Wanita Milik 5 Tuan Muda

Wanita Milik 5 Tuan Muda
Bab 206


__ADS_3

"Sudahlah, mengaku saja. Kalau tidak mau mengaku, setidaknya mengundurkan diri dari kampus ini." Miranda terkesan seperti mengejek Irene yang mulai tersudut.


"Baiklah, kalau memang aku sedang hamil, buktikan! Aku akan terima jika dikeluarkan dari kampus ini!" tantang Irene.


"Bu Retno, bawa dia ke klinik kampus. Dokter pasti tahu kalau dia sempat hamil meskipun digugurkan," usul Miranda.


Irene mengepalkan tangannya. "Bu Retno, Anda harus adil," pintanya. "Kalau saya tidak terbukti hamil, Miranda yang harus dikeluarkan dari kampus ini. Gara-gara dia aku jadi dijauhi semua teman. Mereka mengira kalau aku bekerja sebagai pelacvr. Itu sangat menyakitkan, Bu!" keluhnya.


Bu Retno menatap Miranda. "Kamu dengar sendiri, kan? Tuduhanmu itu tidak main-main, Miranda. Kalau hal itu salah, kamu telah memcemarkan nama baik Irene."


"Itu tidak benar, Bu. Saya yakin Irene memang wanita seperti itu," kilah Miranda.


"Jadi, kamu mau menerima konsekuensinya jika tuduhanmu salah?" tanya Bu Retno meyakinkan.


"Iya, Bu! saya berani!" jawab Miranda dengan lantang.


Tok tok tok


Salah satu staf mengantarkan tamu ke ruangan Bu Retno. Alan yang mendapat informasi dari Ares tentang Irene bergegas menghampiri ke kampus dengan cemas.


"Ada perlu apa, Pak?" tanya Bu Retno.


"Saya ingin menemui calon istri saya. Katanya di kampus dia ada yang mengganggunya," kata Alan.


"Calon istri?" tanya Bu Retno kaget.


"Irene. Dia ada di dalam, kan?" tanya Alan.


Bu Retno tercengang. Ia hanya mempersilakan lelaki itu masuk ke dalam ruangannya.


"Kak Hamish kenapa kesini? Aku belum selesai kuliah," kata Irene.


"Tadi Ares telepon katanya kamu ada masalah di kampus. Kenapa tidak cerita padaku?" protes Alan.


Miranda berkeringat dingin. Ia kaget karena mantan pacar kakak sepupunya ternyata datang untuk Irene.

__ADS_1


"Ibu Dosen, calon istri saya salah apa? Kenapa dia ada di sini?" tanya Alan kepada Bu Retno.


"Begini, Pak. Ini Miranda, teman sekelas Irene. Dia bilang Irene kemungkinan sedang hamil atau baru saja menggugurkan kandungannya."


"Apa?" Alan terkekeh mendengarnya. "Pantas akhir-akhir ini Irene kelihatan murung. Saya rasa ada yang berusaha mengganggunya di kampus." Alan melemparkan tatapan tajam ke arah Miranda.


Miranda mendapatkan tatapan seperti itu merasa takut. Ia menundukkan kepalanya. Ia merasa sudah membuat masalah dengan orang yang salah.


"Niat kami juga ingin meluruskan masalah ini. Mereka sudah punya kesepakatan untuk membuktikan apakah Irene benar hamil atau tidak."


Punggung Miranda rasanya telah basah dengan keringat dingin. "Maaf, Pak. Saya hanya menyampaikan apa yang menurut saya ketahui," kilah Miranda.


Irene ingin tertawa. Sebelumnya Miranda masih terlihat percaya diri bahkan berani menantangnya. Saat Alan datang, nyali wanita itu menjadi ciut.


"Kenapa minta maaf segala? Kita selesaikan saja secepatnya supaya tahu siapa yang benar dan siapa yang salah!" desak Irene.


"Tidak usah diperpanjang juga tidak apa-apa, aku rasa itu tidak penting lagi, Irene," ujar Miranda.


"Oh, tidak bisa. Aku tetap akan membuktikan kalau tuduhanmu salah."


Keempat orang itu akhirnya pergi ke klinik kesehatan kampus dan berjumpa dengan Dokter Rita. Irene diminta masuk ke dalam ruangan untuk dilakukan pengecekan. Sementara yang lain menunggu di luar bilik pemeriksaan.


"Untuk setingkat mahasiswa saya rasa masalah semacam ini adalah ranah pribadi, Bu Dosen. Mahasiswa sudah punya KTP dan dianggap telah dewasa, mampu mempertanggungjawabkan perbuatannya. Mau hamil atau tidak, itu urusan pribadi mereka. Saya berbicara seperti ini bukan berarti mendukung jika Irene hamil di luar nikah. Saya juga yakin dia tidak mungkin seperti itu. Hanya saja, isu seperti ini sangat memalukan sampai harus tersebar padahal belum tentu kebenarannya," kritik Alan. Ia sangat kesal mengetahui ada hal yang mengusik wanitanya di kampus. Bahkan masalah itu sekedar masalah sepele dan tidak penting menurutnya.


"Masukan Anda akan saya sampaikan ke atasan dan akan menjadi masukan, Pak," kata Bu Retno.


Tak beberapa lama kemudian, Dokter Rita dan Irene keluar dari bilik pemeriksaan. Dokter Rita menyampaikan bahwa Irene tidak dalam kondisi hamil ataupun melahirkan.


"Ini siapa yang sudah menyebarkan berita konyol? Irene anak baik-baik kok bisa dituduh seperti itu. Irene ini jangankan hamil, pacaran saja kayaknya belum pernah, iya kan, Irene?" tanya Dokter Rita.


Wajah Irene memerah. Ia tidak berani menjawab pertanyaan itu.


"Tapi Irene sudah punya calon suami, Dokter," ledek Bu Retno.


"Oh, ini, ya, calon suami Irene?" Dokter Rita ikut-ikutan menggoda Alan. "Dijaga baik-baik calon istrinya, Irene anak yang baik dan sepertinya dia juga sangat polos," ujarnya.

__ADS_1


Irene langsung mengusap wajahnya. Ingin rasanya ia menghilang dari sana. Pemeriksaan yang barusan dilakukan sungguh sangat memalukan baginya. Ia tidak akan lupa dengan kekesalannya pada Miranda.


Saat mereka tengah bercanda, diam-diam Miranda keluar dari ruang klinik. Ia menghubungi kakak sepupunya agar datang dan membantunya.


"Kak Sovia ...." rengek Miranda.


"Ada apa?"


"Aku dapat masalah di kampus." Miranda berbicara dengan nada merajuk.


"Masalah apa lagi? Bisamu membuat masalah terus! Aku bosan mendengarnya. Hubungi saja ayahmu sendiri!"


"Tidak mau, Kak! Aku bisa digantung hidup-hidup kalau Ayah tahu. Please, bantulah kali ini," pinta Miranda memohon.


"Aku sibuk banget hari ini, masih ada sesi pemotretan lain. Kamu minta tolong yang lain saja!"


"Aku punya masalah dengan mantan Kakak, Pak Alan, kan?"


"Apa katamu? Bagaimana bisa kamu membuat masalah dengannya?"


"Makanya cepat datang ke sini, nanti akan aku jelaskan, Kak! Jangan bilang apa-apa pada ayahku, please!"


"Oke, aku usahakan secepatnya datang. Awas kalau kamu menyulitkanmu!"


Alan dan Bu Retno mengantar Irene kembali ke kelasnya. Di sana teman-teman Irene sudah tahu bagaimana hasil pemeriksaan yang telah dilakukan bahwa tuduhan mereka ternyata salah. Mereka meminta maaf kepada Irene secara langsung. Mereka juga mengakui bahwa asal mula isu itu dari ucapan Miranda kepada mereka.


"Jadikan ini pembelajaran. Kalian jangan pernah langsung termakan perkataan orang lain. Apa kalian mengerti?" kata Bu Retno.


"Mengerti, Bu." jawab mereka serempak.


"Ibu harap peristiwa seperti ini tidak akan terulang lagi. Kalau sampai ada yang membuat tuduhan palsu, merusak nama baik orang lain, kami dari pihak kampus tidak akan segan-segan mengeluarkan kalian dari kampus!"


Usai mengatakan pesan tersebut, Bu Retno keluar dari ruang perkuliahan dan mempersilakan dosen pengajar masuk.


"Aku akan menunggumu di luar," kata Alan seraya menepuk lembut kepala Irene. Ia lantas mengikuti Bu Retno keluar dari ruangan itu.

__ADS_1


__ADS_2