Wanita Milik 5 Tuan Muda

Wanita Milik 5 Tuan Muda
Bab 217


__ADS_3

Irene masih berkutat di ruang penyimpanan bahan utama milik kantor Alfa yang terletak di bagian belakang butik. Ia mengecek semua jenis bahan yang ada di sana sembari memikirkan desain gaun baru untuk Ruby. Ia tidak mungkin menggunakan desain sebelumnya yang sudah ditiru orang lain. Alfa sangat memohon bantuannya karena ingin fokus pada fashion show nanti.


Irene agak sungkan menolak karena Alfa merupakan adik Alan. Selain itu, hubungan mereka sebelumnya juga sangat baik.


Setelah menemukan kain yang menurutnya cocok, Irene kembali duduk di bangku. Ia kembali berusaha menggambar desain baru.


"Ah! Jelek semua!" gerutunya.


Irene merebahkan kepalanya diatas meja. Entah sudah berapa lembar kertas yang ia r emas-r emas dan membuangnya ke lantai. Ia menghela napas. Otaknya seakan merasa kosong tak bisa digunakan untuk berpikir lagi.


"Masih sibuk?"


Alan memegang bahu Irene seraya mengecup pipi kekasihnya. Kedatangannya cukup mengejutkan Irene sampai ia kembali mengangkat kepalanya.


"Kak Alan ...."


Belum selesai Irene berbicara, bibirnya sudah dipagut mesra oleh lelaki itu. Manisnya kecupan yang diberikan seakan mampu melepaskan kepenatan yang dirasakan tubuhnya. Irene merasa meleleh.


Alan mengangkat tubuh Irene dari atas kursi tanpa melepaskan ciuman mereka. Irene melingkarkan kedua tangannya pada leher Alan agar tak terjatuh.

__ADS_1


Perlahan Alan membaringkan tubuh Irene di atas sofa yang lebih empuk. Ia menindih wanita itu di bawahnya sembari memberikan ciuman yang lebih mendalam. Bahkan lidah mereka saling bertautan hingga memberikan bunyi decapan diselingi dengan lengkuhan-lengkuhan kecil dan hembusan napas.


Irene terus memejamkan matanya. Meskipun takut Alan akan melewati batas, ia tak bisa menyangkal bahwa ciuman itu begitu membuatnya terlena.


Alan melepaskan ciumannya. Ia memandangi wajah wanitanya yang masih berusaha mengatur napas. Ekspresi menggemaskan itu sangat membuatnya tertarik.


"Irene ...," panggil Alan.


"Kenapa, Kak?"


Keduanya saling bertatapan.


Irene menggerakkan matanya ke kanan dan ke kiri. Ia tidak menyangka pertanyaan itu akan muncul dari Alan. Ia sendiri belum yakin akan menikah dengan lelaki itu sungguhan atau tidak. Dengan penampilannya yang seperti itu, Alan sama sekali tak keberatan.


Ia membayangkan harus menyamar sepanjang hari saat mereka telah menikah. Hal yang tidak mungkin ia lalukan. Selama ini ia hanya menyamarkan area wajah, tangan dan kaki. Bagian tubuhnya yang tertutup baju masih memiliki warna asli kulitnya yang putih.


"Memangnya Kak Alan sudah siap menikah?" tanya Irene basa-basi. Entah mengapa ia tiba-tiba takut untuk membahas tentang pernikahan.


"Menurut kamu bagaimana? Usiaku sudah tak muda lagi, Ren. Aku sudah memasuki usia kepala tiga."

__ADS_1


Irene menggigit bibirnya. Alan memang seorang lelaki yang telah dewasa. Usia mereka terpaut cukup jauh, 8 tahun. Irene memang tidak bisa dikatakan sebagai remaja lagi, namun usianya yang baru saja menapaki usia dewasa muda membuatnya tak begitu bisa memutuskan hal sepenting itu dalam hidupnya.


"Kata nenek aku boleh menikah setelah usia 25 tahun, Kak," kilah Irene untuk memberikan alasan.


Alan terlihat menghela napas dalam-dalam. Ia kembali memeluk Irene yang ada di bawahnya. Mendengar ucapan Irene membuatnya lemas.


"Kenapa Nenek mensyaratkan hal semacam itu, Ren? Apa aku kurang baik sampai kakek nenekmu kurang percaya kalau aku akan menjagamu dengan baik?" tanya Alan.


Irene tersenyum kikuk. "Tidak seperti itu, Kak. Mungkin menurut mereka aku baru dianggap dewasa setelah berusia 25 tahun."


Alan kembali memandangi Irene. "Usiamu hampir 22 tahun, kan? Itu usia yang sudah legal untuk menikah. Kalau memang mereka mungkin belum siap melihatmu hamil, mungkin ...."


"Kak Alan ...." Irene sampai melotot mendengar ucapan kekasihnya.


Alan tertawa kecil. "Ya, kalau terlalu lama takutnya aku tidak kuat dan membuatmu hamil. Apa kamu akan menganggapku mesvm?" tanyanya.


Irene menutup telinganya. "Ah! Aku masih kecil, aku tidak mau mendengarnya!" protes Irene.


Alan tertawa melihat tingkah wanitanya. Ia kembali mendaratkan ciuman dengan gemas menyusuri seluruh wajah Irene. "Apa pekerjaanmu masih belum selesai?"

__ADS_1


__ADS_2