
Suasana haru menyelimuti kediaman keluarga Narendra. Relasi bisnis yang memiliki hubungan dekat dengan keluarga mereka turut menghadiri persemayaman kakek. Mereka seolah kompak mengenakan pakaian berwarna gelap sebagai tanda turut berduka.
"Res, Kak Alan dimana, ya?" tanya Irene dengan kondisi mata yang masih sembab.
Ia duduk bersama Ares menjauh dari kerumunan orang-orang. Sementara, Alfa dan Arvy yang menerima kehadiran tamu yang datang melayat.
Acara persemayaman dilakukan secara tertutup, hanya kalangan tertentu yang diperkenankan hadir. Bahkan pihak media tidak diperbolehkan sama sekali meliput berita tentang hal tersebut.
"Aku tidak tahu. Dia bilang mau pergi sebentar," jawab Ares.
Irene merasa cemas. Alan orang yang paling terpuruk karena kematian kakek. Di acara sepenting ini, Alan tiba-tiba menghilang.
Tak berapa lama berselang, para tamu seperti dikejutkan oleh sesuatu. Melihat hal tersebut, Ares dan Irene penasaran ingin tahu. Keduanya beranjak untuk melihat apa yang terjadi.
Tampak dari arah pintu sekelompok polisi memasuki ruangan membawa Alex bersama mereka. Orang-orang mulai berbisik-bisik melihat kedatangan Alex.
Ares merasa emosinya tersulut. Ia maju menghampiri Alex. "Untuk apa kamu datang? Puas sekarang melihat Kakek meninggal?" makinya.
Alex tertunduk di hadapan peti mati kakek. Ia mengusap buliran air mata yang tiba-tiba mengalir dari sudut matanya.
Ares hampir maju menghajar Alex namun ditahan oleh Alan dan Irene. "Pergi dari sini! Dasar pembunuh!" Ares kembali mengeluarkan kata-kata umpatannya. Ia berusaha keras melepaskan cekalan Alan dan Irene hingga akhirnya bisa mencengkeram kerah kemeja Alex.
"Masih punya muka kamu ada di sini, Hah! Berlutu! Minta maaf pada Kakek!" Ares meluapkan emosinya. Ia menatap nyalang pada kakak keduanya.
Melihat Alex tetap bergeming, Ares menendang Alex hingga jatuh berlutut di atas lantai.
Alex menangis. Ia melakukan sujud tiga kali di hadapan peti mati sang kakek sebagai penghormatan terakhir. Ia sangat bersedih dengan kematian kakeknya.
Alan menarik kembali adik bungsunya agar tidak terlalu emosi. Ares menangis dan memeluk kakaknya.
__ADS_1
Setelah melakukan penghormatan terakhir, Alex dibawa kembali oleh pihak kepolisian. Ia hanya tertunduk malu menjadi bahan perbincangan para tamu yang datang.
"Kak Alex!" seru Irene. Ia membuntuti Alex dan para polisi keluar dari rumah.
Alex menghentikan langkah dan menoleh ke belakang. Dipandanginya Irene yang ada di hadapannya.
Irene menitihkan air mata sembari memandangi Alex. Rasanya masih belum bisa dipercaya jika lelaki itu yang menjadi penyebab kematian kakek.
"Bertanggungjawablah, Kak! Dan berhenti menjadi orang yang jahat," ucap Irene.
Alex memaksakan senyum sembari menahan isakannya. Ia menganggukan kepala. "Maafkan aku, Irene," katanya.
Polisi kembali mengajak Alex kembali ke mobil. Irene hanya bisa memandangi mobil yang membawa Alex berlahan menjauh. Ia sangat sedih salah satu tuan muda keluarga narendra harus terpisah dari lainnya.
Irene kembali memasuki ruang duka. Dilihatnya keempat tuan muda keluarga Narendra tengah berdiri bersama menatap peti mati kakek yang kembali ditutup. Beberapa orang mengangkatnya untuk dipindahkan ke dalam mobil. Jenazah kakek akan disemayamkan di pemakaman keluarga berdampingan dengan makam orang tua Alan.
***
Sejak kakek meninggal, Alan terlihat semakin sibuk dan lebih pendiam. Irene merasa Alan tak lagi seramah biasanya. Bahkan mereka jarang saling menyapa.
"Aku rasa Kak Alan akhir-akhir ini jadi jarang makan. Mungkin karena terlalu sibuk mengurusi kerjaan di kantor," kata Ares yang tengah menyetir mobil bersama Irene menuju kampus.
Irene tidak bisa berbuat apa-apa. Suasana duka memang masih terasa setelah 7 hari kematian kakek. Ia sudah berusaha mengajak Alan bicara, namun seakan lelaki itu enggan untuk berbicara dengan siapapun.
"Besok sudah malam natal, ya?" gumam Irene sembari melayangkan pandangan ke arah kaca jendela.
"Ah, kamu benar juga," kata Ares. "Di rumah kita bahkan belum ada pohon natal yang terpasang padahal besok sudah masuk malam natal."
Pemakaman kakek membuat orang di rumah fokus mengurusi duka. Mereka tidak sempat berpikir bahwa sebentar lagi akan datang perayaan natal.
__ADS_1
"Seharusnya salju sudah mulai turun. Ini akan menjadi natal pertama tanpa salju," kata Irene.
Ares tertawa kecil mendengar ucapan Irene yang aneh dan mengagetkannya. "Kamu kira ini di Eropa? Mana ada salju di negara kita? Aneh-aneh saja."
Irene tersadar dari lamunannya. Ia lupa jika sekarang kehidupannya telah berbeda. Biasanya ia selalu merayakan natal bersama keluarga ayah angkatnya di luar negeri. Natal kali ini sangat berbeda. Apalagi ditambah dengan kehilangan seorang kakek yang disayanginya.
Setibanya di kampus, semua orang tengah membahas tentang drama series yang dibintangi oleh Jeha yang akan segera tayang. Tiba-riba Jeha menjadi sangat terkenal di kampus.
"Ren, sudah tahu kan, kalau drama Jeha sebentar lagi akan tayang?" tanya Winda.
"Ya, aku tahu." Irene hanya sekedar mendengar beritanya sekilas. Kematian kakek masih menyisakan duka yang membuatnya malas melakukan banyak hal.
"Bagaimana kalau kita beri kejutan padanya? Aku dengar dia akan menghadiri gala premier di mall XXX. Dia pasti senang," ucap Winda dengan semangat.
"Ya, ayo kita lakukan," ucap Irene.
"Kata teman-teman yang lain, akting Jeha bagus banget walaupun hanya sebagai pemeran figuran. Aku ikut bangga menjadi temannya," kata Winda. Ia tak membayangkan kalau dirinya akan punya seorang teman yang jadi artis.
Irene juga turut bangga dengan pencapaian Jeha selama ini. Ia yang pernah menemani Jeha dari tahap audisi, susah payah perjuangannya sampai akhirnya mendapatkan peran yang kini cukup menarik perhatian bagi banyak orang. Padahal, yang ditampilkan baru sebatas teaser-nya saja. Namun, ada yang sudah melihat pemutaran perdana dramanya dan mengatakan bahwa Jeha melakukan akting dengan baik.
"Oh, iya. Malam natal besok kamu ada acara nggak?" tanya Irene.
"Memangnya ada apa?"
"Aku mau mengajakmu jalan," kata Irene.
"Ah, sayang sekali. Aku sudah ada janji dengan orang lain, Ren. Sori, ya!" ucap Winda dengan raut merasa bersalah.
"Ya sudah, tidak apa-apa. Aku agak bosan saja dan bingung mau apa di malam natal nanti."
__ADS_1