
"Ini kamarmu."
Hamish mengantarkan Irene ke sebuah kamar yang telah dipesannya. Kamar itu terletak di sebelah kamarnya.
"Terima kasih, Kak," ucap Irene. Kamar yang Hamish pesankan untuknya sangat bagus.
"Beristirahatlah! Kalau ada apa-apa, datang saja ke kamarku." Hamish mencium pipi Irene sebelum ia pergi meninggalkan ruangan itu.
Irene menutup pintu kamarnya. Hal pertama yang ia tuju adalah tempat tidur. Wanita itu merebahkan dirinya di sana.
Ia mengambil ponselnya, tampak ada dua panggilan masuk dari nomor yang tidak dikenalnya. "Siapa ini?" gumamnya.
Irene kembali meletakkan ponselnya.
tok tok tok
Terdengar seseorang tengah mengetuk pintu kamarnya. "Siapa sih? Ganggu orang mau bersantai saja!" gerutu Irene.
Terpaksa ia bangkit dari ranjang dan berjalan ke arah pintu.
"Permisi, saya ingin mengantarkan makan malam," kata salah seorang pelayan yang baru saja mengetuk pintu Irene.
Tatapan Irene bukan fokus ke sana, melainkan pada sosok lelaki yang kamarnya persis ada di depan kamarnya. Sangat kebetulan Alan menginap di hotel yang sama dengannya bahkan letaknya sangat berdekatan. Kedua mata mereka saling bertemu dan bertatapan.
"Maaf, Nona. Bolehkah saya masuk untuk meletakkan prsanan Anda?" tegur sang pelayan.
"Ah! Iya. Silakan masuk," kata Irene.
Ia tersenyum ke arah Alan. Lelaki itu melakukan hal yang sama.
"Bapak menginap di sini?" tanya Irene canggung.
"Iya, kebetulan kita bertemu lagi," jawab Alan.
__ADS_1
"Nona, saya sudah selesai meletakkan makanannya di atas meja," kata sang pelayan dengan sopannya.
"Terima kasih," ucap Irene. Tatapannya kembali pada Alan yang masih berdiri di depan pintu kamar sama seperti dirinya. "Pak, saya masuk dulu, ya! Mau makan malam," pamit Irene.
"Oh, iya, Alenta, silakan," kata Alan mempersilakan.
Irene menutup kembali pintu kamarnya. Ia berdiri di balik pintu sembari memegangi dadanya yang berdebar-debar.
"Kenapa aku jadi gugup begini? Ini gila sih!" gumamnya memikirkan ia berada di kamar yang dekat dengan Alan dan Hamish.
Drrtt ... Drrtt ....
Ponselnya kembali bergetar. Irene menyambarnya dari atas ranjang. Nomor asing yang sebelumnya muncul di panggilan tak terjawab, kini menghubunginya kembali.
"Halo?" sapanya.
"Nona, ini Jay."
"Oh, Jay ...." ternyata orang itu adalah anak buahnya sendiri.
Irene tampak berpikir sejenak. "Baiklah, temui aku di klab XXX jam 9, setelah aku selesai makan malam."
"Baiklah."
***
Mengenakan pakaian berwarna hitam, Irene pergi ke sebuah bar. Suasana yang ramai membuatnya kesulitan untuk menemukan orang yang dicarinya. Irene mengirimkan pesan pada Jay agar menemuinya di area meja bar. Ia memesan segelas minuman sembari menantikan orang yang ditunggunya datang.
"Nona, lama tidak bertemu," sapa Jay. Lelaki itu duduk di meja samping Irene.
"Apa kabar, Jay?" tanya Irene sembari meneguk minuman yang dipesannya.
"Kurang baik, Nona. Soalnya saya selalu merindukan Nona," ucap Jay dengan nada bercandanya.
__ADS_1
Irene tertawa kecil mendengarnya. "Jay, kamu mau minum apa?"
"Yang paling mahal boleh, Nona?"
Jawaban Jay selalu tak terduga. "Oh, baiklah ...." Irene memanggil salah satu pegawai bar dan memintanya membuatkan minuman termahal di sana.
"Sejak Nona pergi dari sini, suasana jadi tidak menyenangkan. Tidak ada orang yang mengajak saya berkeliling jalanan kota sembari adu mental dari kejaran polisi."
Irene tersenyum. Ia teringat kembali masa-masanya yang sangat bodoh sebagai anak nakal di luar negeri.
"Oh, iya. Apa Nona serius mau balapan lagi?" tanya Jay memastikan.
"Ya, tentu saja! Aku di sini memang untuk itu." Irene tak menampik.
"Oh, iya. Nona pasti kenal dengan penyanyi yang sedang terkena kasus itu, kan?" tanya Jay.
"Maksudmu ... Jonathan?" Irene terlihat ragu jika Jay menanyakan tentang dia.
"Ya, Jonathan. Di sedang digandrungi remaja-remaja di negara ini gara-gara pagu viralnya yang versi Bahasa Inggris beredar. Termasuk adikku, dia sangat menyukaknya."
Irene tidak menyangka jika masalah yang sedang menimpa Jonathan sampai tersengar ke luar sana.
"Aku memintamu datang untuk mengecek perlengkapan balapku, juga performanya. Jangan sampai aku dipermalukan," kata Irene.
"Oh, Nona tenang saja. Selama Nona tidak ada, saya memelihara mobil Anda seperti anak sendiri."
"Bagaimana kalau setelah ini kita melihatnya ke sana?" ajak Irene.
"Baiklah!"
***
Jay membukakan pintu gudang yang terlihat cukup lusuh. Saat pintu itu terangkat sempurna, terpampanglah tiga buah mobil balap yang tampak mengkilap. Irene rasanya terharu seperti baru saja bertemu anaknya. Ia mendekati salah satu mobil yang berwarna kuning dan memeluk kapnya.
__ADS_1
"Ah, terima kasih, Jay ... Anakku kamu buat kinclong begini," puji Irene.
Irene memasuki mobilnya, merasakan nyamannya duduk di dalamnya. Ketika ia memegang kemudi, suasana balapan yang hampir terlupakan kembali berputar salam memorinya.