
"Saya tidak sehebat itu."
Alan tampak terjebak perbincangan dengan para pengusaha yang merupakan teman bisnis kakek dan ayahnya. Sebenarnya ia hanya ingin menikmati pesta dengan Irene saja. Ternyata, ia memang tidak bisa lepas dari urusan pekerjaan.
Kalau orang yang mengajaknya bicara seumuran, ia akan mudah mengakhiri pembicaraan. Ketika yang berbicara dengannya kumpulan pengusaha senior, ia tidak bisa apa-apa selain ikut bergabung dan mengikuti arus.
Ia melirik sekilas ke arah Irene yang tampaknya tengah gusar. Alan tahu persis wanita itu sedang menahan kebosanannya berdiri di sampingnya sejak tadi.
"Bisa menjaga perusahaan tetap stabil setelah masalah intern yang cukup serius itu suatu hal yang sangat sulit, Alan. Salut kamu bisa melakukannya," puji salah seorang di antara mereka.
"Benar. Kebanyakan perusahaan akan mengalah jika sebagian karyawannya meminta tuntutan. Kamu sangat berani konsisten memecat siapa saja yang tidak loyal terhadap perusahaan."
"Saya hanya membuka kesempatan bagi orang-orang yang memang berniat memajukan perusahaan. Sekaligus mengabulkan keinginan mereka yang menginginkan lepas karena tidak suka dengan gaya kepemimpinan saya. Katanya mereka akan mendirikan perusahaan saingan dan saya sangat menantikannya," kata Alan dengan santai.
"Wah, ini baru pengusaha muda yang revolusioner."
"Anak muda sekarang memang semakin berani mengambil resiko dalam berbisnis. Perhitungannya juga lebih jeli."
"Saya masih harus belajar dengan Anda semua." Alan merendah.
"Kak!" Irene menarik sedikit lengan Alan dan berhasil mencuri perhatian lelaki itu.
"Kenapa?" tanya Alan lirih agar tidak mengganggu perbincangan dengan rekan bisnisnya.
"Aku ke taman dulu, ya! Di sini agak engap," kata Irene.
Alan tak ingin Irene jauh darinya, namun ia akan jadi egois jika memaksa wanita itu tetap berada di sebelahnya.
"Oke, tunggu aku di taman. Jangan membuat ulah!" pesan Alan.
"Oke!" ucap Irene semangat.
__ADS_1
Setelah mendapatkan izin dari Alan, Irene langsung pergi dari sana. Perasaannya terasa sedikit lega akhirnya bisa lepas dari perbincangan kumpulan lelaki tua.
Irene menghela napas saat berhasil memisahkan diri dari orang-orang. Ia memilih keluar menenangkan diri di taman samping. Alan masih sibuk berbicara dengan rekan bisnisnya. Sementara, Irene tidak tahan hanya dia saja di dalam sana.
"Loh, Irene?" sapa seseorang.
Irene menoleh ke arah asal suara. Seorang lelaki berpakaian rapi berjalan menghampirinya. Ia mencoba mengingat-ingat wajah lelaki yang sepertinya tidak asing baginya.
"Pasti lupa, kan? Aku Dewa, kakak tingkatmu," kata lelaki itu.
Irene langsung teringat pada sosok lelaki aneh yang tiba-tiba saja pernah mengutarakan rasa cinta kepadanya. Irene memang tidak terlalu pandai mengingat orang lain. Apalagi gaya rambutnya berbeda dari biasanya.
"Oh, Kak Dewa datang juga ke sini," kata Irene canggung.
Dewa tersenyum lalu meneguk anggur yang ada di dalam gelasnya. "Seharusnya aku yang heran kenapa kamu bisa sampai ada di sini," katanya.
"Ah, iya juga." Irene tersenyum kaku. Ia tidak pernah nyaman dengan orang baru yang tidak begitu dikenalnya. Apalagi orang tersebut sangat sok akrab menurutnya.
Irene menggeleng. "Aku sama sekali tidak memikirkannya," kata Irene.
"Hahaha ... Pasti kamu masih asyik menikmati masa-masa kuliah, ya? Berbeda denganku, jelang semester-semester akhir semakin dipusingkan dengan tugas dan juga topik skripsi. Mahasiswa seangkatanmu pasti hari-hari hanya sibuk memikirkan outfit ke kampus atau tujuan wisata yang enak dikunjungi saat weekend," ejek Dewa.
Irene hanya tersenyum kaku. Ia tidak memikirkan kelanjutan perkuliahan karena dirinya saja sudah memiliki dia gelar sarjana lulusan luar negeri. Ia berkuliah hanya sekedar untuk mengisi waktu. Baginya, kuliah memang bukan hal yang terlalu penting.
"Kalau aku sebenarnya ingin lanjut di kampus luar negeri, di Amerika Serikat," kata Dewa.
"Oh, bagus, Kak! Aku mendukungmu sepenuhnya!" kata Irene dengan semangat. Ia akan sangat senang lelaki itu pergi jauh darinya dan tidak ada lagi yang akan membuatnya tidak nyaman di kampus.
"Hahaha ...." Dewa tertawa dengan respon reflek Irene terhadap pernyataannya. "Tapi, setelah aku pikir-pikir lagi, mungkin lebih baik kalau aku meneruskan kuliah di kampus yang sekarang," katanya dengan senyuman nakal. "Jadi, meskipun aku lulus nanti, masih bisa melihatmu lagi di kampus," lanjutnya.
Irene jadi kesal sendiri mendengar ucapan dan ekspresi yang Dewa berikan padanya.
__ADS_1
"Atau bisa juga aku ulur-ulur waktu saja supaya bisa jadi satu angkatan denganmu. Pasti menyenangkan ya, bisa satu kelas dengan anak pintar sepertimu."
Irene tidak habis pikir dengan orang yang cukup terkenal di kampus itu. Kenapa orang populer seperti Dewa malah dengan gampangnya mengucapkan rasa suka kepada Irene yang saat awal kehadirannya di kampus bahkan tidak disambut dengan baik.
"Bukankah itu hal yang bodoh dan sia-sia?"
Dewa tersenyum mendengar ucapan Irene. "Ya, sepertinya aku memang jadi bodoh karena menyukaimu, Irene. Jadi, apa kamu bisa menerima orang bodoh sepertiku?" tanyanya dengan nada menggoda.
"Maaf, ya. Kak Dewa bukannya sudah pernah bertemu dengan pacarku? Tidak sopan mengatakan cinta pada orang yang sudah punya pacar!" Irene mulai berbicara dengan tegas.
Dewa hanya tersenyum seakan menganggap kata-kata Irene sekedar bualan. "Aku masih belum percaya kalau orang waktu itu adalah pacarmu."
"Itu terserah Kakak saja! Kita sudahi perbincangan kali ini, aku akan menemui pacarku dulu!" kata Irene. "Permisi!" katanya seraya meninggalkan Dewa begitu saja.
Daripada berhubungan dengan orang yang memusingkan kepalanya, Irene memutuskan untuk kembali ke dalam. Ia lihat Alan masih sibuk bersama rekan bisnisnya.
"Mau kemana?"
Belum sempat Irene menghampiri Alan, ia lebih dulu dihentikan Sovia yang membawa kedua temannya. Irene heran malam ini ia bisa bertemu dengan orang-orang yang menyebalkan.
"Jadi dia yang Alan bawa malam ini?" kata salah satu dari mereka dengan nada merendahkan. Wanita itu memandangi penampilan Irene dari atas sampai bawah. Tatapannya jelas sekali ingin mengejek.
"Selera Alan turun jauh, ya! Dari Sovia sampai dapat itik buruk rupa."
"Sovia ... Sovia ... Kok kamu bisa kalah dengan wanita seperti dia."
"Entahlah! Aku juga tidak habis pikir Alan alan mau dengan dia. Mungkin paksaan dari kakeknya," kata Sovia seraya menghela napas.
"Duh, Kakek Narendra memang orangnya aneh! Bisa-bisanya memilihkan jodoh cucunya seperti ini."
"Hanya sebatas ini keberanian kalian?" ledek Irene. "Mumpung Kak Alan ada di sini, katakan hal yang seperti tadi di depannya langsung! Atau kalau kurang puas, aku bisa mengajak kakek bertemu kalian. Katakan saja beban di hati kalian kepada mereka, jangan hanya berani padaku saja!" kata Irene.
__ADS_1
Kedua wanita yang Sovia ajak langsung ciut nyali. Mereka saling bertatapan.