
Alfa menikmati sarapannya sembari membuka koleksi foto di galeri tablet miliknya. Ia memperhatikan foto gaun yang dikenakan Irene saat lamaran. Ia sengaja memotretnya dari berbagai sisi serta detail-detail jahitan yang ada di gaun tersebut. Ia yakin pernah melihat desain serupa di suatu tempat sebelumnya.
Dari cara pemotongan pola bahan hingga bahan tambahan sebagai pemanis yang condong pada bentuk asimetris itu sangat mirip dengan salah satu perancang busana di Eropa.
"Tidak mungkin kan kalau Irene adalah Lily," gumamnya. "Atau Irene pernah bekerja di butik Lily?"
Alfa masih sangat penasaran. Rasanya ia tak akan puas sebelum Irene mengatakan dari mana inspirasi gaun itu berasal.
"Kamu sarapan sendirian, Alfa?" sapa Kakek Abraham.
"Oh, Kakek dan Nenek sudah sampai, ya? Ayo, mari sarapan denganku," ajak Alfa.
Kakek dan nenek Irene sebelumnya pamit pulang ke desa selama beberapa hari. Mereka kembali lagi ke rumah itu karena masih membantu Irene mempersiapkan pernikahan. Sampai Irene resmi menikah, mereka baru berniat akan pergi meninggalkan Irene.
"Dimana Irene?" tanya Nenek seraya duduk di ruang makan.
"Aku tidak tahu, sepertinya masih di kamarnya. Sejak tadi aku tidak melihatnya turun," jawab Alfa.
"Alan, Arvy, dan Ares dimana?" tanya kakek.
"Mereka sudah berangkat pagi. Kak Alan ada rapat, Arvy ada jadwal manggung di luar kota, dan Ares ada kuliah pagi."
"Irene tidak kuliah?"
"Mungkin dia tidak ada jadwal kuliah pagi. Dia kan anak yang rajin, kalau ada jadwal kuliah pasti berangkat, Kek."
Mereka menikmati sarapan bersama sembari berbincang-bincang membahas banyak hal.
"Oh, iya. Boleh aku bertanya tentang Irene?" tanya Alfa.
"Boleh, tanyakan saja," kata kakek.
"Apa Irene pernah kursus menjahit atau bekerja di butik?"
Kakek dan nenek saling bertukar pandang. Nenek menggeleng memberitahukan bahwa ia tak tahu tentang hal itu.
__ADS_1
"Setahuku Irene tidak pernah menjahit. Memangnya anak sepertinya cocok punya hobi menjahit?" ujar Kakek. Ia hanya tahu kalau cucunya hanya hobi balapan liar dan berkelahi. Namun, tidak mungkin juga ia menjelek-jelekkan cucunya sendiri. Irene yang sekarang sudah jauh lebih baik dari pada sebelumnya.
"Memangnya kenapa kamu bertanya begitu?" sambung nenek.
Alfa tersenyum canggung. "Ah, tidak apa-apa. Kalau dia bisa merancang gaun, aku bisa mengajaknya untuk membantu di butik," katanya.
"Kalau menurutku, Irene hanya akan membuat kekacauan di butikmu. Lebih baik jangan memintanya melakukan hal semacam itu. Dia tidak akan bisa," ucap kakek.
Alfa merasa semakin canggung. Ternyata kakek dan nenek Irene tidak sepenuhnya tahu tentang bakat yang cucunya miliki.
"Ah, begitu, ya ...." Alfa mengiyakan saja ucapan kakek. "Kalau begitu, aku pamit dulu ke butik. Kakek dan nenek bisa gedor pintu kamar Irene supaya cepat bangun. Dia memang kadang susah dibangunkan," ujar Alfa seraya pamit pergi ke kantornya.
Tak berselang lama, Irene keluar dari dalam.lift bersama Alan. Mereka terkejut melihat kakek dan nenek telah datang tanpa mereka tahu.
"Kakek ... Nenek ...." Irene berlari menghampiri kakek dan neneknya yang masih menikmati sarapan. Ia memberikan pelukan dan ciuman menyambut kedatangan mereka.
"Loh, ternyata Alan masih di rumah? Tadi Alfa bilang kamu sudah berangkat ke kantor," ujar kakek heran.
Irene dan Alan saling berpandangan. Untuk sesaat, mereka jadi kikuk. Sejak tadi Alan berada di kamar Irene. Seperti biasa, lelaki itu mendatangi kamar Irene untuk mendapatkan pelukan dan ciuman. Ia baru mau keluar setelah Irene mengatakan bahwa ia bisa telat ke kampus.
"Mungkin Alfa salah lihat. Aku baru turun dari lantai atas," kilah Alan.
"Em, Nek ... Maaf ya, Irene sudah mau telat ke kampus. Irene sarapan di kampus saja, ya!" Irene berusaha menolak permintaan nenek dengan lembut.
"Kamu ada kuliah pagi?" tanya nenek.
"Iya, Nek." Irene tersenyum kikuk.
"Kenapa tidak bangun lebih awal? Dasar anak nakal!" nenek menjewer telinga Irene.
"Aduh, Nek! Sakit ... Irene harus pergi sekarang. Nanti tambah telat!" kata Irene agar ia tidak lebih lama dimarahi.
"Oh, iya. Tadi Alfa tanya apa kamu pernah ambil kursus menjahit atau bekerja dibutik. Memangnya kamu mau menjahit gaun pernikahanmu sendiri?" tanya kakek.
Irene tertegun sejenak. Ia penasaran kenapa Alfa menanyakan hal tersebut kepada kakek dan neneknya. Ia merasa Alfa sudah mengetahui sesuatu tentang dirinya.
__ADS_1
"Ah! Kakek dan Nenek ada-ada saja. Mana bisa aku menjahit. Gaun pengantin nanti juga Kak Alfa yang akan membuatkan," ujarnya.
"Kakek juga tidak bilang apa-apa," ucap Kakek.
"Kalau begitu, aku berangkat sekarang ya, Kek!" kata Irene.
"Ya sudah, sana cepat berangkat!" perintah nenek.
"Saya juga mau pamit ke kantor sekalian mengantar Irene," sahut Alan.
Keduanya berpamitan kepada kakek dan nenek. Mereka menaiki mobil Alan dan langsung menuju ke arah kampus lebih dulu.
"Ini semua gara-gara Kakak!" protes Irene.
Alan hanya senyum-senyum. "Kamu tenang saja, aku bakalan ngebut dan kamu tidak akan telat."
Irene menghela napas. Kelakuan Alan masih saja membuatnya canggung. Entah karena lelaki itu lebih dewasa darinya, berciuman setiap hari masih membuatnya malu. Tapi, Alan sangat suka melakukannya.
Ia jadi khawatir jika suatu saat lupa mengunci pintu kamar, Alan bisa seenaknya masuk dan mengetahui sosok asli dirinya. Untung saja Alan tidak melakukannya.
Irene sejenak teringat tentang percakapan dengan kakek neneknya tentang apa yang Alfa tanyakan. Saat ini ia belum memiliki rencana untuk mendalami hobinya di bidang desain pakaian. Namun, ia telah berjanji kepada seseorang untuk kembali ke dunia itu suatu saat nanti. Ia tak pernah bercerita pada kakek dan nenek tentang kegiatannya dulu selama di Eropa, salah satunya bekerja di butik.
"Aku turun dulu ya, Kak. Terima kasih sudah mengantar," ucap Irene ketika mereka telah tiba di depan kampus.
Saat ia hendak membuka pintu, Alan dengan sengaja menguncinya. Irene berbalik badan dan menatap kesal ke arah Alan.
"Kak ...," rengeknya.
Alan tersenyum senang. "Aku ingin imbalan lain selain ucapan terima kasih," godanya.
Irene tahu apa yang lelaki itu maksudkan. Padahal, tadi pagi Alan juga sudah memaksa masuk ke kamarnya dan mengajaknya melakukan ciuman yang menggairahkan.
Ia sampai takut sendiri kalau ciuman mereka membuat selalu terbayang-bayang dan mengganggu aktivitasnya. Ia sulit berkonsentrasi saat melakukan sesuatu. Ia bahkan merasa seperti orang cabut yang bisa membayangkan momen romantis mereka tanpa mengenal tempat.
"Kita kan sudah bertunangan, kenapa sulit sekali untukmu mau mencium ...."
__ADS_1
Belum sempat Alan bicara, Irene memagut bibir lelaki itu secara tiba-tiba. Dengan gerakan yang cepat, ia membuka pintu mobil yang terkunci.
"Aku kuliah dulu, Kak!" serunya seraya keluar dari mobil saat Alan masih mematung. Lelaki itu pasti tak akan menyangka jika dia berani menciumnya.