Wanita Milik 5 Tuan Muda

Wanita Milik 5 Tuan Muda
Bab 236: Ancaman Hamish


__ADS_3

"Irene sudah lama sekali tidak pulang ke sini. Apa kita yang harus menjenguknya di sana?" tanya nenek sembari meneruskan kerajinan sulam kristik yang sedang dilakukannya.


"Kita tunggu saja, dia bilang akhir pekan ini mau pulang. Irene pasti sangat sibuk," kata kakek sembari menghisap cerutunya di dekat jendela.


Mereka benar-benar menikmati kehidupan masa tua di desa berdua di mana suasananya sangat damai dan jauh dari hingar bingar kehidupan perkotaan. Apalagi semenjak kejadian buruk menimpa keluarga mereka, terutama nenek tak lagi suka tinggal di pusat kota. Ia sudah cukup bahagia menikmati hidupnya saat ini.


Tin!


Terdengar bunyi klakson mobil dari arah halaman. Kakek dan nenek saling berpandangan.


"Apa Irene datang hari ini?" tanya Nenek heran.


"Seharusnya tidak," ucap Kakek.


Keduanya merasa penasaran. Mereka meninggalkan aktivitas sejenak dan berjalan menuju ke arah depan rumah.


Di sana sudah berjajar beberapa mobil mewah dengan rapi. Setiap pintu mobil terbuka dan orang-orang berpakaian formal warna hitam keluar dari dalam mobil. Satu yang paling mencolok dari mereka adalah Hamish.


Kakek dan nenek terlihat muram mendapatkan kunjungan dari salah satu cucunya itu.


"Halo, Kakek, Nenek, pasti kalian tidak suka dengan kedatanganku, kan? Tapi, tetap saja kita harus bicara."


Tidak ada pilihan bagi kakek dan nenek selain mempersilakan Hamish masuk ke dalam rumah mereka. Para bodyguard yang Hamish bawa tampak menyebar dan berjaga di sekeliling rumah.


"Aku sangat senang melihat Kakek dan Nenek masih sehat. Maafkan cucumu ini yang jarang bisa menjenguk kalian," ucap Hamish.


"Tidak perlu basa-basi, sampaikan saja maksud kedatanganmu ke sini," pinta kakek.


Nenek sampai harus menggenggam tangan suaminya agar tidak lepas emosi menghadapi cucu mereka.


Hamish menghela napas. "Kenapa kalian masih belum bisa memperlakukanku dengan baik? Apa yang selama ini aku lakukan untuk mempertahankan reputasi keluarga Abraham."


Ia selalu merasa kesal dengan respon mereka terhadap dirinya. Apa yang ia lakukan selalu dianggap salah. Padahal, ia hanya ingin membangkitkan kembali keluarga Abraham agar bisa sejaya dulu.

__ADS_1


"Kalau Nenek sendiri hanya bisa menasihati agar kamu hidup sebagai orang biasa saja, Hamish. Lupakan masa lalu dan tatap masa depan. Jadi orang yang tinggi juga tidak enak karena akan banyak yang berusaha menjatuhkan," ujar nenek.


Hamish menyeringai. "Sebelum mereka menjatuhkan, kita bisa menjatuhkan mereka lebih dulu, Nek," bantah Hamish.


"Susah untuk memberitahu anak ini. Dia maunya melakukan segala sesuatu seenak hati," kesal kakek.


"Apa kalian sudah lupa dengan kejadian yang menimpa keluarga kita? Hidupku sudah dihancurkan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab dan aku tidak boleh membalasnya? Kalian ini kakek dan nenek macam apa yang hanya bisa diam melihat keluarganya dihabisi?"


Hamish menjadi sedikit emosi. Setiap kali mengingat saat kedua orang tuanya meninggal, ia tidak terima dan bersumpah akan membalasnya walau bagaimanapun caranya.


"Memang apa gunanya balas dendam? Mereka tidak akan hidup lagi sekalipun kamu menemukan siapa pembunuhnya. Bukankah lebih baik kamu fokus saja pada masa depan? Tidak perlu kamu urusi masalah yang sudah lalu!" tegas kakek.


"Hahaha ...." Hamish tertawa. "Pandangan kita memang selalu berbeda, Kakek. Aku tidak akan tenang sebelum membunuh mereka semua," ucapnya.


"Ah, ya ... Sekedar informasi saja, aku sudah menghabisi saudara nenek yang sempat kabur ke luar negeri. Mereka sangat licik bahkan sampai menjual Zayn ke tangan orang lain."


"Zayn kamu bilang?" tanya Nenek dengan suara yang meninggi saking antusiasnya mendengar nama itu disebut.


Hamish tersenyum. "Sepertinya Nenek masih mengenal nama sepupuku itu."


"Kira-kira apa respon Irene kalau aku ceritakan tentang Zayn yang sebenarnya?" pancing Hamish.


"Kamu jangan macam-macam, Hamish!" bentak kakek.


"Kalian walaupun sayang kepada Irene tapi tetap menyembunyikan sesuatu darinya. Pura-pura punya maksud baik padahal ada rencana terselubung. Jangan keterlaluan pada Irene," kata Hamish.


Raut wajah kakek dan nenek langsung berubah panik.


"Kalian pasti selalu menceritakan keburukan tentangku supaya Irene membenciku. Sayangnya, dia terlalu lugu dan polos untuk membenci seseorang. Dan dia juga bodoh untuk mengartikan kebaikan orang."


"Kamu jangan mengganggu Irene, Hamish! Kalau ingin menempuh jalan yang kelam, cukup dirimu saja yang terlibat, jangan bawa-bawa Irene!" kakek memberi peringatannya pada Hamish.


"Salah satu alasanku hidup seperti ini memang untuk membebaskannya dari beban yang kalian sebenarnya taruh di pundaknya. Aku rela menanggung semuanya. Jadi, kalian yang jangan lagi membebani Irene. Kalau memang tidak bisa melakukan keinginanku, maka akan aku katakan yang sebenarnya kepada Irene!" ancam Hamish.

__ADS_1


Kakek dan nenek tampak tak bisa berkata-kata lagi untuk membantah Hamish.


"Hamish, apa kamu benar-benar sudah menemukan Zayn?" tanya nenek memastikan.


Hamish menyeringai. Terkadang ia merasa benci kepada kakek dan neneknya sendiri. Mereka selalu menilai dirinya sebagai orang yang arogan dan pendendam. Sementara, dirinya juga menilai mereka sebagai orang yang baik tapi penuh kelicikan.


"Aku belum bertemu dengan Zayn secara langsung, Nek. Tapi, aku sudah memegang identitasnya yang sekarang. Namanya sudah berganti menjadi Elios, nenek tenang saja karena dia selama ini hidup nyaman dengan orang tua angkat yang kaya raya. Kalau urusanku sudah beres semua, aku akan membawa Zayn kembali pada kalian," kata Hamish.


Nenek menangis terharu. Setiap malam ia hampir selalu menangisi kematian anak-anaknya juga hilangnya Zayn. Ia selalu berharap agar cucunya itu bisa segera ditemukan.


"Hamish," panggil kakek.


"Ya?"


"Jangan katakan apapun pada Irene," pinta kakek.


"Iya, Hamish. Tolong kamu rahasiakan hal ini dari Irene. Nenek mohon padamu," imbuh nenek.


Hamish terdiam sejenak. "Nanti akan aku pikirkan lagi," ujarnya.


"Hamish," tegur kakek. Ia ingin jawaban yang pasti bahwa Hamish berjanji tak akan mengatakannya.


"Ini tergantung dengan keputusan kalian nantinya. Aku tahu kalian tidak pernah suka kalau aku bilang mau menikah dengan Irene."


"Hamish!" kakek langsung membentak cucu tertuanya.


Hamish terdiam sesaat. "Baru aku bicara sedikit kakek langsung marah, kan?" gerutunya. "Ini juga tidak penting aku utarakan pada kalian. Karena dengan atau tanpa persetujuan kalian, aku tetap akan membawa Irene pergi ke luar negeri dan menikahinya."


Kakek menggenggam tangannya kuat-kuat. "Menikahlah dengan siapa saja asalkan jangan Irene," pinta kakek.


Ia sudah berjanji kepada Kakek Narendra untuk menjodohkan cucu-cucu mereka. Alan dan Irene juga sudah bertunangan dan akan segera menikah. Ia tidak ingin Hamish menghancurkan kebahagiaan yang akan Irene dapatkan.


"Maaf, Kakek. Wanita yang aku inginkan hanya Irene," ucap Hamish.

__ADS_1


"Kamu tahu hidupmu penuh bahaya dan masih berani kamu menyebut ingin membawa Irene bersamamu? Kamu ingin dia mati?"


"Aku tidak akan membiarkannya mati. Aku akan melindunginya sampai aku mati," kata Hamish.


__ADS_2