
"Bryan belum lama ini ikut denganku menjadi salah satu tim pengamanan sistem di perusahaan. Dia anak yang cerdas sama seperti dirimu," puji sang ayah angkat, Alberto Miguel.
"Tante Myria apa kabar di sana? Apa dia masih suka mabuk-mabukan?" Irene sengaja menanyakan hal lain karena tidak ingin mendengar ayah angkatnya terus membicarakan Bryan.
Pertanyaan Irene membuat Alberto mengerutkan dahi. "Kamu sudah tahu kalau dia tantemu?" tanyanya.
"Nenek pernah memberi tahuku."
"Myria akan kesal kalau sampai kamu memanggilnya dengan sebutan Tante."
"Hahaha ... Dia memang sudah semakin tua. Sudah pantas dipanggil Tante." Irene cukup kesal mengingat pengalamannya bersama Myria. Sewaktu tinggal di kediaman Miguel, Irene sering disuruh-suruh oleh Myria dengan alasan seorang adik harus menurut pada kakaknya. Ia tidak tahu kalau Myria adalah tantenya sendiri.
"Kamu belum punya pacar, kan?" tanya Alberto tiba-tiba.
Irene meraih tangan ayah angkatnya dan memeluknya. "Pacarku kan ayah angkat," selorohnya.
"Ah, itu sudah jelas ... Maksudku, apa kamu punya teman dekat saat ini?"
"Aku belum memikirkannya. Aku kan masih kecil," jawab Irene sembari memanja pada Alberto.
"Bagaimana pendapatmu tentang Bryan?" tanya Alberto.
__ADS_1
Irene memandangi Bryan. Lelaki itu tidak bisa dikatakan jelek karena Bryan sangat tampan. Apalagi mengenakan pakaian rapi dan tatanan rambut juga rapi, dia seperti bodyguard ganteng yang ada di film-film. Sepertinya Irene tahu arah pembicaraan ayah angkatnya. Alberto mencoba menjodohkannya dengan Bryan.
Sementara, Bryan yang sudah tahu akan dijodohkan dengan wanita bernama Irene itu hanya bisa berpura-pura bodoh. Setelah melihat langsung siapa wanita yang akan dikenalkan padanya, ia merasa sedikit kecewa kepada Tuan Alberto. Irene jauh dari ekspektasi wanita cantik yang dibayangkannya.
"Umurmu kan sudah memasuki usia pernikahan. Kalau kamu memang cocok dengan Bryan, aku akan menikahkan kalian."
Irene menelan ludah. Ayah angkatnya sama sekali tidak basa-basi mau menikahkan dengan lelaki pilihan. "Aku masih ingin fokus kuliah, Ayah Angkat. Aku belum terpikir ke sana," jawabnya.
Bryan ikut merasa lega mendengar jawaban Irene. Ia kira wanita itu akan langsung setuju.
Alberto kembali mengerutkan dahi. "Kamu kuliah lagi? Untuk apa? Bukankah kamu sudah mendapatkan dua gelar sarjana dulu?" tanyanya heran.
Bryan melebarkan mata. Ia tidak menyangka wanita yang tampak biasa-biasa saja dan masih muda itu ternyata sudah memiliki dua gelar sarjana. Sepertinya ia tidak bisa meremehkan wanita itu.
Alberto menahan tawanya. Ia sangat paham bahwa Irene tak memiliki hobi khusus. Anak itu sejak dulu suka melakukan banyak hal secara random. Anehnya, setiap yang Irene lakukan memang benar-benar bisa berjalan dengan baik.
"Kamu juga masih bisa melanjutkan hobimu setelah menikah. Menikah bukan halangan untuk terus mengembangkan diri," kata Alberto.
Irene menghela napas. Sulit bagi Irene memberikan alasan yang bisa ayah angkatnya terima. Intinya, ia belum yakin tentang pernikahan.
"Bryan, Irene ini anak kesayanganku. Sikapnya memang sangat manja, tapi dia juga bisa mandiri," kata Alberto.
__ADS_1
Bryan hanya menjawabnya dengan tersenyum.
"Bagaimana pendapatmu, Bryan, apa kamu juga tertarik dengan putriku ini?" tanya Alberto.
"Em, mungkin kami perlu waktu untuk saling mengenal dulu sebelum perjodohan," jawab Bryan dengan canggungnya.
"Ayah Angkat, sebenarnya aku sudah punya pacar!" celetuk Irene. Ia tidak ingin lagi dijodoh-jodohkan dengan orang. Kalau dia diam, Alberto akan tetap berusaha menjodohkan mereka.
"Tadi katanya belum?" Alberto terlihat bingung dengan ucapan Irene.
Irene meringis. "Aku bohong ... Takut Ayah Angkat marah kalau aku pacaran. Soalnya aku kan masih kuliah. Kalau Ayah Angkat mau, kapan-kapan aku akan mengajaknya untuk datang menemui Ayah Angkat," katanya.
Alberto tidak percaya begitu saja. "Baiklah, aku sangat menunggu kedatangannya. Aku ingin tahu lekaki seperti apa yang sedang menjalin hubungan dengan putriku," tantangnya.
Ketika mereka sedang berbincang-bincang, terdengar suara orang membuka gerbang. Seorang lelaki melongok dari balik pagar.
Alberto terkejut. "Siapa dia? Kenapa sampai ada orang lain datang ke sini? Bryan, ambilkan senjata!"
"Eh, jangan!" cegah Irene.
Bryan yang hendak masuk mengambil senapan mengurungkan niatnya.
__ADS_1
"Kenapa? Apa dia pacarmu?" tanya Alberto.
"Bukan ... Dia temanku. Aku yang menyuruhnya untuk membuntuti karena takut pesan yang Bryan kirim itu hanya pancingan," jawab Irene.