
"Saya setuju dengan Winda. Irene tidak mungkin pencurinya. Dia juga selama istirahat bersama saya membahas soal bersama." Hansen turut berbicara membela Irene. Irene yang ia tahu selama beberapa hari di pelatihan, bukan tipe orang yang mau mencuri milik orang lain. Irene orang yang cerdas, seandainya ia ingin mencuri, tidak mungkin sebodoh itu menyembunyikannya di dalam tas.
Sementara Irene ditahan di ruangan tersebut sebagai terduga pelaku. Orang-orang yang tidak terlibat diizinkan keluar dari ruangan. Jeha telah memanggil polisi untuk melakukan penyelidikan.
"Kenapa masih diusut, sih? Bukankah yang penting jam tanganmu sudah kembali?" ucap Winda dengan nada setengah berbisik kepada Jeha.
"Aku sebenarnya tidak masalah karena benda ini bisa ditemukan. Tapi, kasihan Irene bakalan dituduh sebagai pencuri. Aku yakin bukan dia pelakunya. Setidaknya dengan penyelidikan ini bisa membersihkan namanya," balas Jeha. Mereka melirik ke arah Irene yang sedang bersama Hansen.
"Kamu tenang saja, pelaku sebenarnya pasti akan ketahuan." Hansen berusaha membesarkan hati Irene. Mereka berasal dari kampus yang sama dan sudah sewajarnya saling support.
"Aku sangat heran ada orang yang tidak ada kapok-kapoknya mencari masalah denganku. Sebenarnya aku salah apa padanya? Kamu tahu kan yang aku maksud?"
Hansen mengangguk. Ia sudah mencurigai seseorang dari awal. Orang yang tampak tenang dan sengaja menghindari keramaian padahal biasanya orang itu selalu maju yang pertama untuk cari perhatian. Apalagi selama karantina, ia terlihat tidak menyukai Irene dan berusaha menjatuhkannya. "Apa kamu mau dia masuk penjara?" tanyanya.
"Sebenarnya tidak. Aku hanya ingin dia sadar dan mengakui perbuatannya. Apa yang dia lakukan kemarin juga belum meminta maaf malah kabur dari kamar."
"Tadi dia juga yang pergi paling cepat dari ruangan ini," ucap Hansen.
Keduanya mencurigai Meera. Orang itu yang paling besar punya kemungkinan ingin menjatuhkan Irene. Meskipun kasus postingan kemarin berlalu begitu saja tanpa pengakuannya bahwa itu adalah akun miliknya, namun mereka sudah menebak kalau pelakunya pasti Meera.
Hansen menoleh ke arah Irene, memperhatikannya dengan fokus. Semakin ia memandanginya, semakin ia yakin bahwa debar-debar yang ia alami adalah perasaan suka. Perasaan yang sampai membuatnya ingin membantu dan melindunginya. Namun, ia masih bertanya-tanya apakah memang benar Irene memiliki kedekatan dengan presdir Narendra Grup seperti yang dirumorkan. Tidak mungkin hanya karena magang di perusahaannya seorang presdir sampai jauh-jauh mengunjungi Irene di tempat karantina. Jika memang hal itu benar, ia merasa akan sulit mendekati Irene. Saingannya tidak main-main, seorang pengusaha ternama.
Hansen memberanikan diri menggandeng tangan Irene. Membuat wanita itu terkejut dan menatap ke arahnya.
"Kamu coba bilang dulu kepada Jeha, katakan kalau kamu bukan pelakunya. Sejak tadi kalian belum bicara," ucapnya.
__ADS_1
"Iya, kamu benar." Hubungannya jadi canggung dengan mereka hanya karena masalah itu. Ia merasa harus meluruskan permasalah tersebut dan berbaikan dengan mereka.
Hansen menarik tangan Irene agar mengikutinya menghampiri Jeha dan Winda. Mereka biasa terlihat selalu bersama, namun hari ini seperti orang yang sedang bermusuhan.
"Jeha, bukan aku yang mengambil jam tanganmu," ucap Irene.
"Iya, kita lihat saja nanti hasil penyelidikannya, Irene. Aku juga tidak sedang menuduhmu."
Perkataan Jeha seakan menunjukkan bahwa dia tidak percaya dengan ucapannya. Irene menoleh ke arah Hansen, lelaki itu memberi kode agar ia sabar dan menunggu.
"Kami sudah mendapatkan beberapa sidik jari yang tertinggal di jam tangan ini. Perlu kami bawa ke lab untuk mengidentifikasi siapa pemilik sidik jari yang ada di sini." Polisi tersebut mengangkat jam tangan yang telah dimasukkan ke dalam kantong plastik sebagai barang bukti.
"Saya sudah tahu siapa kira-kira yang menjadi pelakunya, Pak. Pasti orangnya yang paling gelisah saat ini." Hansen kembali menyuarakan pendapatnya dengan berani di hadapan polisi.
"Itu akan memakan waktu dan merepotkan, Pak. Hari ini pelakunya bisa tertangkap, kok," ucapnya dengan penuh percaya diri.
Polisi keheranan dengan anak muda yang begitu berani berpendapat seolah lebih pintar dari mereka. "Oh, iya? Apa kamu bisa menjamin hal tersebut? Bagaimana kalau tebakanmu salah? Kamu bisa terkena tuduhan memperlambat kinerja kepolisian."
"Saya ingin mempercepatnya saja agar kalian tidak terus menerus menuduh teman saya bersalah."
Polisi tersebut melirik ke arah Irene dengan pandangan meremehkan. "Dia pacarmu ya, sampai ingin kamu bela habis-habisan." Polisi tersebut terkekeh. Ia merasa sedang ada cinta-cintaan anak muda di hadapannya.
"Tidak perlu punya hubungan seperti itu, Pak. Karena kami teman dari satu kampus yang sama, saya juga tahu baik tentang dirinya jadi saya yakin bukan Irene pelakunya. Teman saya terlalu pintar untuk kasus pencurian seceroboh ini. Berikan kami waktu untuk membuktikannya."
"Kamu jangan sombong! Biarkan kami mrlakukan tugas sesuai prosedur." Polisi tersebut tetap ngotot tidak mau mengizinman Hansen melakukan idenya.
__ADS_1
"Biarkan dia melakukannya, Pak. Kita beri mereka waktu untuk membuktikannya," ucap Jeha.
***
Meera buru-buru pergi meninggalkan ruang kelas. Ia tidak mau terlibat dalam permasalahan yang ada di kelasnya apalagi Jeha sampai memanggil polisi. Ia tidak habis pikir masalah sesederhana itu akan melibatkan pihak kepolisian.
"Kenapa orang-orang jadi sok repot," gerutunya.
Meera menghentikan mobilnya di tepi jalan. Perasaannya menjadi semakin kacau melebihi kasus postingan yang sebelumnya membuat gempar. Ia rasa tak akan ada orang yang bisa membelanya kali ini. Saat pikirannya kalut, hanya satu nama yang terbersit dalam pikirannya. Ayahnya. Hanya ayahnya yang akan bisa membelanya denvan sepenuh hati.
Ia mengambil ponselnya, berusaha menghubungi sang ayah.
"Halo?" terdengar suara dari ujung telepon.
"Ayah ... tolong aku ...." Ia merajuk sambil menangis menceritakan apa yang terjadi padanya. Meera yang merupakan anak kesayangan, tidak disalahkan oleh ayahnya.
"Sudah, tidak perlu takut. Kamu kembali saja ke tempat pelatihan. Nanti ayah yang akan mengurusmu jika ada polisi yang berani menyentuhmu."
Meera tersenyum lebar mendengar dukungan dari sang ayah. "Bagaimana kalau mereka membuka rekaman CCTV ruang kelas? Aku bakal ketahuan, ayah ...."
"Pergi ke ruang keamanan, sebutkan nama ayah atau suruh penjaganya meneleponku. Ayah akan meminta mereka memberikan rekamannya padamu."
"Yeay! Makasih, ayah ... " Meera merasa lega. Ia mematikan teleponnya dan bersiap kembali ke asrama.
Sesampainya di tempat pelatihan, Meera mendengarkan beberapa orang yang sedang membahas tentang kasus pencurian jam tangan milik Jeha. Katanya, polisi hendak mengecek rekaman CCTV yang terpasang di beberapa titik. Secepat kilat Meera berlari menuju tempat keamanan yang diberitahu oleh ayahnya. Dia harus sampai di sana lebih dulu sebelum yang lain. Sesampainya di sana, ternyata sudah ada Irene yang berdiri di depan pintu menunggunya.
__ADS_1