
"Aku pulang ...," ucap Irene dengan nada lemas akibat kelelahan setelah pulang dari pelatihan. Akhirnya ia kembali ke rumah besar keluarga Narendra.
"Irene, kemari!" panggil sang kakek yang ada di ruang tengah. Kelihatannya kakek sedang bermain catur dengan Alan.
Meskipun rasanya sudah ingin masuk kamar untuk beristirahat dan menghapus make up-nya, terpaksa ia mengurungkan niat dan menghampiri kedua lelaki beda generasi itu. "Ada apa, Kek?" tanyanya.
"Sini, temani kakek main catur."
"Tapi, aku tidak tidak bisa main catur." Irene duduk di samping Alan.
"Tidak apa-apa. Alan yang akan membantumu main melawan kakek supaya bisa. Sudah lama juga kan, kita tidak menghabiskan waktu bersama?"
Irene melirik ke arah Irene. Alan terlihat membuang muka dan tidak peduli dengan perkataan kakeknya. Ia heran dengan lelaki itu, padahal ia baru pulang sudah disambut dengan wajah merengut seperti itu.
Merasa tidak enak menolak permintaan sang kakek, Irene tetap memainkan bidak-bidak catur yang sebelumnya telah dimainkan oleh Alan. Ia menggerakkan sebatas yang ia tahu. Alan hanya diam saja, sama sekali tidak membantunya.
Sikap cuek Alan membuatnya sangat penasaran. Ia merasa tidak pernah berbuat salah tetapi lelaki itu menunjukkan sikap benci kepadanya. Padahal sebelumnya hubungan mereka telah membaik apalagi Alan sudah lepas dari Sovia.
"Skakmat! Hahaha ...." Kakek tertawa bahagia setelah berhasil mengalahkan Irene sebanyak tiga ronde. "Tenyata kamu payah juga, Irene. Hahaha ...."
Irene mengacak-acak rambutnya sendiri. Meskipun hanya permainan, mendapat kekalahan tiga kali berturut-turut membuatnya frustasi. Ia termasuk orang yang kompetitif dan ingin menjadi yang terbaik. Sementara Alan masib menunjukkan raut jutek padanya.
"Kakek dengar kamu mau ikut kompetisi lomba mahasiswa atau semacamnya?" tanya kakek memastikan.
"Iya, Kakek. Aku juga baru pulang dari pelatihan. Beberapa hari lagi harus berangkat ke Ibu Kota untuk mengikuti final kompetisi nasional."
"Hm, bagus sekali. Kalau begitu, biar nanti Alan yang akan mengantarmu pergi ke sana."
Irene tercengang dengan perkataan sang kakek. Seharusnya kakek juga peka bagaimana sikap Alan saat ini kepadanya. "Itu tidak perlu, Kakek. Kak Alan pasti sangat sibuk bekerja. Lagipula gara-gara Kakek, Kak Alan jadi tidak bisa lagi fokus mengurusi restorannya."
"Dia masih punya banyak anak buah untuk meng-handle pekerjaannya di restoran. Berbeda dengan kakek yang hanya memiliki dia untuk mengurus perusahaan."
"Cucu Kakek ada banyak. Anak Kakek yang masih hidup juga masih ada. Kenapa semua hal harus aku yang melakukan?" sahut Alan kesal. Ia yang semula tak mau bicara akhirnya buka suara meskipun untuk mengkritik kakeknya.
"Mungkin itu kesialanmu terlahir sebagai anak pertama. Nikmati saja takdirmu. Hahaha ...." Kakek malah meledek Alan yang membuat cucunya terlihat kesal.
__ADS_1
"Kalau Kak Alan keberatan mengantarku, aku bisa pergi sendiri, Kakek." Irene berusaha mencairkan suasana.
"Oh, tidak bisa! Kamu calon menantu kesayangan kakek, jadi harus ada yang menjagamu. Kamu mau kan, Alan?"
"Kakek ...."
"Ya, aku mau. Aku yang akan mengantar Irene."
Irene membulatkan mata. Ia tidak menyangka Alan akan mengiyakan kemauan kakeknya.
"Kamu tidak mau naik ke atas, Irene? Mungkin kamu butuh beristirahat."
Irene tersenyum kaku. "Ah, iya. Aku mau ke kamar dulu, Kek," ucapnya.
Irene mengambil kembali tas yang sebelumnya ia letakkan di sofa. Sebelum beranjak ke lantai atas, Irene sempat melirik ke arah Alan. Lelaki itu tetap saja bersikap dingin padanya. Ingin rasanya ia memaki-maki dan menanyakan apa kesalahannya. Ia sudah berjuang dengan baik, melewati berbagai permasalahan selama pelatihan, bahkan Alan juga tahu apa yang dihadapinya. Bukannya memberi semangat malah mengabaikannya seperti itu.
Irene sedang malas berjalan menaiki tangga. Ia memilih naik lift menuju lantai atas. Selama di dalam lift ia terus merenungkan perubahan sikap Alan kepadanya. Ia benar-benar dibuat kesal.
Sampai di dalam kamar, ia merasa tidak bersemangat. Entah mengapa ia mengharapkan sikap hangat Alan kepadanya.
Setelah berkonsultasi dengan dokter kulitnya, Irene diberikan tabir surya yang menyerupai warna kulit sesuai keinginannya. Selain melindungi kulitnya dari sinar matahari juga bisa menyembunyikan identitas aslinya. Ia bisa melepas penyamaran setiap pukul sepuluh malam saat teman-temannya sudah tertidur dan bangun lebih awal untuk memakai kembali penyamarannya. Ia akan menggunakan cara yang sama dalam kompetisi nanti.
***
Kompetisi nasional dilaksanakan di Kota Jakarta. Pergi ke sana sama artinya dengan pulang kampung bagi Irene. Tak terasa ia telah meninggalkan kota itu selama berbulan-bulan. Kali ini, ia datang kembali dengan identitas yang berbeda bersama Alan. Seperti yang ia duga, lelaki itu terus memperhatikan sikap dinginnya kepada Irene.
"Kalau tidak mau mengantar seharusnya bilang terus terang," gerutu Irene.
Alan membawanya tinggal di apartemen miliknya. Di sana, mereka akan sementara tinggal selama Irene menjalani kompetisi.
"Kak, aku mau keluar ya, mau jalan-jalan sebentar," pamit Irene.
"Ya, terserah padamu asal tidak tersesat saja di sini dan menyusahkan aku." Alan membaca majalah sembari terus bersikap cuek.
Irene benar-benar ingin berkelahi dengan Alan. Kalau sedang memasang mode sikap dingin seperti itu sungguh sangat menyebalkan. Keinginannya untuk keluar dari apartemen itu semakin besar. Lebih baik ia menghilangkan stres di luar dari pada bertahan di sana denngan lelaki dingin itu.
__ADS_1
Sebenarnya salah satu tujuan Irene ingin keluar untuk menemui Ron, anak buah kakeknya. Ia ingin tahu kondisinya dan juga kondisi kakeknya.
Irene menghapus penyamarannya. Ia berdandan menjadi Irene yang biasa saat ia berada di Kota Jakarta. Irene yang selalu tampil keren dan cool dengan setelan jeans dan jaket kulitnya yang serba hitam.
Irene mendatangi apartemen milik Ron. Ia berharap lelaki itu masih ada di sana dan belum pindah.
"Nona Irene!" Ron langsung terdiam saat membuka pintu apartemen dan melihat Irene ada di sana. Secepat kilat ia menarik tangan Irene agar segera masuk ke dalam apartemennya. Jika Hamish mengetahuinya, ia bisa digantung karena membantu menyembunyikan Irene.
"Kenapa, Ron?" tanya Irene keheranan.
"Saya kan sudah bilang, jangan muncul sembarangan, Nona. Tuan Hamish masih ada di tanah air dan mencari Anda. Kenapa malah pulang? Nona benar-benar mau membuat saya mati!" Ron memukul dahinya sendiri.
"Tidak apa-apa, kalau harus bertemu dengan Kak Hamish juga tidak masalah. Aku ingin bertemu kakek."
"Tuan Besar tidak ada di mansion, Nona."
"Loh, katanya Kakek dikurung Kak Hamish di mansion?"
"Tuan Besar sudah kembali ke desa menjumpai Nenek Anda."
Irene hanya mangguk-mangguk mendengarkan cerita dari Ron. "Tapi, kenapa Kakek belum menghubungiku sampai sekarang, ya?" tanya Irene heran.
"Tuan Hamish masih menempatkan anak buahnya di sekitar Tuan Besar. Lagi pula, di desa juga sangat sulit sinyal, Nona."
"Oh, iya. Kakekku pulang ke sana sepertinya memang mau semedi," gumam Irene.
"Ngomong-ngomong ... penyanyi yang masih viral di internet itu sebenarnya Nona Irene, ya?"
"Hah, apa?" Irene terkejut Ron tiba-tiba membahas hal itu.
"Nona sebenarnya Hyena, kan? Saya pernah mendengar Nona menyanyikan lagu berjudul Potongan Kertas itu."
"Hahaha ...." Irene tak bisa menahan tawanya. Ia tidak menyangka Ron bisa mengenali dirinya. "Kamu jeli sekali, Ron. Apa suaraku sangat buruk? Aku sebenarnya hanya iseng saja mengunggahnya ke internet."
"Banyak yang menyukainya, Nona. Anda pasti akan jadi penyanyi dan artis terkenal kalau mereka tahu siapa Hyena sebenarnya. Suara Anda bagus dan Anda juga cantik."
__ADS_1
"Bagaimana kalau kamu meminta tanda tanganku dulu sebelum aku terlanjur terkenal?" Irene kembali tertawa. Memikirkan ia bisa terkenal hanya dengan lagu yang iseng ia upload dengan nama akun Hyena, rasanya sungguh menggelikan. Padahal, ada banyak orang yang perlu melakukan audisi atau mengikuti pelatihan pada manajemen artis.