares, Ma! Mereka hanya sekedar rekan kerja. Aku masih normal, kok!" tegas Alfa agar tidak terjadi salah paham.


Indira hanya mengerutkan dahinya.


"Lebih baik Ares yang tinggal di sini, Pa, Ma, dia kan masih kuliah," usul Arvy.

__ADS_1


"Nah, aku setuju, Ma. Dia masih belum bisa menentukan masa depannya. Dia masih perlu pendampingan orang tua karena masih pelajar," kata Alfa menyetujui usul Arvy.


Ares melebarkan mata tidak terima dengan ucalan kedua kakaknya. "Enak saja! Aku walaupun belum lulus kuliah sudah ikut kerja di perusahaan. Waktu kondisi perusahaan sedang tidak stabil gara-gara ulah seseorang, aku juga ikut lelah bekerja membantu Kak Alan!" bantah Ares sembari memberikan sindiran kepada Alex.


"Aku juga mau fokus belajar dan bekerja karena sebentar lagi masih sidang. Makanya aku tinggal di apartemen Kak Alan," lanjutnya.


"Hah, kamu tinggal bareng pengantin baru?" tanya Arvy kaget.


"Apartemen Kak Alan yang lain!" terang Ares.


"Oh, aku kira kamu masih jadi ekornya Kak Alan. Kemana-mana ikut-ikutan terus," ledek Arvy.


"Kenapa memangnya? Kak Alan kan memang baik hati tidak sepertimu. Dasar Arvy!" kesal Ares.


"Eh, apa tadi kamu bilang?" Arvy sudah beranjak dari tempatnya hendak menghajar sang adik karena berani menyebut namanya tanpa panggilan yang sopan.


Alfa dan Alan melerai perkelahian yang hampir saja terjadi. Indira dan Vito hanya bisa melihat. Meskipun mereka sudah dewasa, ternyata terkadang jika kekanak-kanakkan putranya muncul juga.


"Biarkan saja Ares tinggal di apartemenku, Pa. Pekerjaan di kantor juga memang banyak dan dia juga harus mempersiapkan sidangnya," kata Alan dengan bijak.


Ares tersenyum senang karena Alan membelanya.


"Jadi, tidak ada yang mau tinggal di sini?" tanya Vito memastikan.


Tidak ada yang menjawab pertanyaan dari sang ayah.


"Biar aku saja yang tinggal di sini bersama Papa," ucap Alex. Ia kembali menjadi Alex yang dulu, tingkahnya sopan dan perkataannya sopan. Namun, keempat saudaranya tetap tidak menyukainya.


"Bagaimana, Indira? Kamu tidak keberatan jika Alex yang tinggal di sini, kan? Putra-putra kita yang lain tidak ada yang mau," tanya Vito untuk memastikan jawaban istrinya.


Indira mengguk. "Tidak apa-apa. Rumah ini terlalu besar untuk kita huni berdua," jawabnya.


"Jangan macam-macam kepada Mama dan Papa, ya! Awas kalau ada apa-apa!" ancam Arvy.


Alfa segera membungkam mulut adiknya itu.

__ADS_1


"Arvy, berhenti berkata seperti itu!" tegur Indira.


Alex tampak canggung mendengar ucapan Arvy. "Kamu tidak perlu khawatir. Aku akan menjaga mama dan papa dengan baik," ujarnya.


__ADS_2