
"Kamu pandai membuat wajah orang terlihat menarik dengan make up. Kenapa kamu tidak menggunakannya untuk dirimu sendiri?" tanya Arvy.
Irene tertegun sejenak. "Kamu sedang menyindirku, ya? Bilang saja kalau kamu ingin bicara bahwa aku jelek." Irene berbicara dengan nada nyinyir.
"Hahaha ... tanpa aku harus bilang, seharusnya kamu juga sudah sadar diri."
Irene memanyunkan bibirnya kesal. "Seseorang bilang bahwa cantik itu relatif. Bisa jadi aku di mata orang lain terlihat jelek, tapi di mata seseorang aku terlihat cantik."
"Ya, tepat sekali! Kamu cantik di mata orang buta." Arvy mengejek Irene. Irene yang tidak terima memukul lengannya.
"Berani menghinaku lagi, aku hapus make up kamu dan aku bilang ke semua orang kalau ada Arvy di sini!" Irene mengancam Arvy dengan tatapan tajam matanya.
"Wah wah ... main ancam segala ... ampun ...." Arvy menangkupkan kedua telapak tangannya di dada seraya meminta maaf.
"Kamu mau naik yang mana dulu?" tanya Irene. Ia sendiri bingung setelah masuk ke dalam taman hiburan. Ada banyak wahana yang sepertinya menarik untuk dicoba.
"Memangnya kamu bisa naik yang mana saja? Tidak menyesal kalau aku pilih wahana yang sedikit ekstrem?" Arvy agak meragukan Irene. Wajah kampungannya jelas sekali kalau dia baru pertama kali main ke taman hiburan. Wanita seperti dia pasti akan mabuk kalau diajak naik wahana menyeramkan.
"Tidak apa-apa, aku orangnya kuat main apa saja."
"Baiklah, pertama kita naik kora-kora."
Seperti yang Arvy katakan, keduanya langsung menuju ke wahana Kora-kora. Antrean di sana tak terlalu panjang sehingga tak butuh waktu lama mereka dapat giliran naik.
Mereka mendapat tempat paling ujung, tempat paling menyeramkan di wahana itu. Saat perahu mulai berayun, keduanya sama-sama tersenyum. Permainan yang memacu adrenalin terkadang memang menyenangkan. Beban hidup serasa ikut hilang saat berteriak-teriak di ketinggian dengan kecepatan ayunan yang cukup kencang.
Arvy tak menyangka jika Irene akan menyukai wahana itu. Ia memiliki teman sefrekuensi bermain di wahana pemicu adrenalin. Bahkan, Adila, wanita yang sedang dekat dengannya juga tidak berani jika ia ajak naik wahana-wahana yang menyeramkan.
__ADS_1
"Apa pemanasannya cukup?" tanya Irene dengan senyum mengembang. Wanita itu seakan tidak ada takutnya dari wahana kora-kora. Padahal, Arvy sendiri kakinya agak gemetar saat turun.
"Oke, bagaimana kalau selanjutnya kita naik roller coaster?" ajak Arvy. Irene hanya menyetujuinya. Mereka kembali mengantre di wahana yang diinginkan.
Arvy dan Irene mendapat tempat duduk paling depan. Sebelum kereta berjalan, mereka saling berpandangan dan tersenyum, seolah ingin mengadu siapa yang lebih jago di antara mereka berdua.
"Aaa ...." teriak mereka kencang ketika kereta melaju dengan kecepatan tinggi. Roer coaster membawa keduanya menelusuri jalanan rel yang berliku-liku serta miring dengan cepat. Teriakan dan tawa tak henti-henti keluar dari mulut mereka berdua. Saat kembali turun, mereka memegangi lutut yang gemetaran. Dalam kondisi seperti itu, mereka masih bisa tertawa-tawa bahagia.
"Mau coba naik wahana Histeria?" kali ini Irene yang memberikan ajakan.
"Oke!" Arvy tentu saja tak mau kalah. Ia akan malu kalau takut naik wahana seperti itu.
Antrean wahana Histeria juga tak terlalu banyak. Mungkin karena terlalu menyeramkan, wahana itu sepi peminat. Arvy dan Irene duduk bersebelahan. Seorang petugas mengecek sabuk pengaman setiap penumpang dengan teliti. Wahana berbahaya itu perlu pengecekan sungguh-sungguh untuk mengantisipasi hal buruk yang bisa terjadi.
Pernah ada kenadian di suatu taman hiburan dimana seorang pengunjung jatuh dari ketinggian karena sabuk pengaman yang tak terpasang dengan benar. Jangan sampai niat untuk menyenangkan diri berakhir dengan hilangnya nyawa.
"Hah! Hah! Hah! Apa kamu masih kuat?" tanya Arvy sembari memegangi dadanya. Napas rasanya sudah hilang. Seluruh badannya gemetar. Naik wahana itu seperti simulasi kematian. Menurutnya itu yang paling menakutkan.
"Hah! Yang tadi lumayan!" Irene duduk di tanah sembari meluruskan kakinya. Ia berusaha mengatur napas. Tadi ia sempat oleng, mau jatuh saat berjalan.
Dua orang yang sebenarnya sudah cukup ketakutan itu masih ngeyel untuk mencoba wahana lain. "Bagaimana kalau sekarang naim ayunan?" usul Arvy.
"Ayo!"
Irene kembali berdiri. Ia berjalan mengikuti Arvy menuju wahana ayunan. Seperti ayunan biasa, namun sangat tinggi. Wahana kali ini tidak semenyeramkan wahana sebelumnya. Hanya saja, bagi yang phobia ketinggian, wahana seperti itu pasti tetap menakutkan.
Dari wahana ayunan, mereka berpindah ke rumah hantu. Arvy kira Irene akan takut saat ia ajak masuk ke dalam. Ternyata, mereka berdua sama-sama tidak takut. Mereka seperti hanya numpang lewat saja masuk ke sana. Padahal pengunjung lain sibuk teriak-teriak setiap ada hantu yang muncul. Saat mereka yang lewat, hantunya malah dikacangin. Mereka tidak kaget sama sekali.
__ADS_1
"Kamu tidak takut tadi?" tanya Arvy saat mereka baru saja keluar dari wahana rumah hantu.
"Kenapa harus takut? Mereka manusia yang diberi make up seperti hantu. Apa bedanya denganmu?" jawab Irene datar.
Arvy tercengang, "Kamu sedang menyamakan aku dengan hantu?" Irene sepertinya memang mengajak ribut dengannya.
"Tidak ... aku bilang kamu hanya sama dengannya, sama-sama pakai make up."
"Aku kira kamu sedang mengejekku."
"Tidak." Irene membuang muka seraya tersenyum. Ia memang mau bilang kalau mereka sama-sama seperti setan. "Ah, iya. Kita mau kemana lagi?"
"Bagaimana kalau ke wahana 4 dimensi?"
"Oke!"
Kali ini mereka masuk ke ruangan seperti bioskop yang akan menayangkan film 4 dimensi. Mereka dibekali kacamata khusus agar bisa lebih menikmati film yang disajikan. Kursi yang disediakan juga bisa bergerak mengikuti jalannya cerita, sehingga penonton seakan-akan merasakan sensasi masuk ke dalam film dan menjadi tokoh utama cerita.
Melewati wahana 4 dimensi cukup menghibur dan menyenangkan. Raga mereka diistirahatkan setelah lelah bermainndi wahana yang ekstrem. Untung saja keduanya tidak sampai tertidur saking enaknya duduk di kursi empuk yang bisa goyang-goyang.
"Terima kasih, ya. Kamu membuat liburanku terasa menyenangkan." Arvy memberikan satu es krim cone kepada Irene.
Irene menerimanya dengan tersenyum. "Tumben bisa berterima kasih padaku."
"Yah, walaupun kamu jelek, ternyata cukup menyenangkan juga bermain denganmu. Apalagi berkat kamu aku bisa bermain sepuasnya di taman hiburan twnpa kekhawatiran apapun."
"Hari ini kita berteman, tidak tahu besok. Soalnya kamu jelek dan tidak pantas jadi temanku, apalagi calon istriku." Arvy menjulurkan lidah mengejek Irene.
__ADS_1