
"Irene ...," seru Adila kegirangan.
Wanita itu langsung berlari menghampiri Irene dan memeluknya. Ia tertegun menerima sambutan dari Adila. Hubungan mereka tak terlalu dekat, namun wanita itu seakan menganggap Irene sebagai orang yang spesial.
"Akhirnya kamu datang!" ucap Adila dengan raut wajah penuh kegembiraan.
Irene tersenyum kikuk.
"Lihat sendiri kan, Ren? Dia terus merengek minta bertemu denganmu. Memangnya apa yang sudah kamu lakukan pada pacarku?" gumam Arvy.
Ia merasa kalah saing dengan Irene. Adila sama sekali tidak mengingatnya, padahal ia lebih lama kenal dibandingkan Irene. Bahkan dulu hubungan Adila dan Irene tak sehangat itu. Adila sempat benci kepada Irene karena tahu Irene akan dijodohkan dengan salah satu putra keluarga Narendra.
Ketika Adila bertemu, wanita itu seolah baru saja berjumpa dengan sahabat yang telah lama tidak berjumpa.
"Irene, ayo ikut aku ke kamar!" ajak Adila. Ia menarik tangan Irene agar ikut dengannya.
"Eh, kamu jangan ikut!" kata Adila saat Arvy berniat membuntuti mereka.
Irene menutup mulutnya takut kelepasan tertawa melihat Arvy tak berdaya ditolak Adila. Ia tahu mereka biasanya sangat mesra tapi justru sekarang seperti bermusuhan.
Adila mengunci pintu kamar. Ia mengajak Irene duduk di alas karpet bulu yang ada di kamarnya.
"Jadi, selama ini kamu menenangkan diri di sini?" tanya Irene.
Adila mengangguk. "Aku masih tidak bisa mengingat semuanya. Kepalaku sakit kalau ada ingatan yang masuk, apalagi kalau di rumah."
__ADS_1
"Kamu juga masih belum ingat Arvy?" tanya Irene memastikan.
Adila mengangkat kedua bahunya. "Entahlah! Kadang sekilas aku ingat wajahnya. Tapi, tidak tahu juga rasanya aku sangat membencinya. Apa benar kalau kami itu pacaran?"
Sebenarnya Irene sangat ingin mengerjai wanita yang tidak tahu apa-apa itu. Ia suka melihat Adila marah-marah pada Arvy. Tapi, ia sadar bahwa menggunakan orang sakit untuk bahan candaan sangat tidak bermoral.
"Iya, kalian sudah lama pacaran diam-diam," jawab Irene.
"Hah ... Heran aku bisa suka dengan lelaki seperti dia," ujar Adila dengan raut wajah cemberut.
Irene kembali menahan tawanya.
"Oh, iya. Selama aku di sini, aku suka sekali memutar lagi Hyena."
Adila berjalan mendekati alat pemutar musik yang ada di ruangannya. Ia menyalakan lagu Hyena yang menjadi favoritnya.
Irene hanya mengangguk sembari tersenyum kaku. Ia tidak menyangka jika ternyata lagunya yang akan diputar oleh Adila. Bahkan ia sudah melupakan identitasnya sebagai Hyena. Terakhir kali ia muncul di internet hanya untuk memberi dukungan pada Arvy.
"Apa menurutmu aku aneh? Aku langsung suka lagu ini saat mendengarnya. Bahkan aku merasa tidak asing dengan lagu ini."
"Kamu memang sangat menyukai lagu itu. Sama seperti Kak Arvy," kata Irene.
"Sayangnya Hyena sudah pensiun," sahut Arvy yang ternyata sudah berdiri di ambang pintu. Arvy membuka pintu kamar itu dengan kunci cadangan.
"Kamu ... Aku kan sudah bilang kamu tidak boleh masuk!" omel Adila.
__ADS_1
Irene berusaha menenangkan Adila. "Biarkan saja, dia juga fans berat Hyena," ucapnya.
"Salah satu lagu yang aku nyanyikan juga sebagian liriknya ditulis oleh Hyena. Kalau kamu mendengarnya, kamu juga pasti akan suka."
Arvy berjalan mendekat ke arah Adila. Ia memberikan album lagu barunya yang dibuat kolaborasi dengan Hyena. Adila mengambil album itu dengan kasar dari tangan Arvy.
"Simpan itu baik-baik ya, Sayang. Soalnya ada tanda tangan Hyena di disitu," kata Arvy.
Ia mendapatkan tanda tangan itu dengan susah payah memohon kepada Ron yang punya akses bertemu dengan Hyena. Namun, Adila hanya membalas perkataannya dengan menjulurkan lidah.
"Wah, ini gitarmu?" tanya Irene antusias saat melihat sebuah gitar tergeletak di sudut ruangan.
Ia mengambil gitar tersebut dan memegangnya sambil duduk. Irene mulai menjentikkan jarinya di atas senar gitar sehingga menghasilkan melodi yang merdu. Sembari bermain gitar, ia bernyanyi di hadapan Arvy dan Adila dengan fokus.
Baik Adila dan Arvy sama-sama tercengang. Mereka tidak menyangka Irene bisa lincah bermain gitar. Suaranya saat bernyanyi juga terdengar merdu dan lembut. Mereka sampai bertepuk tangan saat Irene selesai bernyanyi.
"Hebat, ya ... Suaramu lembut seperti Hyena," puji Arvy.
Irene tersenyum lebar. Ia sampai lupa diri saat memegang gitar dan akhirnya ada yang mendengar suaranya.
"Benar, Irene ... Suara kamu bagus! Hampir mirip dengan Hyena!" sambung Adila.
"Terima kasih, ya! Aku anggap itu pujian."
"Kamu juga suka dengan Hyena?" tanya Adila.
__ADS_1
"Tentu saja. Tentu aku sangat menyukainya."