
"Oh, Alan, kamu sudah datang?"
Vito menyadari kehadiran putranya. Ia mengangkat tangan memberi kode agar Alan dan Ares mendekat ke arahnya.
Pandangan mata Alan bertemu dengan Alex. Alan menunjukkan ketidaksukaannya, sementara Alex hanya memberikan tatapan pasrahnya.
Alan dan Ares berjalan menghampiri sang ayah. Mereka dipersilakan duduk di dekat sang ayah, sementara anggota rapat yang lain juga sudah berdatangan.
Alan tak mau berkomentar. Ia sangat kecewa dengan keputusan sang ayah yang membawa Alex ke sana.
"Baiklah, karena semua sudah datang, mari kita mulai saja rapat hari ini," kata Vito.
Setelah kepulangan Vito, Alan menyerahkan jabatan tertinggi yang pernah dipegangnya kepada sang ayah. Ia hanya sebagai wakil yang kini kurang bisa berbuat banyak di perusahaan. Semua keputusan tergantung kemauan ayahnya.
Ia pada dasarnya tidak keberatan dengan apapun kebijakan yang diambil ayahnya. Hanya saja, untuk masalah Alex, ia belum bisa menerimanya. Bukan hanya karena Alex yang telah menyebabkan kakek meninggal, tetapi juga Alex telah menggelapkan dana perusahaan.
Bahkan sebelum Alan akhirnya mengambil alih perusahaan, Alex hampir menghancurkan perusahaan itu. Ditambah lagi dengan keserakahan saudara ayahnya yang juga ingin menguasai perusahaan.
__ADS_1
"Terima kasih atas kehadiran kalian semua di sini," kata Vito.
"Seperti yang kalian ketahui, aku memiliki lima orang putra. Namun, hanya ada tiga putraku yang bisa hadir di sini," lanjut Vito.
Suasana sedikit riuh karena banyak di antara pemegang saham yang berbicara sendiri sambil berbisik-bisik. Sama seperti yang dipikirkan Alan, mereka juga keheranan melihat Alex kembali ke perusahaan.
"Aku tahu kalian pasti penasaran kenapa Alex sekarang ada di sini," kata Vito yang seolah mampu membaca pikiran orang-orang.
"Maaf, Pak Vito, bukan saya lancang, Anda tidak begitu paham dengan masalah yang terjadi di perusahaan akibat perbuatan Pak Alex," kata Pak Hartawan yang mewakili orang-orang untuk menyampaikan rasa keberatan mereka.
Vito menyunggingkan senyum. "Aku sudah mempelajari semuanya. Aku tahu dia pernah berbuat salah terhadap perusahaan," jawab Vito.
"Pak Vito, mungkin Anda perlu meminta pendapat Pak Alan. Dia yang paling kesusahan membereskan masalah di perusahaan akibat ulah putra Anda yang lain itu," sahut Pak Hendi.
Alan membuang muka. Sejak tadi ia tak ingin ikut bersuara. Ia sudah terlanjur kecewa dengan keputusan ayahnya tetapi juga tidak mau membantahnya.
Vito hanya sekilas melirik ke arah Alan yang sedang kesal. "Aku tahu itu, Pak Hendi. Keberadaanku di sini sebagai jaminan bahwa putraku Alex, ke depannya tidak akan membuat masalah yang sama. Dia justru akan memperbaiki kondisi perusahaan kita menjadi jauh lebih maju lagi," katanya dengan optimis.
__ADS_1
Alex berdiri dari tempat duduknya. Ia membungkukkan sedikit badannya di hadapan semua orang. "Saya, Alex Narendra meminta maaf atas segala kesalahan di masa lalu. Saya berjanji tidak akan mengulanginya. Saya berjanji akan menebus kesalahan yang terdahulu dengan kerja keras memajukan perusahaan. Mohon berikan sedikit kepercayaan Anda semua kepada saya," kata Alex dengan nada merendah.
Masih terdengar suara-suara yang meragukan keberadaan Alex di sana. Tapi, Vito terlihat sangat yakin dengan keputusannya.
"Aku minta kalian mampu menaruh kepercayaan kepada Alex. Aku bersedia menjadi jaminannya jika ia berani melakukan kesalahan lagi," kata Vito meyakinkan.
Setelah presiden direktur berkata demikian, artinya tak ada lagi yang bisa menolak keputusannya.
"Hari ini aku akan menetapkan jajaran kepemimpinan yang diisi oleh putra-putraku. Alan tetap akan menjadi wakilku. Sementara, Alex akan menempati posisi direktur operasional. Dan Ares akan menjadi direktur pemasaran," kata Vito.
"Hah? Aku?" seru Ares kaget saat namanya disebut. Alan sampai menepuk lengannya karena Ares berbicara kurang sopan di hadapan semua orang.
"Ah, maafkan saya," kata Ares seraya berdiri dan sedikit membungkuk dengan perasaan kikuk bercampur malu. Sejak tadi ia hanya melamun dan kaget saat namanya disebut.
"Putraku Ares sudah menyelesaikan pendidikannya, tinggal menghadapi sidang skripsi saja. Sebentar lagi dia lulus dan bisa bergabung di perusahaan. Aku yakin dia sebagai anak muda mampu memberikan gebrakan baru di bidang pemasaran sehingga pendapatan perusahaan bisa lebih meningkat," kata Vito.
Sebenarnya, Ares juga tidak begitu yakin mampu mengemban tanggung jawab tersebut atau tidak. Dia ikut magang di perusahaan sebatas mengisi jabatan yang biasa dan sekarang tiba-tiba ditunjuk sebagai pimpinan.
__ADS_1
"Direktur keuangan masih sama aku percayakan kepada Ibu Ayudia dan direktur personalia kepada Pak Agung."
Rapat berlangsung dengan tertib dan tenang. Segala keputusan yang Vito ambil tidak mendapat pertentangan dari siapapun. Mereka segera keluar dari ruangan rapat setelah semuanya selesai, kecuali keluarga Narendra.