Wanita Milik 5 Tuan Muda

Wanita Milik 5 Tuan Muda
Bab 231: Mencoba Memperbaiki


__ADS_3

"Res, kamu ngapain, sih? Kamu gila apa?"


Irene berusaha memberontak saat Ares membawanya ke depan pintu kamar Alan.


"Kalau punya masalah itu diselesaikan, bukan lari," ujar Ares.


"Memang siapa yang lari? Kak Alan sendiri yang tidak mau bicara denganku!"


"Ya, kalau dia yang tidak mau bicara, kamu yang harus paksa dia untuk mendengarkan!"


Ares tak mempedulikan keinginan Irene. Tahu jika kakaknya sudah pulang dari pelayan, ia berinisiatif agar Irene bisa berbicara langsung dengan kakaknya.


Tok tok tok


"Kak, buka pintu, aku mau bicara!" seru Ares.


Tak berselang lama, Alan membukakan pintu dan memperlihatkan wajahnya dari balik pintu. "Ada apa?" tanyanya.


"Biarkan aku masuk dulu!" Alan menerobos masuk mendorong pintu kamar Alan lebih lebar.


Ia membawa serta Irene masuk ke dalam. Sontak Alan terkejut melihat Irene ada di sana apalagi dengan penampilan wajah tanpa penyamaran.


"Irene katanya mau bicara dengan Kakak. Aku tinggal dulu, ya!" setelah berhasil membawa Irene masuk, Ares lantas kabur dan menutup kembali pintu kamar kakaknya.


Irene dan Alan saling berpandangan dengan kikuk.


"Keluarlah!" pinta Alan.


Irene tidak mau. Ia justru mendekat dan memeluk sosok lelaki yang ada di hadapannya. Perbuatan Irene membuat Alan membelalakkan mata.


"Kak, dengarkan aku dulu," kata Irene. "Kalau memang Kak Alan tidak suka dengan wajah asliku, aku bisa memakai riasan seperti biasanya. Aku juga berat untuk memutuskan jujur kepada Kakak," rengeknya.


"Irene, lepaskan aku!"

__ADS_1


"Tidak mau!"


Irene tak mau melepaskan pelukannya. Ia benar-benar sudah jatuh cinta kepada lelaki itu makanya dia berani jujur.


"Aku memang sudah berbohong dan menyembunyikan wajah asliku selama ini, Kak. Tapi perasaanku padamu itu sungguhan, aku cinta Kak Alan."


Alan terdiam. Ia belum bisa menerima pengakuan jujur yang Irene berikan.


Selama ini ia memang sudah agak curiga karena setiap kali melihat Alenta ia selalu teringat dengan Irene. Hantu cantik yang pernah ia temui, wanita asing di kamar yang Irene tempati, ternyata itu semua adalah orang yang sama.


Irene begitu pandai menyembunyikan diri sampai ia tak bisa menebaknya. Bahkan wanita itu sempat membuatnya bimbang akan perasaannya yang sebenarnya.


Alan pernah terpesona dengan Miss A sampai menganggap dirinya gila karena bisa kagum dengan hantu. Saat ia bertemu dengan Alenta, ia juga sudah merasa dekat dengan wanita itu. Tatapan matanya tak bisa menjauh dari sosok-sosok yang ternyata Irene ciptakan.


Tunangannya itu seperti memiliki banyak topeng. Ia yang awalnya sudah mantap ingin menikah kini tiba-tiba menjadi ragu. Ia tak yakin jika Irene telah sepenuhnya menampakkan identitas yang sebenarnya.


Selama satu tahun ia telah tertipu. Sulit untuk mempercayai Irene begitu saja.


"Tidak mau! Aku akan tetap di sini dan seperti ini!" sikap keras kepala Irene muncul. Ia tak mau mengalah.


Alan tak bisa apa-apa dengan Irene yang terus menempel padanya.


"Kak Alan kan hanya kaget melihat wajah asliku, tapi aku kan tetap aku. Mau bagaimanapun, Irenenya tetap sama. Maafin, ya ...," rayu Irene. Ia terus merajuk dengan nada bicara yang dibuat manja.


Alan ingin tertawa dengan ucapan Irene. Ia melepaskan paksa pelukan Irene darinya. Ditatapnya mata Irene dengan tatapan tajam. "Kamu pikir hubungan kita seperti sinetron? Pandai sekali kamu berakting sampai aku tak bisa mengenali seperti apa Irene yang sebenarnya." kesal Alan.


Sejak awal ia merasa ada yang tidak beres dengan Irene. Apalagi mengetahui kalau ternyata Irene merupakan anak angkat dari salah satu konglomerat dunia. Bibinya juga merupakan seorang artis ternama. Tidak mungkin jika Irene hanya seorang gadis desa biasa. Irene juga punya banyak keahlian di luar dugaannya.


Butuh waktu cukup lama bagi Alan untuk meyakinkah hati bahwa dirinya menyukai sosok Irene yang apa adanya. Ketika keyakinannya telah sempurna, ternyata Irene yang ia kenal bukanlah Irene. Dia Irene yang menyembunyikan identitas di balik wajah jelek dan kampungan itu.


"Aku mengaku salah, Kak. Makanya aku mau mengatakan yang sebenarnya karena aku sungguh-sungguh mencintai Kak Alan." Irene menunjukkan ekspresi wajah memelas agar Alan mau memaafkannya.


"Sekarang aku seperti kembali tidak mengenalimu, Irene. Kamu sudah terlalu banyak mempermainkan aku selama ini."

__ADS_1


"Aku tidak bermaksud mempermainkan Kakak!" kilah Irene.


"Lalu, apa tujuanmu mengaku sebagai Alenta?"


Irene menunduk.


Alan merasa Irene memang sejak awal ingin mengerjainya dan membuat ia malu karena bisa dengan mudahnya tertipu oleh wanita yang jauh lebih muda darinya.


"Awalnya aku memang iseng, Kak. Tapi, lama kelamaan, aku ingin jadi orang yang selalu dekat dengan Kakak dan bisa diandalkan."


Alan memijit keningnya sendiri. "Aku beluk bisa mempercayaimu, Irene. Lebih baik kita sendiri-sendiri saja dulu sambil merenungkan hubungan kita kembali," ucapnya.


"Kak," rengek Irene. Perkataan Alan barusan membuatnya merasakan firasat buruk. Lelaki itu seakan menginginkan untuk memikirkan hubungan mereka kembali.


"Aku benar-benar belum bisa memutuskannya, Ren, tolong hargai keputusanku kali ini."


Irene juga tidak bisa lebih jauh memaksa. Meski kecewa, ia harus menghargai keputusan Alan.


"Baiklah kalau itu kemauan Kak Alan," kata Irene.


Ia berjalan maju seraya mengalungkan kedua tangannya ke belakang leher Alan. Irene dengan berani mencium bibir Alan dengan pagutan yang panas.


Alan membelalakkan mata. Baru kali ini ia melihat Irene yang terlebih dahulu menciumnya dengan cara yang bar-bar.


"Bukankah ciuman ini rasanya masih sama, Kak? Aku ini Irene. Seperti apapun diriku, aku aku akan tetap berusaha membuat Kakak jatuh cinta padaku," ucap Irene seraya melepaskan rengkuhan tangannya.


"Mulai sekarang, aku akan menunjukkan sifat asliku yang sesungguhnya agar Kak Alan tidak bingung lagi kalau Irene adalah Irene."


Irene lantas berbalik pergi dari kamar Alan.


Alan memegangi dadanya. Jantungnya seakan mau copot mendapat ciuman mendadak yang tidak disangka-sangka dari seorang Irene.


Wanita itu memang selalu penuh dengan kejutan. Bahkan yang ia anggap polos dan malu-malu bisa bertindak agresif seperti itu kepadanya.

__ADS_1


__ADS_2