
"Apa kalian sudah lama menunggu?" sapa Alan dari jarak lima meter di depan mereka. Kedatangan Alan sontak membuat percakapan Amina dan Alenta terhenti.
Alenta membulatkan mata saat sorot matanya menangkap sosok Arvy dan Ares berada di belakang Alan. Cepat-cepat ia menyembunyikan wajahnya takut ketahuan penyamarannya. Ia sama sekali tidak menyangka Alan akan membawa serta kedua adiknya ke sana.
"Maaf sudah membuat kalian menunggu," ucap Alan sekali lagi.
"Tidak apa-apa, kami juga baru sampai," jawab Amina yang terlihat bahagia dengan kehadiran Alan di sana.
"Aku mengajak kedua adikku ke sini, ada Arvy dan Ares." Alan memperkenalkan kedua adiknya.
"Hi, I'm Amina." Amina berusaha menggunakan Bahasa Inggris sebisanya. Ia yakin tidak semua orang paham dengan bahasanya.
"Nice to meet you, Amina. I'm Arvy."
"I think I've seen you somewhere. Ah, I guess your photo … could you be a celebrity?" tanya Amina. Ia yakin pernah beberapa kali melihat foto Arvy terpajang di papan reklame.
"You're right! He is a famous model," sahut Ares.
Arvy langsung membungkam mulut lemes adiknya.
"I'm Ares by the way!"
"Alenta, kok kamu diam saja?" tegur Alan. Penerjemahnya kelihatan tidak berkeinginan untuk ikut berkenalan dengan kedua adiknya.
"Dia asisten barumu ya, Kak?" tanya Ares penasaran sembari mencuri pandang ke arah Alenta.
Terpaksa Alenta bangkit dari duduknya dan bersalaman dengan Arvy dan Ares.
"Halo, perkenalkan, nama saya Alenta, penerjemahnya Pak Alan," ucanya sembari menyalami Arvy.
Arvy menjabat tangan Alenta. Ia merasa pernah bertemu dengan wanita itu namun tidak tahu di mana.
Begitu pula dengan Ares, ia begitu familiar dengan Alenta. Sampai ia tidak mau melepaskan jabatan tangan Alenta. "Kita pernah bertemu sebelumnya, kan?" ucap Ares.
Alenta kaget Ares masih mengenalinya. "Maaf, tapi sepertinya aku belum pernah bertemu denganmu," kilahnya.
__ADS_1
"Jangan bohong! Aku yakin wanita yang pernah menolongku waktu itu adalah kamu. Di wilayah XXX."
Alenta bahkan hampir lupa tentang kejadian itu. Kebetulan saja ia memergoki Ares yang sedang dalam kesulitan, sementara ia masih menggunakan dandanan dirinya sendiri setelah menemui Ron waktu itu.
"Dimana itu?" Alenta masih pura-pura tidak tahu.
Ares yakin ia tidak mungkin salah orang. Ia sangat mengingat wanita yang telah menolongnya karena wajahnya yang cantik dan gerakan serangannya juga penuh tenaga. "Aku juga pernah melihatmu di tempat balap liar, kamu seorang pembalap, kan?" Ares masih mencecar Alenta dengan pertanyaan-pertanyaannya.
"Apa yang kamu lakukan, Ares? Lepaskan tangan Alenta!" pinta Alan. Ia merasa Alenta tidak nyaman dengan tindakan adiknya.
Terpaksa Ares melepaskan tangan wanita bernama Alenta itu. Ia yakin tidak mungkin salah mengenali orang. Ia tidak menyangka jika Alenta merupakan kenalan kakaknya.
***
"Hah ... Ini enak sekali, Alenta," ucap Amina. Ia menikmati berendam di dalam kolam air hangat bersama Alenta. Cuaca yang dingin, berendam di dalam air hangat merupakan suatu perpaduan yang pas.
Ia menoleh ke arah samping, memandangi dinding kayu yang menjadi pembatas antara tempat berendam pria dan wanita. Di balik pagar itu ada Alan, Ares, dan Arvy yang sedang berendam bersama. Sayup-sayup suara tawa mereka bisa terdengar sampai ke telinga Amina.
Sementara, Alenta hanya bisa menghela napaa sembari sesekali membenamkan tubuhnya ke dalam air. Ikut Alan dan Amina ke sana benar-benar memberikannya beban mental. Apalagi ada Ares yang telah mengenalinya. Dia tahu seperti apa Ares, tidak akan mudah menyerah untuk mengetahui sesuatu. Kalau sampai identitasnya terbongkar, berakhir sudah penyamarannya.
"Apa?"
"Aku ... Sebenarnya menyukai Alan, kamu tahu?" kata Amina dengan raut bahagia.
Alenta heran sendiri kenapa Amina begitu gampang mengakui perasaannya kepada Alan. Ia paling tidak percaya dengan pepatah cinta pada pandangan pertama.
"Begitukah? Mungkin Pak Alan memang tipe lelaki yang mudah untuk dicintai oleh siapapun," ucapnya. 'Termasuk dicintai kalangan hantu mungkin!' lanjutnya dalam hati.
"Apa kamu bisa membantuku untuk memberikan info pribadi tentang dirinya? Aku ingin menjadi orang yang bisa dekat dengannya," rayu Amina.
"Maaf, Nona Amina. Kewenangan saya hanya sebatas penerjemah Pak Alan, tidak lebih. Saya tidak berani mencampuri urusan pribadi Beliau."
"Ayolah, Alenta ... Aku bisa memberimu banyak uang jika misi ini berjalan."
"Maaf, Nona. Sekali lagi saya katakan, saya tidak bisa. Sepertinya kita sudah cukup lama di dalam. Bagaimana kalau kita keluar? Saya yang akan pergi duluan."
__ADS_1
Alenta memilih pergi dari tempat itu untuk menghindar. Ia yakin Amina akan terus bertanya jika dia bertahan di sana.
Alenta menuju ke ruang rias, menyisir rambut serta memakai baju model kimono yang menjadi pakaian wajib di area penginapan. Usai merapikan diri seperlunya, ia menuju ke area taman yang sepi.
Alenta duduk di atas ayunan sembari menatap sendu ke arah langit memperhatikan bintang-bintang. Rasanya tidak kuat harus mendampingi wanita yang memaksanya untuk mendekatkan wanita tersebut dengan Alan. Ia sendiri masih belum yakin pada hatinya. Ada satu sisi yang membuatnya tidak suka setiap kali Alan didekati wanita lain.
"Kamu ini kenapa, Irene ... Atau Alenta ... Bukankah kamu merasa masih muda dan masih ingin bebas? Kamu tidak suka dengan perjodohan itu, kan? Biarkan saja Alan atau siapapun dekat dengan orang lain ...," gumamnya.
Ingin rasanya ia cepat pulang. Liburan kali ini sama sekali tidak menyenangkan. Apalagi ada Arvy dan Ares yang ikut serta.
Saat sedang asyik dengan pikirannya sendiri, ia merasa sesuatu yang lunak menyentuh kakinya. Rasanya dingin dan bisa bergerak semakin menjalar menelusuri kakinya. Penasaran dengan apa yang ada di bawah sana, ia melirik ke arah kakinya. Seekor ular tampak sedang menjalar di kaki.
"Hua ... Ular ...." teriak Alenta panik. Ia langsung berlari setelah mengibaskan ular dari kakinya.
Saat berlari, tubuhnya menabrak seseorang. Ada Alan tepat dihadapannya. Dengan perasaan masih ketakutan, reflek ia langsung memeluk dan meminta Alan menggendongnya. Ia tak berani melihat ke arah belakang. Jantungnya seakan mau copot saat mengingat sentuhan ular di kakinya.
Alan hanya bisa mematung, membiarkan Alenta sesuka hati bergelantung di dalam gendongannya. Ia bahkan tidak tahu apa yang baru saja wanita itu lakukan sampai ketakutan seperti itu.
"Kamu kenapa?" tanya Alan.
"Itu ... Ada ular di dekat ayunan," jawab Alenta yang masih membenamkan wajahnya di ceruk leher Alan.
Alan melihat ke arah ayunan yang tak jauh darinya. Seekor ular kobra sedang berdiri di sana siap mematuk mangsa. Ia memilih membawa Alenta pergi agar tidak terjadi sesuatu yang buruk.
Hingga beberapa saat, Alenta masih belum mau turun dari gendongan Alan. "Mau sampai kapan kamu begini?" tanya Alan.
Alenta mulai melonggarkan pelukannya. Ia pandangi wajah Alan yang tepat berada di hadapannya. Saat kedua mata mereka beradu tatap, bunga-bunga seakan bermekaran memenuhi hatinya.
Sembari menghela napas, Alan menurunkan Alenta. Ia membuang wajah karena malu dipandangi oleh Alenta.
"Kenapa kamu di luar sendirian? Bukankah seharusnya kamu menemani Amina?"
Mendengar nama Amina, mood yang sudah terbangun dengan baik jadi rusak kembali. Ia sedang tidak ingin dekat dengan Amina. "Saya hanya bosan di dalam, mau mencari udara segar sebentar di luar."
"Mau cari udara segar malah ketemu ular, kan? Bahaya keluar sendirian. Lebih baik kamu kembali ke dalam. Sebentar lagi kita akan makan malam. Kamu beritahu juga Amina untuk bersiap-siap."
__ADS_1