
Drrtt ... Drrtt ....
Ponsel Irene kembali bergetar.
"Dari Kak Alan, ya?" tanya Ares.
"Ya," jawab Irene. Ia mengangkat telepon yang datang dari Alan.
"Halo, Kak?" sapanya. Kali ini ia memakai nada yang lembut untuk bicara. Padahal sebelumnya ia bahkan tidak mau menerima telepon dari Alan sama sekali.
"Apa hadiahnya sudah datang?"
Irene tersenyum. "Iya, sudah, terima kasih," ucapnya.
"Cie ... Ada yang udah luluh kayaknya," ledek Ares.
Irene meletakkan jari telunjuk di bibirnya agar Ares diam dan berhenti bicara.
"Nanti aku jemput boleh?" tanya Alan dari sambungan telepon.
"Boleh," jawab Irene dengan nada lembutnya.
"Kalau begitu, sampai jumpa nanti. Aku akan menjemputmu."
"He em, iya."
Irene mematikan teleponnya. Suasana hatinya kini telah membaik.
***
"Bagaimana, Pak?" Finn masih berdiri di sana menunggu atasannya yang tengah berbicara lewat telepon.
Alan tersenyum lebar. Ia lega Irene mau menerima telepon dan berbicara dengannya. "Finn ...," panggilnya.
"Iya, Pak?"
"Nanti aku akan memberikanmu bonus, ya. Kalau kamu butuh liburan, hubungi aku," kata Alan.
Finn tentu saja bahagia mendengar hal itu terucap dari mulut atasannya. "Terima kasih, Pak," ucapnya.
"Apa setelah ini masih ada jadwal meeting?" tanya Alan.
"Tidak ada, Pak."
"Baguslah kalau begitu. Kamu tangani pekerjaanku soalnya aku mau menjemput calon istriku," kata Alan.
__ADS_1
Ia bangkit dari kursinya dan meninggalkan Finn di sana. Barulah Finn sadar bahwa ia tetap saja repot setelah memberikan saran itu. Tapi, setidaknya perasaan bosnya jauh lebih baik dari sebelumnya.
Alan mampir ke sebuah restoran membungkuskan makanan untuk Irene. Setelah membelikan makanan, ia melajukan mobil menuju ke arah kampus Irene.
Sepertinya Irene belum keluar dari kampusnya. Ia tetap menunggu di dalam mobil sembari mendengarkan lagu Hyena. Entah mengapa ia menyukai setiap lagu Hyena. Mungkin karena suaranya mirip dengan suara Irene.
Tok tok tok
Pintu kaca mobilnya diketuk oleh Irene. Alan segera membuka kunci mobilnya. Irene masuk ke dalam dan duduk di samping Alan membawa buket bunga dan coklat yang Alan kirimkan untuknya.
Irene tampak malu-malu dan belum berani menatap Alan setelah semingguan ia mendiamkannya.
"Sudah selesai kuliahnya?" tanya Alan.
"Sudah, Kak," jawab Irene dengan canggung.
Alan menatap wajah Irene. Wanita itu seakan ingin menghindari tatapannya. Suasana di dalam mobil menjadi sedikit canggung.
Alan mulai melajukan mobilnya di jalanan yang cukup padat kendaraan mengingat sudah masuk jam istirahat siang.
"Aku membelikanmu makanan tadi. Kita makan bareng di apartemen, ya?" ajak Alan.
"Kenapa kita tidak langsung pulang saja ke rumah, Kak?" tanya Irene heran.
"Aku masih mau lebih lama berdua denganmu."
Alan kembali melajukan mobilnya saat lampu hijau menyala. Melewati area perkotaan di siang hari memang harus bersabar dengan kemacetan yang terjadi. Baru jalan sedikit sudah kena lampu merah lagi.
"Irene ...," panggil Alan.
"Hm?"
"Kamu jangan salah paham tentang aku dan Sovia yang waktu itu bertemu," kata Alan.
Irene tetap masih kesal setiap mengingat kejadian itu.
"Sovia memang waktu itu mengajakku bertemu untuk membicarakan suatu masalah, tapi tidak ada yang spesial di antara kami selain pembicaraan itu saja," ucap Alan. "Kami tidak akan balikan. Ada alasan besar yang membuatku putus dengannya dan itu sudah menutup hatiku terhadapnya. Sekecil apapun perasaan itu, aku tidak punya lagi untuknya," lanjut Irene.
"Lalu, kenapa dia memeluk lengan Kakak sepertinya mesra banget?" celetuk Irene.
Alan sampai tidak menyangka jika Irene tahu sampai sedetil itu tentang mereka. Ia memang tidak bisa meremehkan jiwa intel yang Irene miliki.
"Ah, itu ... Kalau aku larang, dia akan melakukan hal yang lebih memalukan di tempat umum. Kamu tidak perlu lagi memikirkannya, dia bukan sainganmu, Irene. Percayalah, aku sangat tahu Sovia seperti apa dan tidak mungkin aku mau dengannya lagi."
"Mungkin Kakak sudah bosan karena sudah tahu dia luar dalam," sindir Irene lirih.
__ADS_1
Alan yang tengah fokus menyetir langsung membelokkan setirnya tiba-tiba dan menghentikan mobil di pinggir jalan. Irene sampai berpegangan pada sisi jendela karena hampir membentur dashboard mobil.
Ucapan Irene barusan sedikit membuat Alan tersinggung. "Aku bisa memaklumi kalau kamu marah masalah kemarin, aku memang salah. Tapi, apa kamu perlu berkata seperti itu untuk merendahkanku?"
Alan menunjukkan raut kesalnya. Irene tidak menyangka jika perkataannya akan membuat Alan tersinggung.
"Aku tidak bisa mengubah kenyataan kalau dulu kami memang pernah punya hubungan. Tapi, aku sudah memutuskannya jauh sebelum kita bertunangan. Apa kamu tidak bisa terima karena masalah itu?"
Keduanya saling bertatapan. Terlihat jelas jika Alan serius dengan perkataannya.
"Apa kamu ingin mengejek kebodohanku yang pernah berhubungan dengan Sovia? Kalau kamu ingin tahu, aku sangat menyesal dengan hal itu!"
Alan memukul setir mobinya. Ia menyembunyikan wajahnya di atas setir itu sembari menahan kekesalannya.
"Aku tidak bermaksud begitu. Maafkan aku," ucap Irene menyesal.
Alan mengangkat wajahnya, bersandar pada stir mobil sembari menatap Irene.
"Lupakan saja, Kak. Kita tidak harus membahas Sovia lagi. Aku memang sedikit cemburu karena kejadian kemarin," kata Irene.
"Cemburumu yang sedikit itu sudah membuatku pusing dan frustasi selama semingguan. Kamu kalau cemburu tidak imut, tapi seperti singa yang menakutkan," ledek Alan.
Irene tersenyum. Ia mendekatkan wajahnya lalu mencium sekilas bibir Alan. "Apa ada singa yang melakukan ciuman seperti ini?" tanyanya.
Alan melebarkan mata. Ia belum siap menerima ciuman inisiatif yang Irene berikan kepadanya.
"Itu namanya curang!"
Alan menegakkan badan. Giliran ia yang mendekatkan tubuhnya pada Irene yang berusaha menghindar. Sempitnya ruang dalam mobil membuat Irene tak bisa kemana-mana.
Di dalam mobil itu, Alan menyerangnya, memagut bibirnya dengan sangat agresif bahkan hampir tak memberinya kesempatan untuk menghela napas.
Jemari mereka saling bertautan seperti bibir dan lidah mereka yang saling memagut. Lalu lalang kendaraan yang ada di jalan mereka lupakan karena terlalu sibuk bertukar des ahan dan helaan napas.
"Kak!" pekik Irene kaget.
Irene melepaskan ciuman mereka. Ia mendorong tubuh Alan menjauh sampai lelaki itu dashboard mobil. Keduanya sama-sama kaget.
Irene menyilangkan tangan dan memalingkan wajah ke arah kaca jendela. Entah disengaja atau tidak, ia merasa Alan menyentuh dadanya. Bukan hanya sekedar sentuhan, tapi mengarah pada rema san.
Alan menarik diri kembali pada posisi duduk yang semestinya. Ia tahu perbuatannya hampir melewati batas wajar. Suasana kembali menjadi canggung.
"Kita pulang ke rumah saja, kita makan makanan yang sudah aku beli di rumah," ucap Alan.
"Iya, Kak," jawab Irene sembari melihat ke arah jendela.
__ADS_1
Alan menjalankan kembali mobilnya. Ia belokkan ke arah rumah. Ia tak jadi membawa Irene ke apartemennya. Ia rasa tidak akan bisa mengendalikan diri jika sampai mereka hanya berduaan di apartemen.