Wanita Milik 5 Tuan Muda

Wanita Milik 5 Tuan Muda
Bab 166: Tabrakan


__ADS_3

Hari kedua balapan telah tiba. Alan berjalan menghampiri AI dan memberikan sebotol minuman kepadanya. "Minumlah," ucapnya.


"Terima kasih." AI menerima minuman pemberian Alan.


Beberapa penggemar AI datang untuk memberikan semangat. Mereka yakin kali ini AI juga mampu menjadi yang tercepat di balapan.


"Balapan mau dimulai. Kita ke sirkuit, yuk!" ajak Alan.


AI mengangguk. Ia berjalan bersama Alan menuju tempat balapan. Mereka start di baris kedua saling bersebelahan. Sebelum balapan dimulai, keduanya sempat melemparkan pandangan.


Setelah lampu tanda dimulai balapan menyala, seluruh peserta langsung memacu kendaraannya. Mobil milik AI melesat ke depan diikuti dengan Alan.


Alan yang memang balapan ingin membuktikan kemampuan AI, ia terus membayangi kemanapun mobil AI melaju. Bahkan pembalap-pembalap lain seakan tidak dianggapnya. Ia hanya membayangkan jika dirinya tengah balapan dengan AI saja.


Di pertengahan lomba, Alan mulai merasakan ada yang aneh dengan mesin mobilnya. Laju kendaraan itu tidak stabil, bahkan ia tak bisa mengeremnya. Ia mulai panik karena posisi mobilnya sejajar dengan milik AI. Jika mobilnya oleng, maka mobil AI akan ikut terkena imbasnya.


"AI ... Menyingkir! Menyingkir!" teriak Alan lewat kaca jendela mobil.


AI juga merasa ada yang tidak beres dengan laju mobil Alan. "Kenapa jadi seperti ini? Padahal aku sudah menukar mobil dengannya," gumamnya sembari terus menjaga jarak mobil dengan Alan.


Ia sangat khawatir dengan kondisi Alan di dalam mobil itu. Padahal tujuannya bertukar kendaraan untuk mencegah hal semacam itu terjadi. Tidak panjang pikir lagi, AI nekad menabrakkan mobilnya ke mobil milik Alan dan mendorongnya ketepi.

__ADS_1


Suara dentuman cukup keras terdengar saat kedua mobil bertabrakan. Para penonton tercengang melihat apa yang terjadi. Dua mobil tercepat yang menjadi jagoan mereka tiba-tiba bertabrakan.


AI bergegas turun dari mobilnya menghampiri Alan yang masih berada dalam mobil berasap itu. "Apa kamu baik-baik saja?" tanyanya khawatir.


Alan meringis menahan sakit. "Kakiku terjepit," ucapnya sembari berusaha menarik kakinya dari jepitan mobil.


Tim pemadam kebakaran dan tim medis berlarian menghampiri mereka. Tim pemadam menyemprotkan gas untuk mematikan api yang berkobar agar tidak menjalar. Sementara, tim medis membantu Alan keluar dari mobilnya.


Alan yang dalam kondisi terluka dipapah dengan tandu oleh beberapa tim medis. AI yang melihatnya menjadi bertambah khawatir.


Balapan kali ini AI gagal finish dengan baik. Namun, ia tidak mencemaskan masalah itu. Ia lebih cemas terhadap keselamatan Alan. Apalagi mengingat perbincangan orang asing waktu itu yang sempat membahas bahwa mereka menginginkan kaki Alan.


"Nona, bagaimana kondisi Anda?" Jay berlari dengan napas terengah-engah menghampiri AI. Ia sangat khawatir dengan nonanya itu.


"Saya tidak tahu, Nona. Waktu itu sudah benar-benar saya cek semua dalam kondisi baik. Mana mungkin saya teledor dan mengorbankan keselamatan Anda."


"Kalau begitu, coba kamu cek ulang mobil yang dia pakai. Aku rasa ada yang tidak beres!" perintah Irene.


"Baik, Nona."


Jay mengajak dua orang mekanik kepercayaannya untuk ikut mengecek kendaraan yang Alan kendarai. Cukup lama mereka melakukan pengecekan hingga kejanggalan itu akhirnya ditemukan.

__ADS_1


"Nona, lihat ini," pinta Jay.


Irene mendekat. Jay memperlihatkan kabel rem yang sengaja dipotong. Juga ada bagian mesin dimanipulasi. Wajar jika di tengah balapan mobil itu menjadi hilang kendali.


Irene memanggil beberapa staff dan penanggung jawab penyelenggara yang bertugas di sana.


"Bukankah salah satu tugas kalian juga mengecek kondisi kendaraan yang akan dipakai peserta? Meskipun kami punya tim mekanik sendiri-sendiri, ini tetap menjadi tanggung jawab kalian! Ada yang berusaha curang bahkan ini termasuk percobaan pembunuhan!" gerutu Irene.


"Maaf, Nona. Ini memang kesalahan dari pihak kami. Kami akan melakukan evaluasi dan mencari tahu siapa pelakunya," jawab salah satu dari mereka.


"Kalian harus bertanggung jawab jika ada hal yang buruk terjadi!" tegas Irene.


Mereka menunduk dan tak berani menatap Irene.


Irene pergi dari sana ditemani Jay. Mereka menuju rumah sakit tempat Alan dirawat. Ia hanya mengintip sekilas Alan yang terbaring di ranjang perawatannya.


"Bagaimana kondisinya, Dok?" tanya Irene. Ia langsung datang menemui dokter yang menangani Alan. Ia masih tidak tega untuk bertemu langsung dengan lelaki itu.


"Dari hasil rontgen, tulang kakinya baik-baik saja, tidak ada pergeseran tulang ataupun patah tulang. Hanya saja, ia mengalami luka luar. Saya harap sementara waktu dia menghidari kegiatan berbahaya semacam itu," nasihat dokter.


Irene bisa bernapas lega mendengar kondisi Alan baik-baik saja. Ia menyuruh Jay untuk kembali mengantarnya pulang.

__ADS_1


"Kenapa Nona kelihatannya sangat peduli dengan lelaki itu?" tanya Jay sembari fokus pada kemudinya.


"Dia temanku, Jay. Jadi aku peduli padanya," jawab Irene. Ia setengah hati menjawab pertanyaan Jay. Pikirannya ada di tempat lain mengira-ira siapa yang sekiranya tega berusaha mencelakai Alan.


__ADS_2