Wanita Milik 5 Tuan Muda

Wanita Milik 5 Tuan Muda
Bab 8: Alan Narendra


__ADS_3

Alan keluar dari kamarnya dengan dandanan


yang sudah rapi. Hari ini, ia akan mengadakan kunjungan ke restorannya yang terletak di pusat kota. Setelah minggu-minggu sebelumnya ia menghabiskan waktu di luar kota, ia kembali berkutat pada pekerjaannya di sana. Langkahnya


terhenti melihat kardigan miliknya tergeletak di depan pintu dalam kondisisudah dibungkus plastik dengan rapi. Alan memungutnya sembari tersenyum. Itu adalah kardigan yang semalam ia pinjamkan kepada hantu cantik yang ditemuinya


di kolam area taman belakang.


“Ternyata hantu ada yang pandai mencuci pakaian juga,” gumamnya. Kardigan miliknya sudah kering, bersih, dan wangi. Ia heran kapan hantu itu punya waktu untuk menaruhnya di sana.


Alan meletakkan bungkusan kardigan itu di meja kamarnya lalu menutup kembali pintu dan berjalan ke arah ruang makan. Seperti biasa, setiap pagi mereka akan makan bersama dengan satu penghuni baru yaitu Irene. Saat sampai di ruang makan, semua adik-adiknya dan Irene sudah berkumpul. Dia datang paling akhir karena agak telat bangun akibat terlalu banyak ngobrol dengan hantu.


“Tumben telat, Kak,” ujar Ares yang biasanya jadi anak paling telat.


“Banyak kerjaan yang harus diselesaikan sampai malam.” Alan duduk di sebelah Ares.


“Hatchi!” Irene menutupkan sapu tangan ke arah hidungnya karena agak flu. Mungkin karena semalam ia terlalu lama di luar dengan pakaian yang basah.


“Kalau sakit cepat ke dokter! Bahaya jika virusnya menyebar, orang satu rumah bisa sakit semua,” gerutu Arvy dengan lirikan tajamnya seperti biasa. Ia memang tidak pernah menyukai Irene dekil.


“Arvy, ini giliranmu menemani Irene. Jadi, kamu yang antar dia ke dokter,” ucap Alex.


“Oh, My God … jangan sekarang, Kak. Aku masih banyak kontrak yang harus diselesaikan. Kalau


aku sakit gara-gara dia, bisa hancur karirku. Ares saja yang satu kampus dengannya.” Arvy menolak perintah kakaknya. Irene dalam kondisi sehat saja dia sudah jijik apalagi melihat Irene dalam kondisi sakit. Ia takut tertular penyakitnya. Orang kampung menurutnya suka membawa penyakit yang aneh-aneh.


“Aku nggak mau!” tegas Ares menolak. Meskipun ia anak bungsu, ia tak mau jadi bahan


kalah-kalahan oleh kakaknya sendiri. “Kemarin aku sudah dapat giliran bareng dia, masa hari ini harus lanjut lagi? Bisa muntah aku!”


“Ares … kalau bicara yang sopan,” tegur Alex.


“Aku juga sudah dapat giliran,” sahut Alfa.


Irene hanya bisa tersenyum kaku mendengar perdebatan mereka. Hampir setiap hari yang diributkan tidak jauh-jauh tentang siapa yang harus menemaninya. Dalam pandangan orang

__ADS_1


lain mungkin dirinya beruntung karena diperebutkan oleh banyak orang ganteng.


Kenyataannya, mereka berebut menolak saking jijik dengan penampilannya yang dekil. Hanya Alex saja yang santai ketika mendapat giliran untuk menemani Irene.


“Bagaimana kalau diganti Kak Alan saja?” usul Arvy.


Alan yang sedang menyuapkan makanan ke mulutnya terpaksa urung. Ia meletakkan kembali sendok di atas piring. Alan kurang suka jika kegiatan makannya terganggu. “Baiklah, nanti


aku yang akan mengantar dia ke dokter dan ke kampus,” jawab Alan. Ia tak mau perdebatan yang panjang.


Arvy merasa lega. Setidaknya minggu ini ia bisa fokus bekerja tanpa dipusingkan dengan jadwal


harus mengantar jemput si buruk rupa itu. baru membayangkannya saja ia sudah merinding. Kalau saja bisa menentang kakeknya, ia pasti akan menolak dengan tegas. Sayangnya, jika ia melawan, karirnya sebagai artis akan dihancurkan oleh kakeknya. Ia tak mau hal itu terjadi.


Selesai sarapan, semua anggota rumah pergi ke tempat kerja masing-masing. Alan mengajak  Irene masuk dalam mobilnya. Sepanjang perjalanan, keduanya saling diam. Sesekali Irene melirik ke arah Alan. Lelaki itu memasang wajah cuek kepadanya. Padahal baru semalam mereka berbincang dengan suasana yang hangat.


“Kamu mau ke dokter dulu?” tiba-tiba Alan membuka suara.


“Tidak perlu. Kita langsung ke kampus saja,” jawab Irene. Bersin-bersinnya juga sudah mulai


Alan melajukan mobilnya langsung ke arah kampus. Suasana di mobil kembali hening dan dingin seperti di kutub utara. Irene jadi tahu jika orang bisa menunjukkan sikap yang berbeda dalam situasi yang berbeda. Padahal, dirinya sebagai Irene jelek dan Hantu Miss A adalah orang yang sama, namun mendapat perlakuan yang berbeda oleh Alan.


“Nanti pulang jam berapa?” tanya Alan setelah Irene turun dari mobilnya.


“Jam tiga sore.”


“Aku akan menjemputmu tepat waktu.”


Irene mengangguk. “Terima kasih sudah mengantarku.” Irene masih berdiri di tempatnya sampai mobil Alan menghilang dari pandangannya.


***


“Siang, Sayang ….”


Seorang wanita cantik masuk ke ruangan Alan dengan santainya. Pakaiannya seksi menampilkan lekuk tubuhnya yang indah dengan dandanan yang tebal. Kehadirannya disambut

__ADS_1


dengan senyuman oleh Alan. Wanita itu mengalungkan tangannya ke belakang leher


Alan seraya memberikan ciuman bibir mesra yang mendalam. Sovia, wanita yang terkadang menyebalkan namun selalu bisa membuat Alan kembali luluh padanya.


“Sudah selesai acara photoshoot di Bali?” Alan masih memeluk pinggang Sovia dengan mesra.


“Sudah. Aku sangat merindukanmu selama satu bulan ini. Kapan kamu ada waktu untuk hang out


bareng?” Sovia merebahkan kepalanya pada dada bidang Alan dengan manja.


“Kamu mau jalan-jalan kemana?” Alan sangat tahu apa yang Sovia inginkan saat wanita itu


menemuinya dan mulai memanja.


“Bagaimana kalau tahun ini kita ke Italia? Aku mau lihat Colosseeum dan Menara Pizza sekalian beli tas baru keluaran brand Gussi.” Sovia berkata dengan nada memanja. Suaranya


yang merdu seakan mampu membuat hati para lelaki meleleh.


“Baiklah, akan aku luangkan waktu minggu depan untukmu. Kita akan berlibur ke tempat yang kamu inginkan.”


Sovia memasang wajah cemberut. “Kenapa harus minggu depan? Aku maunya minggu ini kita ke sana. Kalau menunggu minggu depan, aku yakin urusanmu akan lebih banyak dan mungkin jadwal pemotretanku akan bertambah. Aku sengaja meluangkan waktu minggu ini


agar bisa bermesraan denganmu.” Ia menunjukkan kekecewaannya. Sovia menolak


tawaran iklan dan pemotretan karena ingin segera menemui Alan.


“Minggu ini aku harus menemani tamu yang kakekku minta.”


Raut wajah Sovia bertambah sendu. “Maksudmu wanita yang dijodohkan dengamnu itu, ya? Dia pasti sangat cantik sampai kamu tega mengabaikanku.” Ia mengungkapkan kekecewaannya.


“Aku hanya menjalankan perintah kakekku. Dia yang memegang kendali karir dan keuanganku.


Apa kamu mau memiliki kekasih yang miskin, tidak bisa mengajakmu jalan-jalan ke luar negeri?”


Sovia memang tahu kakek Alan adalah orang yang keras kepala dn sulit untuk didekati. Meskipun ia telah berhasil meluluhkan hati Alan, ia sendiri tidak yakin bisa mendapatkan restu untuk menikah dengan Alan. Sebisa mungkin Sovia harus bisa memanfaatkan Alan sampai ia bisa hidup santai dan foya-foya tanpa harus lelah bekerja.

__ADS_1


*****


__ADS_2