Wanita Milik 5 Tuan Muda

Wanita Milik 5 Tuan Muda
Bab 125


__ADS_3

Alenta memilah-milah batu yang menurutnya bagus. Bentuk dan warna batu sangat berbeda dengan batu-batu yang sebelumnya ia lihat di luar negeri. Seakan ilmu yang sudah didapatkan dari Alan tidak ada gunanya di sana.


Batu-batu pilihan Alenta semuanya zonk, hanya sekedar batu biasa. Ia sampai manyun saking kesalnya. Sementara, Alan tertawa terpingkal-pingkal melihat kegagalan Alenta.


"Sepertinya Anda lebih cocok sebagai ahli batu, ya, dari pada jadi pengusaha," ucap Alenta.


"Hahaha ... Kalau bisa semua, kenapa tidak? Iya, kan?" kata Alan.


"Kenapa Anda suka sekali berburu batu?"


"Sekedar hobi, itu saja. Kalau mendapatkan batu bernilai jual tinggi, itu hanya bonus saja."


Alan dan Alenta terus berkeliling mengamati bebatuan yang ada. Hawa sejuk pedesaan serta pemandangan yang asri turut membuat mereka betah di sana.


Satu jam berlalu mereka belum juga mendapatkan kejutan dari bebatuan itu. Alan mengajak Alenta makan di warung yang disediakan di sana. Hanya sekedar warung nasi biasa dengan aneka macam gorengan yang menggugah selera.


"Alenta, sebenarnya asalmu dari mana?" tanya Alan.


"Kenapa Anda ingin tahu? Apa Anda tertarik kepada saya?" goda Alenta sembari menikmati makanannya.

__ADS_1


Alan tersenyum mendengar rasa percaya diri Alenta yang tinggi. "Tidak juga. Aku hanya penasaran kamu menguasai bahasa asing dengan sangat baik, bahasa yang jarang orang bisa."


"Itu karena aku suka belajar. Kalau sempat, semua bahasa di dunia bisa aku kuasai," katanya.


"Identitasmu sulit dilacak. Sepertinya kamu bukan orang sembarangan."


Alenta menahan senyum. "Apa Anda kecewa? Sepertinya memang saya sangat menarik di mata Anda sampai mencari tahu sejauh itu."


"Aku hanya mengantisipasi kalau terjadi sesuatu hal yang buruk. Bagaimana caraku menemuimu kalau tidak mengetahui tempat tinggalmu?"


"Itu masalah Anda, Pak Alan. Sampai kapanpun aku tidak akan memberitahu," kata Alenta.


Alan mencermati bebatuan yang menurutnya menarik. Dengan peralatan sederhana ia mengamatinya.


"Coba lihat ini. Apa menurutmu ini bagus?" tanya Alan saat ia menunjukkan ketertarikannya pada sebuah batu.


Alenta memandangi batu itu secara saksama. "Saya tidak tahu, Pak. Saya tidak yakin," ucapnya.


Batu yang Alan pilih terlihat biasa. Bahkan diatasnya ditumbuhi semacam lumut atau jamur. Jauh berbeda dengan bebatuan di luar negeri yang bersih.

__ADS_1


"Aku akan mencoba memilihnya," kata Alan.


Ukuran batu itu tak terlalu besar. Namun, Alan merasa pilihannya kali ini tepat. Ia menyuruh pegawai di sana untuk memisahkan batu itu dari batu-batu lainnya.


"Alan, apa kamu sudah menemukan batu yang kamu inginkan?" tanya Pak Hartawan yang kembali menemui mereka.


"Sudah, Pak. Ini batu yang aku inginkan." Alan memperlihatkan batu yang ingin diketahui sisi dalamnya.


Pak Hartawan tampak terkejut dengan apa yang Alan dapatkan. "Sepertinya matamu memang mata dewa, Alan. Penglihatanmu sangat baik dan sempurna," pujinya.


"Aku yakin isi di dalamnya pasti bagus, kamu tidak akan kecewa, Alan," kata Pak Hartawan lagi.


Alenta mendekat dan berbisik pada Alan. "Bapak itu sepertinya mau membohongi kita ya, Pak?" tanyanya.


Alan hampir tertawa. "Aku rasa tidak. Menurutku ini juga memang batu yang bagus," kata Alan mengiyakan pendapat Pak Hartawan.


Alan memutuskan untuk membeli batu tersebut yang dihargai dengan timbangan per kilogram. Ia menyuruh petugas untuk membelah batu yang didapatkannya itu.


Orang-orang tampak berkumpul karena penasaran melihat proses pembelahan batu itu. Ketika dibelah, batu itu memperlihatkan giok hijau. Mereka seketika terpukau dengan pancaran dari giok itu.

__ADS_1


__ADS_2